Membela Penemuan ‘ Manchu Pichu ‘ Indonesia Di Gunung Padang

Manchu Pichu Gunung Padang

Lebahmaster.com , Manchu Pichu – Penemuan Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) tentang adanya situs purbakala di Gunung Padang, menyentak perhatian publik. Tim yang dipimpin geolog muda, Danny Hilman Natawidjaja meyakni Gunung Padang yang ada di Kabupaten Cianjur, adalah komplek punden berundak bentukan manusia. Artinya, di Gunung Padang, ada jejak peradaban masa silam mirip situs Manchu Pichu di Peru yang mendunia tersebut.

 

Tak pelak, penemuan tim yang pembentukannya di inisiasi oleh Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief itu jadi pembicaraan di mana-mana. Pemberitaan tentang itu pun gencar dilakukan. Dalam berbagai kesempatan, Andi Arief getol ‘mempromosikan’ temuan tentang situs megalitikum di Gunung Padang.

 

Banyak yang antusias menanggapi itu. Bahkan banyak pula yang mengapresiasi dan percaya atas temuan tim pimpinan Danny Hilman. Tapi, banyak pula yang menyangsikan temuan itu. Mereka yang menyangsikan, bukan orang awam. Namun orang-orang yang memang bergelut di bidang kepurbakalaan. Ya, banyak arkeolog yang tak percaya akan temuan itu. Pro kontra pun terjadi.

 

Danny Hilman, sebagai pimpinan TTRM, penemu situs Gunung Padang, akhirnya merasa perlu melakukan ‘pembelaaan’ atas temuan situs yang diyakini seperti Manchu Pichu-nya Indonesia. Lewat sebuah rilis pers yang dilansir 16 Januari 2014, Danny panjang lebar menjelaskan temuan tentang Gunung Padang. Rilis yang berisikan uraian panjang lebar itu di beri judul, ” Sudut Pandang Ilmiah Gunung Padang”.

 

Mengawali uraiannya, Danny menegaskan bahwa kerja ilmiah itu jujur dan tidak sombong.  Kata Danny, jujur berarti berpatokan pada data dan terbuka pada berbagai interpretasi dan pendapat yang berbeda. Sementara tidak sombong karena kebenaran ilmiah tidak mutlak, interpretasi bisa salah atau berubah karena ada data baru atau konsep baru.

 

Menurutnya, penelitian yang jujur selalu benar karena thesis yang salah tidak masalah, sebab itu berarti sudah membuktikan bahwa yang benar adalah anti-thesis. Diakuinya, dari tahun 2011 sampai 2014, telah terjadi kontroversi ilmiah di cagar budaya Situs Gunung Padang Cianjur, Jawa Barat.  Sejalan dengan hiruk-pikuknya pro dan kontra,  Gunung Padang menjadi pusat perhatian nasional bahkan dunia. Sehingga popularitasnya naik tajam. 

 

Penelitian ilmiah membuat Gunung Padang menjadi tujuan wisata favorit.  Pengunjung yang tadinya puluhan sekarang menjadi ribuan. Jadi itulah efek positif penelitian, “ kata Danny dalam rilisnya.

 

Tapi kata Danny, harus segera dilakukan pengelolaan supaya ledakan wisatawan tak merusak situs.  Selain itu, banyak orang yang dulu tidak tertarik kepada sejarah dan kepurbakalaan menjadi antusias.  Dunia arkeologi dan geologi pun jadi lebih diminati.

 

Cagar budaya Situs Gunung Padang adalah situs megalitik yang tersusun dari batu-batu kekar kolom (columnar joints) membentuk lima teras seluas 3 hektar di atas bukit,” katanya.

 

Kata Danny, semua sependapat  bahwa batu-batu berbentuk kolom atau balok memanjang dengan penampang segi 8,5,4,3 itu terbentuk secara alamiah sebagai kekar-kekar atau bidang-bidang rekahan yang terjadi ketika cairan magma panas mengalami pendinginan dan membeku menjadi batu.  Namun kata Danny, di Gunung Padang batu-batu kolom alamiah ini digunakan oleh manusia menjadi sebuah konstruksi batuan yang unik, sering disebut sebagai ‘punden berundak’ oleh para arkeolog.

