Memanggil Pulang ‘Si Anak Hilang’

773

Memanggil Pulang Si Anak Hilang

LebahMaster.com – Masih dengan sisa peluh di wajah, usai memimpin upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-71 di halaman kantornya, Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo langsung dikerubuti wartawan. Berbagai pertanyaan terlontar dari para pencari berita. Dengan telatan, mantan Sekretaris Jenderal PDIP itu menjawab satu persatu pertanyaan yang ditujukannya. Salah satunya tentang polemik ‘kewarganegaraan’ Arcandra Tahar, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM) yang beberapa hari lalu telah diberhentikan dengan hormat oleh Presiden Joko Widodo atau biasa disapa Jokowi.

Tjahjo Kumolo Mendagri

Kasus dwi kewarganegaraan Arcandra memang memantik polemik panjang. Arcandra sendiri dilantik jadi Menteri ESDM menggantikan Sudirman Said, setelah tinggal 20 tahun di Negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Namun baru kurang lebih 20 hari menjabat sebagai menteri, muncul informasi, bahwa jebolan ITB itu berpaspor Amerika.

 

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo

Tak pelak, informasi itu menggelinding bak bola salju. Di dunia maya, informasi Archanda berpaspor Amerika jadi trending topic. Banyak netizen yang mendesak Jokowi segera mencopot Arcandra. Dengan berpaspor Amerika, Arcandra dianggap ‘cacat’ dan tak memenuhi syarat jadi menteri. Karena, Arcandra dianggap telah jadi warga Paman Sam. Sementara Undang-Undang Kementerian Negara, mensyaratkan bahwa yang boleh jadi menteri, adalah Warga Negara Indonesia. Dan, sangat jelas, Indonesia tak menganut paham Dwi kewarganegaraan.

 

Polemik pun bergulir. Arcandra tak hanya jadi topik kicauan di dunia maya, tapi juga di dunia nyata. Para pakar hukum tata negara berama-ramai urun pendapat. Pun, para politisi, tak kalah ramai ikut berkomentar. Hingga akhirnya, Istana memutuskan. Lewat Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, Presiden Jokowi memutuskan memberhentikan dengan hormat Arcandra dari jabatannya sebagai Menteri ESDM. Untuk sementara, jabatan menteri energi dijabat Menko Kemaritiman, Luhut Pandjaitan, hingga diangkatnya menteri defenitif.

Tjahjo Kumolo Menteri Dalam Negeri

Tjahjo sendiri berpendapat, kasus Arcandra harus disikapi dengan bijak. Tidak dengan emosi membabi buta. Presiden Jokowi, katanya, menarik Arcandra dari Amerika, berangkat dengan niat baik. Kepala negara ingin, orang-orang Indonesia yang hebat di luar negeri, bisa pulang ke kampung halaman. Mereka, orang-orang pintar yang berdiaspora di negeri seberang bisa kembali pulang. Atas dasar niat baik itulah, Jokowi menarik pulang Arcandra. Tak hanya Arcandra, juga Sri Mulyani yang juga sedang berkarir di Bank Dunia.

 

Inilah Pak Jokowi ingin tarik kembali orang-orang pintar yang sekolah di luar negeri untuk kembali membangun Indonesia,” ujar Tjahjo.

 

Mantan Sekretaris Jenderal PDIP itu pun kemudian mencontohkan kisah mantan Presiden BJ Habibie. Menurutnya, Habibie dulu disekolahkan oleh Bung Karno ke Jerman. Kemudian, Pak Harto memanggilnya pulang ke Indonesia. Dan, Habibie bersedia pulang kampung. Padahal ketika itu, jika hitunganya gaji serta prestise pekerjaan, berkarir di Jerman lebih menjanjikan. Apalagi, Habibie begitu dihargai oleh pemerintah Jerman.

 

Saya ambil contoh, Presiden BJ Habibie disekolahkan Bung Karno ke Jerman, didukung Pak Harto sampai jadi Wapres dan akhirnya Presiden. Beliau kalau orientasinya jabatan dan kekayaan, Jerman sudah minta dia. Namun selama bertahun-tahun di sana, ia tetap kukuh. Saya tugas belajar, saya dibiayai negara. Saya tetap WNI,kata Tjahjo.

