Kisah Terminal ‘Mewah’ Di Atambua

1476
Terminal-Mewah-Atambua-Nusa-Tenggara-Timur
Ilutrasi Terminal yang Tak terawat dan sepi tanpa kendaraan parkir satupun

Nusa Tenggara – Saat jadi keynote speaker di acara Rapat Koordinasi Nasional Kependudukan dan Pencatatan Sipil bertema, ” Dengan Rakornas Kita Tuntaskan Penerbitan Identitas Penduduk di Seluruh Indonesia,” di Hotel Lombok Raya, Mataram, Nusa Tenggara Barat, ada yang menarik dari pidato Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo. Ia berkisah tentang pembangunan di perbatasan. Katanya, sejak ia jadi Menteri Dalam Negeri, salah satu yang selalu ia tengok adalah daerah-daerah perbatasan. Wajah perbatasan Indonesia, masih banyak bopeng. Banyak masalah. Kebetulan saya hadir di sana, karena diundang untuk meliput acara tersebut.

Padahal, kata Tjahjo, banyak program yang dikucurkan di perbatasan. Tapi, tetap saja, wajah perbatasan tak juga berubah, masih memprihatinkan. Dan, banyak ketertinggalan. Ia pun bercerita tentang terminal ‘mewah’ yang di bangun di perbatasan Indonesia di Atambua, Nusa Tenggara Timur.

Saya pernah ke perbatasan, di Atambua. Di sana, ada terminal luar biasa bagusnya. Mewah untuk ukuran perbatasan,” kata Tjahjo.

Namun kata dia, selama dua tahun terminal ‘mewah’ itu berdiri, tak satu pun bisa masuk atau terparkir di sana. Alhasil, terminal itu pun tak ada manfaatnya. Tak ada bis yang mau masuk. Hal itu juga diperparah, oleh sarana pendukung yang tak dipersiapkan. Misalnya, jalan menuju terminal sangat buruk. Bis pun enggan masuk.

Terpaksa kita robohkan,” katanya.

Kata Tjahjo, cerita tentang Terminal ‘mewah’ di Atambua, adalah contoh perencanaan yang buruk. Asal bangun. Asal habiskan anggaran. Akibatnya, setelah dibangun, sama sekali tak bisa dimanfaatkan. Anggaran negara pun terbuang percuma.

Saya bongkar kita jadikan asrama polisi, TNI dan bea cukai saja. Sekali lagi, itu karen tak ada perencanaan,” kata dia.

Padahal kata Tjahjo, ada 182 kecamatan yang ada di perbatasan. Kecamatan-kecamatan itu, harus jadi perhatian bersama. Karena kecamatan itu posisinya strategis, ada di garis depan wilayah negara. Kecamatan tersebut, adalah beranda negara. Presiden Jokowi sendiri sangat menaruh perhatian pada percepatan pembangunan di perbatasan.

Ini sejalan dengan Nawa Cita, salah satunya adalah membangun Indonesia dari pinggiran,” katanya.

Dari sisi anggaran, katanya, untuk program pembangunan perbatasan mengalami peningkatan.  Pemerintah sendiri sudah mengalokasikan, hampir 16 triliun tahun ini yang diperuntukkan khusus untuk ‘memoles’ wajah perbatasan. Tjahjo berharap, pertengahan tahun depan wajah perbatasan Indonesia sudah berbeda. Tak lagi kumuh, tapi mulai berseri.

Paling lambat pertengahan 2017 wajah perbatasan kita sudah lebih baik. Baik itu kantor perbatasan, kantor Polsek, Koramil, pangkalan TNI, baik laut, udara dan darat, sekolah, puskesmas dan jalan,” tuturnya.

Ketika jadi pembicara utama di acara Rakornas tentang perencanaan pembangunan yang digelar di Bali, Menteri Tjahjo juga mengungkap contoh lain dari perencanaan yang buruk. Ia mencontohkan proses pembangunan waduk Jatigede di Jawa Barat yang terkatung-katung hingga puluhan tahun. Kata Tjahjo, waduk tersebut konsepnya dibuat di era Soekarno jadi Presiden. Tapi kemudian mandek. Padahal, waktu itu sudah dilakukan peletakan batu pertamanya.

Di era Soeharto berkuasa, pembangunan waduk Jatigede mangkrak, sama sekali tak ada kelanjutannya. Baru, di era SBY menjadi presiden, pembahasan lahan bisa dilakukan. Pembangunan waduk pun di lanjutkan. Dan, baru di era Jokowi, waduk tersebut bisa difungsikan, setelah berhasil digelontor air.

Padahal kalau membangun waduk besar, paling tidak 3 tahun bisa selesai. Kalau mau serius itu juga,” kata Tjahjo.