KISAH NYATA KASIH SAYANG BUNDA
Pic Google

Kisah singkat dan Juga Kisah Nyata

Kisah nyata ini pernah saya ikut sertakan pada lomba menulis kisah nyata yang di adakan oleh Penerbit Diva Press kadarullah belum masuk dominasi…selamat membaca….

Assalamu’alaikum IBU Ray pamit berangkat ya Bu”, ucapku seraya menyalami dan mencium tangan ibuku yang sudah jelas sekali terasa kasarnya karena selalu di pake bekerja di usianya yang sudah sangat lanjut itu. Belum sempat aku mendengar sepatah kata pun dari bibir ibuku, Air mataku sudah tak mampu lagi ku bendung secara spontan menetes dengan sendirinya hingga membasahi tangan ibuku yang saat itu smasih ku cium sambil menyalami beliau. Aku pun langsung memeluk tubuh ibu yang sudah lemah karena usia ibu yang sudah lanjut, masih belum terdengar sepatah katapun yang ibu ucapkan untuk melepas kepergianku saat itu yang ingin berangkat melanjutkan pendidikan ke jakarta, buka karena senang ingin merasakan pendidikan di jakarta atau supaya bisa melihat kota jakarta yang selama ini hanyabisa ku lihat di telivisi tetangga sebelah rumahku tempat aku dan teman – teman beramai datang hanya untuk bisa menyaksikan tayangan di tv tetangga, yang pada saat itu tetangga sebelah rumahku orang satu –satunya di kampungku yang memiliki Tv dengan layar berwarna hitam putih.

Ibu hanya terdiam dengan matanya yang berkaca – kaca menatap hampa ke depan, tiba – tiba  tetesan air mata Ibu terasa menetes di pundakku, terdengar suara yang tidak begitu jelas ditelingaku “ iya Anakku…berangkatlah nak’…berangkatlah dengan membawa semangat meraih cita – cita masa depanmu, Ibu dan ayahmu akan selalu ikhlas mendo’akanmu setiap waktu dan di setiap sujud ibu nak, Ibu dan ayahmu Ridho dengan apa yang akan dirimu perjuangkan..suara ibuku terhenti, suara nafasnya menahan tangisnya cukup jelas ku dengar saat itu, Nak…suara laki –laki yang cukupku kenal terasa menusuk kedalam hatiku, suara ayah yang juga terbata-bata karena menahan tangisnya pada saat itu, Benar kata ibumu nak, ayah dan ibumu akan selalu mendo’akan setiap langkahmu semoga selalu dimudahkan oleh Allah, ucap ayahku singkat terasa tiba –tiba ayah juga memeluk tubuhku dan memberikan kecupan di pipiku, ‘nak maafkan ibu dan ayah yang tidak bisa memberikan bekal cukup untuk perjalananmu menuntut ilmu, kamu tahu sendirikan nak keadaan keluarga kita seperti apa, kita bisa makan seadanya saja sudah sangat bersyukur sekali, kamu anak terakhir yang tidak pernah bisa ibu dan ayah berpisah jauh denganmu dari dulu,tapi kini kamu yang pertama harus ibu dan ayah relakan untuk pergi sangat jauh berpisah dengan ibu, tapi jangan kamu jadikan itu semua sebagai penghalang untuk meraih cita- citamu bisa melanjutkan pelajaramu ya nak, perbanyaklah bersyukur kepada ALLAH ada orang yang mau menyumbangkan hartanya untuk membantu kelanjutan studimu disana, sedangkan ibu dan ayahmu ini hanya bisa membekalimu dengan Do’a dan ridho yang ikhlas agar setiap langkahmu mendapatkan kemudahan, baik –baik disana ya jaga dirimu di tempat orang ya nak, jangan mengganggu konsentrasi belajarmu dengan memikirkan keadaan ibu dan bapakmu disini, banyaklah berdo’a buat ibu dan bapak semoga selalu sehat supaya bisa melihat keberhasilanmu kelak, berangkatlah nak yang mau ngantar sudah menunggumu, itulah kata – kata terakhir yang ku dengar dari mulut ibuku yang tersendat – sendat karena beriringan dengan tangisnya, InsyaAllah Bu’ jawabku pelan, akupun kembali memeluk tubuh ibuku dan ayah dengan pelukan yang erat sebagai tanda perpisahan yang akan berlangsung sangat lama di antara kami, Aku pun kembali menyalami tangan ibu dan ayah satu persatu sambil mengucapkan salam lalu berlahan ku palingkan tubuhku beranjak menuju truk yang aku tumpangi untuk menuju terminal bis di kota sintang yang akan membawaku menuju ke bandara Supadio pontianak, setelah naik ke atas trus mataku selalu melihat kearah ibu dan ayah yang masih menatapku dari jauh untuk menyaksikan keberangkatanku hingga secara berlahan sedikit demi sedikit bayangan ibu dan ayah bahkan gubuk tempat tinggal kamipun menghilang dari pandangan mataku, perjalanan dari kampung menuju kota sintang menghabiskan waktu sekitar 4 jam perjalanan dengan mobil Truk karena kondisi jalan yang berlumpur dan sama sekali belum ada ancang – ancang mau di aspal.