 

Yang menjadi kontroversi sebenarnya masalah fisik yang simpel bukan mengenai teori atau konsep yang abstrak,” ujarnya.

 

Danny menambahkan, ada tiga hal, yaitu tentang luasan penyebaran situs di permukaan, tentang kondisi geologi di bawah permukaan situs, dan tentang umur situs. Dan, kata dia, ada dua kelompok utama yang bersilang pendapat.  Kelompok pertama berkeyakinan bahwa situs punden berundak megalitik hanya menempati area di puncak bukit tersebut seluas 3 hektar. Kemudian kelompok ini berkeyakinan bahwa bukit di bawah situs seluruhnya bentukan alamiah geologi.  Kelompok ini utamanya mewakili hasil penelitian dari  Arkenas dan Badan Geologi.

 

Jadi kita sebut saja Kelompok ABG,” kata Danny.

 

Danny melanjutkan, sementara kelompok kedua berpendapat bahwa situs punden berundak tersebut jauh lebih besar tidak hanya menempati puncak tapi melampar sampai ke bawah bukit seluas 15-25 hektar.  Jadi katakanlah mirip dengan situs Machu Pichu di Peru.   Kemudian hasil penelitian kelompok kedua mengatakan bahwa di bawah  situs punden berundak tersebut masih terdapat lapisan situs bangunan atau fitur yang lebih tua. Bahkan diduga mempunyai ruang-ruang dan lorong-lorong di bawah tanah. 

 

Kelompok kedua ini tergabung dari para peneliti berbagai disiplin ilmu dan institusi dikenal sebagai Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM),” katanya.

 

Para ahli di TTRM, kata Danny, meneliti bersama  secara sukarela karena hobi dengan memakai dana seadanya berasal dari sumbangan dan kocek kantong sendiri. Danny mengklaim penelitian yang dilakukan timnya bukan untuk memenuhi program pemerintah. Tapi ia mengakui, tim ini difasilitasi oleh Kantor Staf Khusus Presiden dan Sekretariat Negara. Fasilitasi hanya untuk koordinasi, perijinan dan komunikasi dengan instansi-instansi terkait.

 

Di media massa dan masyarakat pangkal kontroversi ilmiah yang sebenarnya biasa-biasa saja ini menjadi bias karena terdistorsi oleh bercampurnya banyak isu macam-macam tentang perdebatan piramid, spekulasi keberadaan perangkat teknologi canggih di dalam bukit, dikaitkan dengan hal-hal mistik, sampai dugaan ngawur adanya harta karun berupa emas berton-ton di dalam perut Gunung Padang,” tuturnya.

 

Kontroversi ujar Danny, kian riuh, karena satu kelompok menuduh kelompok lainnya melakukan perusakan situs dalam metoda penelitiannya. Selain itu perihal otoritas dan prosedur ijin penelitian pun dipermasalahkan. Padahal semua sudah diatur dengan jelas dalam UU tentang Cagar Budaya 2010. ” Jadi buat apa dipersulit,” cetus Danny. 

 

Danny pun merasa agak janggal kenapa itu terjadi. Karena kedua kelompok ini masing-masing didukung oleh para pakar senior yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan atau diragukan keahliannya di bidang masing-masing dan tentu masing-masing pihak paham akan hal perijinan dan pelestarian situs.  

 

Jadi kita fokus pada argumen-argumen ilmiahnya saja,” katanya.

