Lorenzo – Marquez Bersekongkol?

1114

Lorenzo dan Marquez

Lebahmaster.com – Jorge Lorenzo, akhirnya menjuarai seri terakhir MotoGP, setelah finish pertama di GP Valencia, Spanyol. Maka, dengan menjuarai GP Valencia, Lorenzo jadi juara dunia, menggeser rival utamanya Valentino Rossi yang juga rekan satu timnya di Movistar Yamaha.

 

 

Bagi Rossi sendiri, hasil akhir GP Valencia sangat menyesakan dan menyakitkan. Bagaimana tak menyakitkan, Rossi harus start di posisi buncit, karena terkena hukuman akibat insiden di seri GP Sepang, Malaysia. Dengan start di posisi buncit, pembalap kebanggaan masyarakat Italia ini, harus berjuang keras agar dapat poin, minimal dia harus finish tepat dibelakang Lorenzo saingan terdekatnya.

 

 

Tapi apa daya, meski segala kemampuan sudah dikerahkan, di GP Valencia, Minggu, 8 November 2015, Rossi hanya sanggup finish di posisi empat, di belakang Dani Pedrosa. Posisi dua, di tempati oleh Marc Marquez, dan posisi pertama di raih oleh Lorenzo. Dengan hasil akhir itu, gelar juara dunia yang sudah di depan mata Rossi pun lepas, berpindah ke tangan Lorenzo.

 

 

Namun yang pasti, hajatan Moto GP kali ini memang panas dan menyedot perhatian publik. Persaingan mulai memanas, saat Rossi melempar tudingan ada kongkalikong antara Marc Marquez dan Lorenzo untuk mendepak dirinya keluar dari bursa perebutan gelar juara dunia.

 

 

Lalu, terjadilah insiden di seri GP Sepang, antara Rossi dan Marquez, yang membuat Marquez jatuh. Rossi pun dituding ‘menyepak’ Marquez, hingga membuat pembalap tim Honda pun jatuh. Rossi membantah, dan balik menuding, Marquez sengaja memprovokasinya dengan cara membalap yang membahayakan dirinya.

 

 

Insiden Sepang pun jadi pembicaraan di mana-mana. Pihak Director Moto GP pun, akhirnya memutuskan hukuman bagi Rossi. Pembalap Italia itu, harus start di posisi buncit. Dan, poinnya dikurangi tiga. Rossi bukannya diam saja. Ia coba menggugat itu ke pengadilan Arbitrase Olah Raga (CAS). Sayang, gugatannya ditolak CAS.

 

 

Tak hanya itu, muncul petisi membela Rossi di situs Change.org, yang ditanda tangani ratusan ribu orang. Panasnya persaingan di lintasan Moto GP itu juga merembet ke panggung politik. Politisi Italia, menyerang pihak Spanyol. Perang pernyataan pun terjadi. Hubungan antara Spanyol-Italia pun sedikit terganggu. Teori konspirasi pun menggeliat. Trio pembalap asal negeri Matador yakni Lorenzo, Marquez dan Pedrosa bersekongkol menyingkirkan Rossi.

 

 

Benarkah?

Minggu, 8 November 2015, hujan gerimis masih turun membahasi sebagaian besar wilayah Jakarta. Pukul 21.45 Wib, saya masih nongkrong di sebuah warung kopi di bilangan Cipete, Jakarta Selatan. Saat sedang asyik menikmati segelas kopi, tiba-tiba muncul seorang lelaki dari sebuah rumah besar yang tepat di seberang warung kopi. Saya mengenalnya, karena sering nongkrong bareng di warung kopi itu. Namanya Nino, seorang supir pribadi. Saat keluar, wajahnya tampak kesal.

 

 

Kampret memang Marquez, kampret,” katanya setengah berteriak.

 

 

Wah, pasti Nino habis nonton GP Valencia, sampai dia mengumpat Marquez, pikir saya. ” Kenapa bos, Rossi kalah yah?“tanya saya.

 

 

Nino sejenak diam. Ia justru memesan segelas kopi. Begitu kopi sudah dibuat, dan ia mereguknya, baru bicara. ” Rossi urutan keempat mas. Lorenzo yang juara,” katanya dengan muka kesal.

 

Marquez, katanya yang urutan dua. Tapi yang bikin dia kesal, Marquez seperti sengaja membuat Rossi tak juara. Ia menuding, Marquez sengaja memberi jalan pada Lorenzo untuk jadi juara satu di GP Valencia. Padahal kata dia, Marquez sangat bisa menyalip Lorenzo. Tapi, katanya, itu tak dilakukan.

 

Sangat jelas memang Marquez tak mau menyalip Lorenzo. Ini jelas dia bersekongkol dengan Lorenzo, biar Lorenzo yang jadi juara,” kata Nino dengan emosi.