Mendagri Tjahjo Kumolo

Begitu juga ketika Presiden Jokowi memanggil pulang Sri Mulyani yang sedang dipercaya jadi petinggi Bank Dunia. Niat Presiden hanya satu, mengajak anak-anak bangsa yang punya talenta dan kemampuan hebat, pulang memberi kontribusi langsung bagi negeri sendiri.
Niat Presiden cuman satu, ayo orang-orang pandai di luar negeri, pulang semua, mari kita bangun Indonesia. Contoh Sri Mulyani, dia punya gaji miliaran di Amerika, tapi dia mau pulang. Ini yang ingin pak Jokowi inginkan, mari kita bangun Indonesia. Makanya ditarik. Buat apa punya orang pandai kalau di luar negeri,” urainya.

 

Namun kata Tjahjo, aturan memang harus ditegakan. Indonesia, memang tak menganut paham dwi kewarganegaraan. Aturan itu yang melandasi pemberhentian Archanda. Tapi Tjahjo minta polemik tentang Arcandra diakhiri. Sebab jika bangsa ini terus berpolemik, banyak energi yang harusnya bisa ditujukan untuk membangun negeri terbuang percuma.

 

Negara kita tak menganut dua kewarganegaraan. Ada UU yang mengatur. Itu aja prinsipnya,” kata Tjahjo.

 

Kisah Arcandra sendiri mmengingatkan saya tentang cerita seorang bos sebuah maskapai penerbangan nasional di Indonesia. Suatu waktu si bos maskapai datang ke markas pembuat pesawat di Amerika. Oleh petinggi pembuat pesawat, si bos maskapai diajak ke pabrik pembuat pesawat. Kebetulan, ketika itu si bos, telah meneken kontrak pembelian pesawat dari perusahaan tersebut.

Menteri Dalam Negeri Indonesia Tjahjo Kumolo

Alangkah kagetnya, ketika petinggi perusahaan pembuat pesawat memberitahu, siapa para insinyur yang ikut membantu membuat pesawat yang dipesannya. Ternyata, para insinyur itu berasal dari Indonesia. Mereka, adalah para insinyur yang sebelumnya bekerja di PT Dirgantara Indonesia, perusahaan plat merah pembuat pesawat yang dulunya bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo

Kisah Arcandra juga cerita para insinyur di pabrik pembuat pesawat di Amerika, hanya sedikit contoh, bahwa banyak anak bangsa hebat yang ada di negeri seberang. Mereka hengkang dan berdiaspora di luar negeri, karena di negeri sendiri kesempatan berbakti masih teramat minim. Di negeri orang, mereka merasa dihargai. Bahkan, beberapa ditawari jadi warga kehormatan. Mantan Presiden RI, BJ Habibie adalah salah satunya. Saat masih bekerja di Jerman, karena prestasi dan keahliannya, Habibie, sempat ditawari negara bavaria tersebut jadi warga kehormatannya.

 

Saat hadir di sebuah acara talk show di sebuah stasiun televisi nasional, politisi Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, mengatakan banyak aset bangsa yang ada di negeri seberang. Aset itu, adalah orang-orang Indonesia yang pintar dan hebat. Baginya, Arcandra adalah aset bangsa. Wajar kata Ruhut, bila kemudian Amerika kepincut menjadikan Arcandra sebagai warganya. Lelaki kelahiran Padang, Sumatera Barat itu pemilik beberapa hak paten di bidang perminyakan.

 

Arcandra sendiri, saat didaulat mengisi kuliah tujuh menit, usai sholat dzuhur di Mesjid Al Azhar, Jakarta, mengaku ikhlas tak lagi jadi menteri. Baginya, menjadi menteri adalah amanah, yang bisa diambil kapan saja. Dan, berbakti pada negara, tak hanya harus jadi menteri. Karena itu, ia ikhlas menerima pemberhentian dirinya.