 

Mengenai luasan situs punden berundak, kata Danny, kelompok ABG berpendapat bahwa situs Gunung Padang hanya menempati area datar di puncak bukit saja. Pendapat itu muncul, ujar Danny, karena mereka meng-klaim tidak melihat ada struktur punden berundak di lereng bukit, tapi hanya batu-batu kolom yang berserakan tidak beraturan. Sehingga dianggap lapisan hasil proses alamiah saja, yaitu karena pelapukan, erosi dan longsor.  Kata Danny, ini kesimpulan yang logis kalau diasumsikan ada tubuh batuan sumbat lava berstruktur kekar kolom  sebagai sumber batu-batunya  di bawah lapisan tanah dan bongkah batu-batu kolom tersebut. Tapi kata dia,  perlu diketahui bahwa lereng bukit dipenuhi pohon-pohon dan semak belukar. Sebagian lagi sudah dijadikan kebun-kebun penduduk. Sehingga sebenarnya tidak mudah untuk menyimpulkan status apakah batu-batu tersebut berserakan acak atau memang tadinya ada struktur teras-teras.  Butuh penelitian dan pemetaan yang lebih detil dan komprehensif.

 

Lain halnya dengan TTRM, menurut intuisi seorang arsitek struktur teras-teras besar di atas bukit logikanya harus ditopang sampai ke bawah agar dapat lestari sampai ribuan tahun,” katanya.

 

Dan kata dia, faktanya banyak sekali ditemukan batu-batu kolom di lereng-lereng  sampai ke sungai-sungai di bawahnya, serta di beberapa lokasi masih ditemukan teras-teras batu yang tersamar karena ditutupi oleh semak belukar.    Danny pun bercerita, tanpa sengaja ketika Tim TTRM pada pertengahan tahun 2012 melakukan pembersihan semak belukar untuk jalur lintasan survey georadar atau Ground Penetration Radar tertampak jelas teras-teras batu kolom membentuk undak berundak dari atas sampai ke bawah lereng pada lereng timur di bawah Teras 5, tepatnya di pojok selatan. Pada bulan Juni-Juli 2013, temuan ini dilanjutkan dengan pembersihan semak belukar di lereng Timur untuk melihat penyebaran teras-teras batu tersebut bekerjasama dengan Tim Badan Pengelola Cagar Budaya Serang.  Hasilnya positif menampakan struktur teras-teras batu meskipun memang banyak juga bagian yang sudah berserakan tidak beraturan.  

 

Tapi arkeolog dari kelompok ABG berkilah bahwa teras-teras batu yang terlihat dibuat oleh para petani untuk berladang, bukan bagian dari situs punden berundak,” katanya.

 

Solusinya, kata Danny, para ahli sosial-sejarah dapat mencari kebenaran apakah dulu ada para petani yang membuat teras-teras batu di lereng bukit Gunung Padang dari batu-batu kolom yang berserakan.  Para arkeolog yang berbeda pendapat, barangkali bisa dibantu oleh arsitek dan ahli lainnya, untuk sama-sama meneliti dan mendiskusikan fakta-faktanya di lapangan.  Dari kacamata geologi, untuk membantu perbedaan pendapat ini adalah dengan meneliti batuan dasar di bawah lapisan tanah yang mengandung banyak batu-batu kolom.  Apabila misalnya ternyata tidak ada batuan sumber di bawah lapisan tanah maka mustahil batu-batu itu berserakan begitu saja secara alamiah. Jumlah batu-batu kolom yang berserakan di lereng-lereng sampai ke sungai tersebut volumenya sangat besar . 

 

Artinya, kalau dianggap akibat longsoran, maka harus ada sumber batuan atau pangkal longsornya di bagian atas. Dan hal itu tidak ditemukan, selain argumen bahwa batu-batu kolom tersebut besar dan berat sekali sehingga  tidak mudah untuk bergerak longsor sampai jauh, paling merayap sedikit-sedikit ke bawah,” urainya.