Sepanjang perjalanan yang selalu terngiang – ngiang dan terbayang adalah pesan ibuku dan ayah serta gambaran wajah mereka yang sudah sangat keriput karena usia senja mereka, terlebih lagi teringat kondisi ibu yang selalu sakit- sakitan karan selalu terserang penyakit asma dan reumatik, sementara ayahku selalu terkena penyakit kakinya yang membuat ayah sangat terganggu sekali melakukan aktivitas kesehariannya karena kaki ayah tidak kuat di bawa beridiri lama bahkan dibawa berjalanpun tidak bisa jauh setelah berjalan tiga sampai enam meter ayah harus berhenti untuk menahan sakit di kakinya.

Setelah tiba di jakarta, segera aku kabarkan bahwa aku telah sampai pada tujuan dengan selamat, tempat dimana aku di sekolahkan dengan biaya bantuan dari muhsinin pada sebuah lembaga yayasan pendidikan berbasis pesantren, hari pertama aku memasuki kawasan asrama perasaanku sangat bimbang sekali perasaan bercampur aduk, rasa bimbang tak menentu, rindu kampung halaman berkumpul dengan orang tua, perasaan tidak betah, minder pun menghantuiku karena dari sekian banyak anak yang tinggal di asrama hanya diriku yang berasal dari kampung yang sangat terpencil, kualitas pembelajaran di sekolah asalku pun jauh sekali tertinggal dari sekolah teman – teman yang lain pada saat itu aku berpikir kalau aku tidak akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan persaingan di sekolah baru ku. Pernah suatu hari aku sampai menangis menghapal kosa kata bahasa inggris dan bahasa arab yang merupakan pelajaran selama di kampung sama sekali tidak pernah ku pelajari di sekolahku, hanya ketika di sekolah baru ku itu saja aku tahu apa itu pelajaran bahasa inggris dan bahasa arab. Namun karena tekat yang kuat semuannya menjadi mungkin untuk bisa di kuasai. Dari situ aku bisa mengambil pelajaran kalau untuk menjadikan diri bisa mengikuti persaingan tidak memandang dari golongan atau pun kalangan seperti apa, semua orang bisa asalkan dia memiliki kemauan.

Hanya dengan kekuatan keyakinan dan pesan kedua orang tua ku ketika hari keberangkatan ku waktu itu yang menjadi sumber Inspirasi dan Motivasi perjuangan yang aku lalui dari hari ke hari, pesan ibu yang selalu terngiang – ngiang di telinga ku, kata Do’a dan Keyakinan ibu yang mampu membangunkan ku ketika mulai melemah. Karena itulah Aku sangat percaya sekali akan kekuatan Do’a dan Ridho dari kedua orang tua itu sangatlah penting sekali, terutama Doa Ibu. Jika kita sebagai seorang anak selalu bisa meminta maaf dan mendapatkan Do’a serta Ridho dari ke dua orang tuanya terlebih do’a dari ibunya maka setiap perjalanan hidupnya akan terasa indah dan selalu bisa di jalani dengan mulus, hal itu aku bisa rasakan sendiri betapa kekuatan do’a dari seorang ibu itu sungguh dahsyat sekali untuk mempermudah jalannya meraih kesuksesan, kesuksesan dalam segala hal.

Meskipun dengan segala keterbatasanku yang hanyalah anak kampung dari kalangan keluarga yang tidak berkecukupan, tapi dengan adanya Ridho dan Do’a ikhlas dari sang bunda tercinta aku merasa memiliki semuanya termasuk kebahagiaan hati meskipun begitu banyak rintangan yang aku hadapi semua itu terasa indah untuk di jalani, terima kasih bundaku sayang atas bekal do’a yang bunda berikan kepada anakmu ini tidak ada bekal yang lebih berharga bagiku selain Ridho dan do’a dari bunda, karena itu semua yang selalu memberikan kekuatan dahsyat dalam diriku dalam berjuang hingga saat ini.

I love you Mom…Anakmu Selalu berdo’a meski pun dari kejauhan di perantauan untuk ayah bunda, semoga Allah Ta’ala Selalu Memberikan kebahagiaan dan ketenangan serta usia yang panjang selalu berada dalam kesehatan sehingga tetap bisa menjalankan kewajiban beridah kepada AllahTa’ala Amiinnn…

Selesai disini KISAH NYATA BEKAL TERMAHAL DARI BUNDA UNTUK KU ini semoga membawa manfaat untuk semua…

By.Muhammad Tohir

Other Post : Kasih Sayang Seorang Ayah Kepada Anaknya