Lapisan tekat mengantarkan Aku pada sebuah mimpi

1121

Sebuah mimpi – Panggil saja aku dengan sebutan Lie , anak sematawayang yang kini hanya tinggal bersama kakek dan nenek ku. Mereka berprofesi sebagai pengembala kambing. Ayah ku meninggal pada saat aku berumur lima tahun, semenjak itulah ibu menjadi tulang punggung untuk mencukupi kebutuhan hidup kami. Silih berganti sang surya yang terus berlabuh menyinari bumi, membuat ku perlahan-lahan mengerti bagaimana kami yang hanya hidup berdua.

Sebuah Mimpi
Tiga tahun berlalu ibu yang sering sakit-sakitan dan tak lama kemudian ibu pun menyusul ayah . Perih rasa hati ini menjadi yatim piatu sejak kecil bukan hal yang mudah bagi Lie. Disaat teman-teman Lie bercerita tentang ayah dan ibunya Lie hanya bisa mendengarkan dan terdiam tapi satu pesan yang selalu Lie ingat dari ibu nya “ apapun yang terjadi jangan pernah meninggalkan tuhanmu dan teruslah berbakti kepada siapapun” Lie selalu mengingat pesat itu dan bersunguh-sungguh memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang ia sayangi.

Seiring berjalan waktu Lie tumbuh layak nya seorang anak remaja. Gigih, semangat, percaya diri, serta sholat lima waktu dan sholat sunat pun tak terabaikan oleh nya. Saat SMP Lie memang sering mengikuti organisasi di sekolah nya dan mendapatkan jabatan sebagai ketua OSIS , beberapa beasiswa pun tak lupa ia raih demi meringgankan beban kakek dan neneknya .

Waktu berlalu selepas SMP Lie memilih tinggal di pantiaasuhan yang tak jauh dari SMA yang ia dapatkan . tujuan nya agar Lie tidak begitu membebani kakek dan neneknya. Lie yang hanya diberi uang dua ribu rupiah per hari tak meruntuhkan semangat nya untuk pergi ke sekolah. Berbagai cara yang Lie pikirkan agar dengan uang dua ribu rupiah tersebut Lie bisa bertahan . Akirnya Lie pun tanpa pikir panjang saat itu memutuskan bekerja di kantin sekolah . Ibu yang berjualan di kantin tersebut yang cukup mengenal Lie akhirnya menerima Lie berjualan dengan syarat ia hanya bekerja selama waktu istirahat berlangsung. Tanpa malu Lie menjalankan apa yang semestinya ia lakukan.

Lie memang memberikan kesan tersendiri bagi orang-orang disekelilingnya termasuk guru-guru yang sangat menyangginya . Lie pandai bergaul , memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Keiginan nya tersebut memberikan tekat yang kuat sehingga pada saat pemilihan calon ketua OSIS , Nama nya pun keluar sebagai pemenang . Tak hanya itu saja ia pun berhasil mengharumkan nama SMA nya , dengan meraih prestasi senagai ketua osis sematera barat . Semenjak itu Lie dikenal oleh banyak orang.

Perjuangan Lie tidak sampai disitu saja banyak sekali yang mewarnai perjalanan hidupnya, kali ini masuk di perguruan tinggi. Lie yang banyak menghabiskan waktunya di pantiasuhan membantu ibu panti memasak mencuci dan berjualan di kantin sekolah pun keseharian dari rutinitas yang ia jalani. Semua itu agar dia bisa menabung untuk mendaftar beberapa ujian masuk perguruan tinggi yang ia ingginkan. Menjadi mahasiswa dengan jurusan hubunggan internasional adalah salah satu kenginan terbesar yang ingin ia capai. Satu persatu ujian masuk perguruan tinggi ia lakukan tapi tak berbuah manis . Ia sempat putus asa pada saat itu . Banyak rekan-rekan nya yang menanyakan dimana Lie melanjutkan pendidikan nya . Tapi apa lah daya Lie yang belum tau kemana ia akan melangkah. Satu persatu menunggu tak pasti sampai akhirnya ada teman nya yang mengatakan bahwa salah perguruan tinggi swasta di Bandung membuka pendaftaran. Akhirnya dengan tekat yang kuat serta keyakinan yang pasti Lie pu mendaftar di perguruan tinggi swasta tersebut.

Tak berlangsung lama salah satu pihak kampus menghubungi nya menyatakan bahwa Lie di terima di perguruan tinggi tersebut dengan jurusan hubungan internasional.

 
Kebahagiaan yang terpacar dari wajah Lie serta puji dan syukur kepada Allah SWT. Tapi pendaftaran ulang terakhir adalah hari esok. Lie sempat binggung. Uang tabungan nya hanya cukup digunakan untuk pergi ke pulau seberang. Tak ada sanak famili di sana Lie pun binggung harus meminta tolong kepada siapa.

Tanpa berpikir panjang dengan tekat yang kuat Lie pun meminta izin kepada kakek dan nenek nya untuk melanjutkan sekolahnya ke pulau sebrang. Siang itu Lie berangkat dan tiba di bandara Soekarno-Hatta sekitar jam 16.00. Binggung dan tak ada siapa pun yang ia ketahui selain nombor informasi yang memberikan keterangan bahwa ia lulus di perguruan tinggi tersebut. Yang ada di benak Lie saat itu adalah pergi ke perguruan tinggi yang menyatakan bahwa dirinya lulus sebagai mahasiswa di sana. Sekitar jam 12.00 malam Lie sampai di gerbang kampus duduk termenung sambil melihat handphone nya. Tanpa sadar Lie menelphone bapak yang mengatakan bahwa dia lulus dan mengatakan semua keluh kesah nya. Dan akhirnya bapak itu memberikan keringanan kepada Lie dan tinggal di asrama kampus tersebut. Lie pun disambut hangat oleh teman-teman nya dan mendapat kan uang belanja dari hasil kerjanya dengan mencuci baju teman-teman yang satu asrama dengan nya . Lumayan Lie bisa mendapatkan uang belanja .Tak hanya itu prestasi yang cemerlang pun pun ia dapatkan. Setiap tahun ia pulang dengan hasil pekerjaan nya.

Cerpen di tulis dan dikirim Oleh Dila Septiardy

SHARE
Previous articleGadget Memudarkan Semuanya
Next articleWaktu Merubah Segalanya
Kirim tulisanmu ke lebahmaster.com - suarakan inspirasi dan aspirasimu yang bersifat membangun. jadikan setiap kata dalam tulisanmu penuh manfaat bagi banyak orang. Tulisan Sahabat adalah space khusus untuk memuat tulisan hasil dari aktivitas jurnalistik para sahabat pembaca yang dikirim ke lebahmaster, baik dengan mendaftar terlebih dahulu maupun dikirim ke email: redaksi@lebahmaster.com