 

Wah, saya pikir tudingan Nino ini, sudah masuk kategori teori konspirasi. Nino menuding Marquez sengaja tak mau nyalip Lorenzo. Apalagi kemudian Nino, menguatkan argumennya, bahwa Marquez main mata dengan Lorenzo. Katanya, Lorenzo dan Marquez sama-sama dari Spanyol. Sementara Rossi dari Italia. Dan Pedrosa pun asal Matador. Jadi, ia menyimpulkan, ini persekongkolan para pembalap Spanyol, untuk menyingkirkan Rossi.

 

 

Tak lama setelah Nino keluar, ikut berhamburan juga beberapa lelaki. Rata-rata semua saya kenal, karena sering nongkrong di warung kopi Mang Yanto, di Cipete. Begitu ngumpul, hasil GP Valencia yang jadi bahan obrolan. Seru dan emosional. Semua satu suara dengan Nino, menuding Marquez kongkalikong dengan Lorenzo.

 

 

Lalu kenapa ajang MotoGP 2015 ini sampai mencuatkan tudingan berbau teori konspirasi? Ada beberapa catatan menarik memang dari ajang MotoGP tahun ini. Catatan pertama, ada persaingan sengit dalam memperebutkan gelar juara dunia MotoGP. Bahkan persaingan ini tak hanya sengit tapi juga panas. Ini tak lepas, karena yang bersaing hanya ada dua orang, dalam hal ini Lorenzo dan Rossi. Maka, dalam setiap persaingan yang sengit dan panas, selalu saja muncul bumbu-bumbu yang membuat gaduh persaingan. Bumbu itu, bisa manuver, tudingan, atau provokasi. Dan, itu berlaku di ajang apapun, baik olahraga maupun non olahraga, bahkan politik.

 

 

Lihat saja persaingan pada saat Pilpres 2014 kemarin, yang begitu panas dan sengit. Dua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden, yakni duet Jokowi-Jusuf Kalla bersaing ketat dengan pasangan Prabowo – Hatta Rajasa. Persaingan dua pasangan calon dalam memperebutkan tiket ke Istana, berlangsung sengit, panas dan gaduh. Bumbu persaingan pun tak kalah seru. Tuding menuding, serang menyerang, bahkan yang berbau fitnah, mewarnai persaingan. Tensi pun memanas. Mungkin, sama panasnya dengan persaingan antara Rossi versus Lorenzo dalam memperebutkan titel Juara Dunia MotoGP.

 

 

Kedua, persaingan di lintasan MotoGP sangat panas, karena latar belakang para kompetitornya. Rossi, asal Italia, sementara Lorenzo datang dari Spanyol. Karena itu, persaingan tak hanya antara Lorenzo dan Rossi secara pribadi saja, tapi sudah sudah menyangkut harga diri sebuah negara. Semangat nasionalisme ikut bermain, dan itu makin membuat persaingan di MotoGP memanas. Dan itu terbukti, pasca insiden di seri GP Sepang, hubungan antara pemerintah Italia dan Spanyol sempat menegang.

 

 

Ketiga, masih terkait dengan latar belakang pembalap yang bersaing atau ikut terlibat persaingan dalam perebutan gelar juara dunia tersebut. Lorenzo adalah pembalap asal Spanyol. Marquez dan Pedrosa juga asal Matador. Maka, ada tiga pembalap Spanyol yang terkait langsung dengan persaingan itu. Latar belakang tiga pembalap itulah yang kemudian membuat Rossi, merasa dikeroyok, hingga keluar tudingan Lorenzo dan Marquez bersekongkol menjegal dirinya. Jadi, lewat tuding itu, Rossi ingin menegaskan, bahwa persaingan antara dirinya dengan Lorenzo, bukanlagi persaingan antara tim balap, tapi persaingan antar negara, Italia melawan Spanyol. Rossi mewakili Italia, sementara Spanyol direpresentasikan oleh trio pembalap, yakni Lorenzo, Marquez dan Pedrosa.

 

 

Lewat tudingan itu pula, Rossa mencoba memainkan sebuah situasi, dimana ia menempatkan diri sebagai pihak yang didzolimi oleh trio Spanyol. Ini mirip ketika SBY memposisikan diri sebagai pihak yang dianiaya Taufik Kiemas. Berhasilkah?

 

 

Dalam taraf tertentu, Rossi berhasil mengaduk emosi pendukungnya, bahkan tak hanya itu, negara serta tim Movistar Yamaha ikut tersulut. Rossi berhasil membakar emosi para penonton Moto GP, sampai orang seperti Nino pun yang tinggal ribuan kilometer dari Valencia, dengan emosi menuding Marquez bersekongkol dengan Lorenzo. Bersekongkol-kah Lorenzo dan Marquez? Yang pasti, Rossi gagal jadi juara, dan Lorenzo yang sukses jadi kampiun.