Kisah Polantas Dari Wonosari

1316

Kisah Polantas dari Wonosari

LebahMaster.Com, kisah polantas – Meski terkadang nyawa menjadi taruhan, Pak Polisi ini tak akan pernah berhenti mengabdi. Jalan raya menjadi ladang tugas, sekaligus tempat ia menyimpan segala kisah hidupnya.

Tak selamanya sosok polisi lalu lintas (polantas) berwajah buas, seperti yang didendangkan Iwan Fals dalam sebuah lagunya. Tak semua polantas sering berlaku laiknya pedagang, tawar menawar harga, lalu tancap gas. Lihatlah wajah Purwanto. Polantas berpangkat Ajun Inspektur Dua ini suka tersenyum ramah di tengah kesemrawutan lalu lintas Kota Jakarta.

Siang itu, Purwanto tengah melepas penat sembari mereguk segelas kopi di sebuah warung tak jauh dari jalan layang di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, area tempat ia bertugas. “Nama saya Purwanto, tapi teman saya sering memanggil Mbah Pur saja. Mungkin karena dianggap karatan, ya,” kata Pak Polantas yang sudah mengabdi selama 22 tahun itu.

Lahir di Wonosari pada 9 Juli 1963, anak petani sederhana ini memang bercita-cita ingin menjadi polisi sedari bocah. “Habis kalau lihat polisi atau tentara, saya suka kagum,” ujarnya seraya tersenyum. Matanya sedikit menerawang, seakan tengah mengulang masa kecilnya dulu di Wonosari.

Saking kagumnya, bapak dua anak ini sering main perang-perangan waktu kecil disela-sela kegiatan ngangon (gembala) sapinya. “Maklum, saya anak petani. Jadi kalau enggak bantu tanam atau panenan, ya ngangon ternak. Kalau lagi ada waktu lowong, ya main dar-der-dor,” ucap dia.

Masa kecil sudah jauh terlewat. Kini Purwanto bukan lagi tengah membayangkan jadi polisi atau tentara. Mimpi masa kecil sudah terwujud. Pria berkulit sawo matang itu, kini tercatat sebagai salah satu personil kepolisian republik ini. Masuk pendidikan pada 1984, seusai lulus ia langsung ditempatkan di bagian lalu lintas.

Saat sisa subuh masih menggantung, Mbah Pur sudah siap berseragam. Pukul enam teng, Mbah Pur harus sudah siap mengatur lalulintas. Bunyi klakson yang berbaur dengan umpatan dan teriakan kernet Metromini dan Kopaja, adalah menu sehari-hari Mbah Pur dalam bertugas.

Wah, para pengendara sekarang banyak yang temperamen. Macet sedikit, tat-tit-tut membunyikan klakson. Bikin telinga sakit. Belum lagi umpatan, ‘polisi tidak becus ngaturlah!’ Kalau kita emosional, bisa-bisa sering berantem. Lihat saja, trotoar saja disulap menjadi jalan” katanya soal para pengendara jalan yang tak sabaran dan kurang mengerti peraturan.

Dari jalan raya Mbah Pur punya cerita menarik. “Waktu itu tahun 80-an. Di sekitar Harmoni. saya pernah menyetop mobil Mercedes yang nyelonong lampu merah,” kata Mbah Pur.

Saya tidak menyangka yang saya setop itu Brigjen TNI. Saat saya minta surat-surat dia menyerahkan Kartu Tanda Anggota. Saya baca di situ pangkatnya Brigjen. Jelas saya kaget dan reflek ngomong, maaf jenderal saya mengganggu.” Untungnya perwira tinggi itu ramah sekali dan mengakui kesalahan. “Padahal dia Brigjen” ujarnya lagi.

Selain kisah ‘Brigjen TNI’ dan perjodohan, Mbah Pur pun masih menyimpan segudang kisah menarik. Penggemar Ronaldo dan klub sepakbola Manchester United ini pun turut menjadi saksi sejarah perebutan Kantor PDI pada 22 Juli 1996 atau yang dikenal dengan peristiwa “kuda tuli”. Peristiwa lainnya kerusuhan Mei 1998. “Empat hari saya bertugas. Sampai tidak sempat ganti baju. Orang rumah khawatir dan bolak-balik telpon kantor,” ucapnya.

Tugas bagi Mbah Pur adalah istri pertama. Kalau tugas memanggil harus ada yang dikorbankan. Ia seriang diprotes oleh anak sulungnya karena jarang memiliki waktu bersama keluarga. “Kalau dengar hal itu itu kadang suka sedih,” kata Mbah Pur.

Sampai anaknya yang pertama berusia sembilan tahun, Mbah Pur belum pernah kesampaian mengajak piknik kedua buah hatinya. Ya, dengan gaji berkisar Rp 2,5 juta, ia merasa belum mampu mengajak mereka berekreasi ke Ancol atau Dufan. “Paling-paling cuma berbelanja ke swalayan,” ujarnya.

Bahkan dari tahun 1985, ia belum pernah merasakan mudik lebaran ke kampungnya di Wonosari. Beberapa kali lebaran Idul Fitri malah harus bertugas. “Mau apalagi, walau istri sesekali protes. Tugas harus dijalankan. Sedih sih. Kata istri saya, ‘mbok kayak yang lain, lebaran tuh ngumpul bersama keluarga di rumah’.”

Cerita sedih akan berlanjut jika saat bertugas hujan mengguyur Jakarta. “Atap rumah saya banyak yang bocor. Kalau hujan turun saya ingat rumah terus. Kasihan istri saya pasti repot tidak ada saya,” kata lelaki itu.

Guyuran hujan dan terpaan panas mungkin sudah biasa bagi Mbah Pur. Belum lagi kualitas udara Jakarta yang tak bersahabat bagi Mbah Pur dan sesama polantas rekan kerjanya. Mulai dari polusi asap kendaraan, polusi industri, polusi bising suara knalpot dan klakson, itu menu sehari-harinya. Tidak heran bila muncul laporan yang melansir, bahwa banyak dari Pak Polantas yang terkena penyakit saluran pernapasan.

Namun kisah-kisah sedih itu seakan terhapus ketika dia mendapat penghargaan dari Direktur Lalu Lintas Metro Jaya, yang ketika itu dijabat oleh Joko Susilo. “Peristiwanya terjadi di Jalan Ketapang, Jakarta. Waktu itu terjadi pencopetan. Korbannya teriak-teriak. Pelakunya lari ke dalam mikrolet yang sedang melaju,” tutur Purwanto.

Kebetulan ia sedang bertugas di sana. Secara refleks ia mengejar mikrolet. Akhirnya pelaku tertangkap dan diseret keluar oleh Mbah Pur. Massa yang kalap langsung mengeroyoknya. Spontan saya melindungi si copet. Bahkan tubuhnya tak luput dari pukulan nyasar. Karena keberanian itu ia mendapat penghargaan berupa piagam yang langsung diberikan komandan.

Perbincangan pun berakhir. Mbah Pur kembali membelah jalanan. Ia terus mengabdi pada tugas, kendati nyawa jadi taruhan.

(Catatan lawas dengan seorang Polantas dari Wonosari)

Baca Juga : Belajar Keteladanan Dari Kapolda Kalbar, Brigjen Polisi Arif Sulistyanto