Kisah Pesawat Tempur Di Layar Lebar

7522

Pesawat Tempur

LebahMaster.Com, pesawat Tempur – Kalau yang suka kisah pertempuran udara, pastinya tidak akan melewatkan film yang punya latar cerita bagaimana si burung besi melesat membeset angkasa dan melakukan berbagai manuver.  Film-film ini memang secara khusus mengeksplor kecanggihan pesawat tempur dan peran fungsinya dalam sebuah operasi militer. Kalau rajin melototin film yang banyak dar der dor –nya para serdadu alias film perang, pasti akan ada peran pesawat-pesawat tempur dalam setiap operasi militer sebuah pasukan. Entah itu menyangkut peran vital helikopter atau jet-jet tempur. Memang Ada film yang berbau mesiu dan peluru yang tidak begitu khusus menjadikan pesawat tempur sebagai tema utama cerita film tapi ada juga beberapa yang dengan khusus menjadikan pesawat tempur bukan sebagai tempelan sekunder sebuah film tapi menjadikanya sebagai tema utama.

Adalah Hollywood yang paling jago mengemas soal film-film yang punya kaitan dengan teknologi militer. Tentu tidak mengherankan memang itu juga karena faktor dan posisi Amerika yang begitu digjaya di bidang ini. Jadi kalau ada yang mau bilang bahwa film-film berbau teknologi militer  lansiran para sineas hollywood sebagai propaganda sah –sah saja. Tapi sebagai penonton, tugas kita, minimal hanya penikmat di kala penat atau kalau mau serius jadi kritikus juga, ya.. harus mengapresiasinya dengan telaten.

Yang paling ngetop dari film tentang pesawat tempur, pasti kita akan ingat Top Gun (1986), film yang dibintangi si ganteng Tom Cruise memang untuk ukuran waktu itu begitu fenomenal. Fim ini berhasil menggambarkan  pertempuran dengan jet-jet tempur sebagai aktor film sebenarnya.

Bukan hanya hollywood yang terttarik dengan si burung besi. Pelaku  sineas Prancis juga pernah menggarap sebuah film yang lumayan mirip dengan gaya Top Gun-nya made ini Hollywood. film yang berjudul Inggrisnya Sky Fighter  atau dalam bahasa Prancisnya Les Chevaliers du ciel (2005) memang murni kemasan sutradara Prancis Gerard Pires. Tapi tidak ada beda memang soal adegan film ini. Nyaris sama dengan Top Gun, ada adegan dogfight, aksi saling kejar, manuver, manuver di udara, pamer teknologi pesawat tempur canggih ditambah ketegangan klise saat si pilot memutuskan menembak jatuh lawan.

Bedanya bukan lagi Tom Cruise sebagi pilot utama yang jempolan tapi kisah tentang dua orang anggota Angkatan Udara Prancis,  Kapten pilot, Antoine “Walk’n” Marchelli yang diperankan Benoit Magimel dan Sebastien “Fahrenheit” Vallois ( Covin Cornillac). Juga bukan kisah F 14 yang merontolkan MiG, tapi kecanggihan Mirage, jet tempu kebanggaan Prancis yang digambarkan begitu digjaya dan  siap melahap lawan tempur nya,  siapa saja itu.

Kisahnya juga terkesan basi, seputar perburuan komplotan teroris yang beraksi merampas pesawat tempur. Ceritanya saat itu  digelar acara British Air Show. Nah, dalam ajang pameran tersebut salah satu Mirage 2000 hilang. Si duo pilot yang sedang patroli saat itu memergoki si pesawat yang rencananya mau dicuri si teroris. Kemudian Walk menembak pesawat dengan bandrol harga sebesar 40 juta euro tersebut setelah melihat sohib patrolinya terancam. Si Walk  dipersalahkan atas  insiden penembakan itu. Ia terancam karirnya di Angkatan Bersenjata dan ditekan habis oleh utusan PM Perancis (Geraldine Pailhas). karena si Walk ini sang jagoan, akhirnya di rekrut kembali untuk menjalankan misi rahasia dalam acara kompetisi Cannonball. Di tengah kompetisi lagi-lagi komplotan teroris beraksi lagi, kali ini mereka merampas Mirage 2000 yang  sedang mengisi bahan bakar di Jibouti. Sudah di tebak, kisah berikutnya adalah adegan perburuan plus bumbu pertempuran seru di udara. Yang agak mengganggu, kisah berulang soal sang teroris dalam film keluaran negeri barat, selalu berasal dari timur tengah.

