Kisah TB Silalahi – Jadi anak pejabat, katanya enak. Ya, setidaknya akan ikut kecipratan ‘tuah’ kuasa yang dimiliki sang bapak atau sang ibu yang sedang jadi pejabat. Apalagi jadi anak Presiden atau menteri.

Kisah Seorang Menteri dan Anaknya

Namun tak semua yang jadi anak menteri enak ikut terciprat ‘tuah’ jabatan sang bapak atau ibu. Ada beberapa menteri, yang sedari awal sudah mewanti-wanti agar anaknya jangan diperlakukan istimewa hanya karena dia anak seorang pejabat negara.

Terkait ini, ada sebuah cerita tentang TB Silalahi dan anaknya. Seperti diketahui, TB Silalahi pernah jadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara di era Presiden Soeharto. Dalam buku berjudul, ” TB Silalahi Bercerita tentang Pengalamannya’ yang ditulis Atmadji Sumarkidjo, ada sebuah penggalan cerita tentang TB Silalahi dengan putrinya yang seorang dokter. Putrinya bertugas di sebuah pusat kesehatan masyarakat atau Puskesmas di sebuah daerah.

Saat itu, TB Silalahi sudah jadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negera di era Presiden Soeharto. Nah, ketika menjabat sebagai Menpan itulah, kantor kementerian yang dipimpinnya melansir semacam penghargaan yang diberi nama Abdi Satya Bhakti. Bahkan, penghargaan itu payung hukumnya berupa Keputusan Presiden.

Nantinya, penerima penghargaan akan diundang ke Istana Negara untuk menerima penghargaan dengan upacara kehormatan. Sebagai tim penilai, kantor Kemenpan menunjuk perwakilan dari DPR yang ketika itu terdiri dari empat fraksi, yakni Fraksi ABRI, Golkar, PPP, PDIP dan perwakilan dari beberapa media, termasuk anggota Yayasan Lembaga Konsumen, Zumrotin dan Indah Sukmaningsih.

Tim ini yang jadi semacam juri untuk menilai unit pelayanan yang tersebar di seluruh Indonesia. Puluhan ribu unit pelayanan dinilai, termasuk puskesmas-puskesmas. Ketika itu, putrinya dr. Herti telah jadi dokter PTT di sebuah puskesmas di daerah terpencil di Balige Sumatera Utara. Puskesmas tempat bertugas putrinya adalah salah satu yang dinilai.

Ternyata puskesmas tempat putrinya bertugas jadi salah satu yang dinilai terbaik. Dan berhak mendapat penghargaan Abdi Satya Bhakti. Ketika dilaporkan itu oleh tim penilai, TB Silalhi mengaku kaget. Ia pun dengan sangat memohon kepada tim penilai agar mencoret puskesmas tempat putrinya bertugas dari daftar penerima penghargaan.

Awalnya tim penilai tetap ngotot dan tak mau mencoret puskesmas tempat putrinya bertugas dalam daftar penerima penghargaan. Alasan tim, penilaian sudah dilakukan objektif. Namun TB Silalahi tetap ngotot, minta puskesmas tempat putrinya bekerja dikeluarkan dari daftar ‘pemenang’. Ia beralasan, masyarakat akan menafsirkan lain. Ia akan dianggap mengistimewakan putrinya. Akhirnya tim mengabulkan itu.

Dan, putrinya akhirnya tahu, bahwa puskesmas tempat dirinya bekerja harusnya dapat penghargaan. Putrinya sempat protes. Dan, sempat mengatakan, jadi anak menteri ternyata tidak enak juga. Namun akhirnya dia maklum, dan menganggap itu adalah bentuk pengorbanan keluarga. Resiko jadi anak menteri. Anak dari bapak yang keras memegang prinsip.

Baca: Berkah Anak Presiden