Kisah Kang Moeslim, Menjelang Detik-detik Gus Dur Jatuh

1317

Lebahmaster.com – Usai pemilu 1999, yang dianggap sebagai tonggak sejarah demokrasi Indonesia, bangsa Indonesia kembali mendapatkan pemimpin baru. Pemimpin baru itu adalah KH Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. Keduanya jadi Presiden dan Wakil Presiden lewat pemilihan di MPR.

Kisah Kang Moeslim, Menjelang Detik-detik Gus Dur Jatuh

Ketika itu, pemilihan belum dilakukan secara langsung. Pemilihan masih menggunakan sistem pemilihan di MPR. Karena itu dulu Presiden statusnya adalah mandataris MPR. Alias orang yang dapat mandat dari MPR. Amien Rais yang jadi Ketua MPR waktu itu.

Namun, usia pemerintahan di bawah Gus Dur -demikian panggilan akrab KH Abdurrahman Wahid- tak panjang. Gus Dur dilengserkan lewat sidang istimewa MPR yang digelar khusus untuk meminta pertanggungjawaban sang Presiden. Gus Dur dianggap terlibat dalam kasus Bulogate dan bantuan dari Sultan Brunei yang menguap.

Saat dua kasus itu mencuat, desakan agar Gus Dur mundur disuarakan kencang oleh kalangan parlemen. Tapi Gus Dur bergeming. Bahkan melawan. Gus Dur menyebut DPR tak lebih seperti taman kanak-kanak. Tak pelak pernyataan Gus Dur itu, kian membuat marah orang-orang di DPR.

Desakan agar Gus Dur lengser kian kuat. Mereka kian menggertak Gus Dur. Gus Dur tak mau kalah, balas menggertaknya. Sampai kemudian muncul ancaman pembubaran parlemen lewat sebuah dekrit. Dan, ancaman itu benar-benar direalisasikan Gus Dur. Dekrit keluar.

Sayang, dekrit itu tak dapat dukungan, terutama dari kalangan tentara. Banyak jenderal yang setuju. Bahkan pembantunya pun di kabinet, tak setuju. Jenderal Agum Gumelar, Menkopolhukam saat itu coba membujuk Gus Dur, agar tak mengeluarkan dekrit. Tapi tak mempan. Bujukan Agum diabaikan Gus Dur. Sang Kyai, tetap mengeluarkan dekrit.

Tak berapa lama, MPR pun menggelar sidang istimewanya. Lewat sebuah keputusannya, MPR akhirnya memberhentikan mantan Ketua Umum PBNU itu dari jabatannya sebagai Presiden. Mandatnya dicabut. Megawati kemudian ditetapkan sebagai penggantinya.

Moeslim Abdurrahman atau biasa disapa Kang Moeslim, punya cerita tersendiri tentang seputar pelengseran Gus Dur. Seperti diketahui, Kang Moeslim cukup dekat dengan Gus Dur.

Dalam sebuah acara memperingati wafatnya Gus Dur, Kang Moeslim pernah bercerita. Kata dia, suatu ketika ia dipanggil Gus Dur ke Istana Negara. Ia diajak makan siang. Saat itu jelang-jelang Gus Dur lengser.

 

” Gus Dur tanya ada apa diluar. Saya jawab, ya enggak ada apa-apa,” kata Kang Moeslim mengenang kembali pertemuannya dengan Gus Dur di Istana Negara.

Tapi Kang Moeslim mengaku, ketika itu ia kemudian mengatakan, bahwa ada yang harus diwaspadai. Ia pun bercerita kepada Gus Dur, dapat laporan bahwa ada rapat di Hotel Sahid yang dihadiri oleh elit-elit politik. Kang Moeslim menyebut salah satunya adalah Kwik Kian Gie. Dalam rapat itu disusun formasi kabinet. Mendengar laporan itu, Gus Dur hanya menanggapi dengan biasa.

“Oh gitu yah, kata Gus Dur,” ujar Kang Moeslim.

Tidak hanya itu, kata Kang Moeslim, di pertemuan sembari makan siang itu, ia juga melaporkan tentang pertemuan para Pangdam di Sumedang.

“Saya bilang ada Pangdam-Pangdam kumpul di Sumedang, mau bikin surat ke Presiden,” kata Kang Moeslim.

Mendengar itu Gus Dur bereaksi. Gus Dur bertanya, apa maksud dan tujuan dari pertemuan para perwira TNI itu. Kang Moeslim pun mengaku ketika itu memberikan pandangannya. Kata dia, dua pertemuan itu mengarah ke makar. Alasan dia, para Pangdam dibawah panglima tertinggi dalam hal ini adalah Presiden. Dan niat mengirim surat ke presiden terlalu eksesif. Saat itu Gus Dur bertanya. ” Itu bener kang?”. Kang Moeslim ingat, ketika itu ia langsung menjawab. ” Bener Gus.”

Usai pertemuan itu, kata Kang Moeslim, ia pulang. Ternyata ia dengar malamnya Gus Dur panggil Panglima dan para kepala staf. Di pertemuan itu, Gus Dur pidato macam-macam.

Tidak beberapa lama, kata Kang Moeslim ia dipanggil Kepala BIN ketika itu, Jenderal Arie J Kumaat bersama wakilnya. “Kata Pak Arie, saya beri informasi ke presiden yang membuat presiden panik. Waktu itu saya jawab, sebagai seorang kawan, saya perlu mengingatkan,” ujar Kang Moeslim.

Ternyata benar, kemudian setelah itu Gus Dur dilengserkan. Sesaat setelah Gus Dur turun ia kembali bertemu. Di pertemuan itu, Gus Dur mengatakan, ternyata pendapatnya benar. ” Kata Gus Dur, apapun tujuan demokrasi, tapi konspirasi elit jangan diabaikan. Jadi Gus Dur itu dijatuhkan oleh konspirasi elit,” ujar Kang Moeslim.

Baca Juga: [Kisah] Ketika Debat Tentang Doa Bersama dan Gus Dur Menjawab begini

Mengenai Gus Dur yang bercelana pendek saat pergi dari Istana, Kang Moeslim punya kisahnya sendiri.

“Gus Dur percaya dengan celana pendek itu menggambarkan rakyat sedang dilucuti oleh konspirasi elit. Dan Gus Dur bilang mudah-mudahan hanya saya yang alami itu,” tutur Kang Moeslim mengingat kembali pertemuannya dengan Gus Dur usai mantan Ketua PBNU itu lengser dari kursi presiden.