Film jenis ini tidak selalu soal jet tempur. Helikopter  adalah pesawat tempur yang sering terlihat hilir mudik di layar perak. Film Black Hawk Down, salah satunya. Film yang juga besutan Hollywood tersebut, dianggap berhasil menggambarkan sebuah kisah pertempuran yang terlihat manusiawi. Pesan yang ditanggkap, bahwa teknologi bukan tanpa kelemahan. Kedigjayaan Black Hawk, helikopter tempur canggih bisa rontok  juga akhirnya ditangan pasukan partikelir milisi di Somalia yang terlihat kumuh dan udik. Rasanya kalau melihat itu, kita di ingatkan pada perjungan revolis fisik bangsa kita saat melawan penjajah Belanda yang datang dengan peralatan tempur yang modern pada masanya.  Para pejuang kita pada masa itu,  hanya berbekal senjata hasil rampasan dan bambu runcing. Lebih beruntung milisi Somalia yang bisa menenteng RPG dan bisa merontokan Black Hawk yang begitu dibanggakan militer Amerika. Dari film tersebut setidaknya bisa ditarik kesimpulan, teknologi bukan jaminan final untuk memenangi sebuah laga pertempuran.

Tahun 2005, keluar film Stealth,  besutan Rob Cohen yang berkisah tentang  penemuan paling anyar dari teknologi tinggi pertahanan bernama pesawat tempur silmuan. Tapi kemudisan rekayasa teknologi militer ini menjadi bumerang yang mengancam dunia.  Tokoh utamanya,  Ben Gannon (Josh Lucas), Kara Wade (Jessica Biel) dan Hennry Purcell ( Jamie Foxx),  trio pilot jempolan dari Divisi elit yang biasa menguji layak tidaknya jet-jet tempur siluman milik US Navy, Talon.

Kisah dimuali saat Komandan Capt. George Cumming (Sam Shepard)  memperkenalkan anggota baru tim yakni sebuah pesawat tanpa awak canggih dengan kecerdasan buatan yang dicangkokan lewat teknologi UCAV (Unmanned Combat Aerial Vichle) yang diberi sebuatan EDI nama pendek dari Extremme Deep Invader.

Masalah dimulai ketika EDI membuktikan sebagai mesin perang yang mumpuni tapi kemudian berbalik menjadi bumerang saat terjadi kerusakan. Diceritakan setelah melakukan mkisi pertamanya, dalam perjalanan mudik ke kapal induk USS Carl Vinson, EDI tersambar petir. Perangkat sirkuit dan softwarenya mengalami kerusakan karena insiden tersebut. Pasca dilakukannya perbaikan, Cumming,  sang komandan  memastikan EDI layak terbang lagi. Lalu disertakan EDI, pada sebuah operasi penting menumpas kelompok ekstrimis bersenjatakan nuklir dipedalaman Cina. Ternyata kerusakan EDI belum sepenuhnya pulih. Pesawat tanpa awak tersebut, kemudian berbalik menjadi lawan dengan membangkang perintah-perintah langsung yang ditujukan padanya juga saat pesaawat itu diperintahkan membatalkan misi. Pesawat minus awak itu pun menjadi sosok mesin perang dengan pikiran yang otonom, bahkan pada perkembangan berikutnya menantang untuk bertempur dan menembakan senjata. Titik cerita inilah sebagai pusat ketegangannya, karena senjata yang akan ditembakan adalah nuklir. Tentunya gempar melanda petinggi US Navy. 

Sudah dipastikan, pada akhirnya trio pilot US Navy didaulat menjadi penyelamat dunia dari serangan senjata nuklir. Maka film tersebut berkisah pula tentang perburuan pilot jempolan Amerika melawan Talon yang notabene produk sendiri. Bukan lagi teroris lawan utama. Para   teroris dalam film ini bisa dikatakna sekedar diberi peran sekuneder. Bedanya juga bukan lagi dari timur tengah tapi dari Cina. Maka kalau kembali lagi ke asumsi pertama, film sebagai pesan propaganda, bisa jadi film tersebut untuk menegaskan bahwa Cina, potensial untuk menjadi rival Amerika. Atau ini pesan para berani berhadapan frontal dengan sang Adidaya. Entahlah. Tapi sebagaai sebuah tontonan, film model seperti ini layak dijadikan referensi untuk sekedar  penghilang penat dari rutinitas. Apalagi bila dipantengin teknologi yang diadopsi film keluaran anyar yang bercerita tenaga tetek bengek teknologi tempur, terlihat andil teknologi digital yang memungkin film terlihat begitu nyata dan rill.

Terlepas dari semua itu, pesawat tempur memang merupakan alat vital pertahanan  sebuah negara. Bayangkan bila sebuah negara lemah dalam soal ini, jangan harap bisa menghalau musuh yang mungkin saja datang  menyusup lewat udara. Selain tentunya bila angkatan udara  sebuah negara kuat dan mapan, langit sendiri bisa di jaga dengan aman tanpa ada yang coba mengusik-usik. Apalagi kita negara kepulauan yang berlangit luas membentang dari Sabang sampai Merouke.