 

Maka kata Danny, untuk mengerti kontroversi harus mengerti hubungan batu kekar kolom dalam kaitannya dengan struktur geologi.   Arah kekar kolom yang terbentuk ketika lava membeku akan selalu tegak lurus terhadap permukaan pendinginannya atau ”cold fronts atau persentuhan udara/air dengan permukaan luar tubuh cairan magma.  Artinya secara umum dapat dikatakan bahwa arah kolom akan tegak lurus permukaan magma atau bidang lapisan, kalau sudah membeku jadi batu.  Lapisan batuan gunung api berstruktur kekar kolom yang teratur disebut “collonade”. Tentu ada banyak variasi proses alam yang dapat membuat orientasi kolom menjadi lebih acak.  Misalnya apabila lava panas masuk ke dalam air sehingga “cold fronts”nya menjadi kurang teratur dan menghasilkan arah-arah kekar kolom yang terlihat acak juga.  Lapisan kekar kolom yang berorientasi acak disebut lapisan “entablature”.  Apabila ‘intrusi’ magma alirannya berubah arah dari vertikal menjadi horisontal, maka struktur kolom yang terbentuk pun akan terlihat seperti kipas, dari horisontal menjadi vertikal mengikuti arah aliran atau lapisannya.

 

Jadi pada prinsipnya hubungan arah orientasi batu kolom dan kedudukan lapisan batuannya dapat dijadikan patokan untuk menentukan apakah batu-batu kolom yang tersusun dalam kondisi alamiah atau tidak,” ujar Danny.

 

Ciri alamiah lain, kata Danny, permukaan kolom-kolom batunya bersinggungan rapat saling mengunci satu sama lain, dan tidak ada material pengisi diantaranya. Geolog kelompok ABG berpendapat bahwa seluruh bentukan bukit Gunung Padang adalah alamiah, yaitu merupakan tubuh intrusi vertikal  batuan beku – sumbat lava yang berstuktur kekar kolom. Sumbat lava adalah cairan magma yang naik vertikal melalui leher (utama) kepundan gunung api purba dan membeku, kemudian badan gunung api di sekelilingnya tererosi. Sehingga tersisa tubuh batuan sumbat lava, biasanya berbentuk silindris menjulang vertikal ke atas seperti contohnya “The Devil Tower Columnar Joints” di Amerika Serikat yang sangat terkenal.  Dengan catatan, kekar kolom Devil Tower arahnya vertikal, mungkin dekat dengan “cold-front” diatasnya, yaitu batas permukaan sumbat lava dengan udara di atas.

 

Tapi hipotesa ini tidak didukung oleh bentuk morfologi bukit,”ujarnya.

 

Kemudian keberadaan sumbat lava kata Danny, hanya berdasarkan singkapan batuan gunung api yang sudah terubah oleh proses-proses hidrothermal di kaki bukit bagian utara yang diasumsikan terjadi karena dekat dengan leher kepundan gunung api purba itu.  Namun ujarnya, tidak ada tubuh batuan sumbat lava yang tersingkap di Gunung Padang.  Juga tidak ada data survei bawah di permukaan yang menunjang  bahwa sumbat lava tersebut benar-benar ada.

 

Tapi walaupun apa yang dihipotesakan itu benar, data singkapan geologi hanya bisa diextrapolasikan interpretasinya untuk bentukan geologi, tidak bisa dipakai untuk melihat apakah ada struktur non-geologi di atasnya,” katanya.

 

Maka kata dia, untuk mengetahui itu tetap diperlukan survei bawah permukaan. Belakangan dalam acara seminar dari kelompok ABG yang diadakan Puslit Geoteknologi tanggal 15 Januari 2014 di Kampus LIPI Bandung, geolog Kelompok ABG tersebut merubah kesimpulannya, dibilang bahwa sumbat lavanya bukan di bukit Gunung Padang tapi di bawahnya lagi.  Yang membentuk Gunung Padang adalah material longsoran katanya, sambil menjelaskan bahwa studi geologinya masih tahap pendahuluan butuh penelitian lanjutan. Sehingga saat ini belum dapat dipastikan apa sesungguhnya struktur atau lapisan geologi yang membentuk Gunung Padang.

 

Lubang eskavasi arkeologi yang dilakukan Arkenas pada tahun 2003 di Teras-1 menembus lapisan batu-batu kekar kolom yang tersusun sangat rapih secara horisontal,”kata Danny.

 

Di acara seminar arkeolog ABG katanya, menerangkan bahwa lapisan susunan batu kolom di bawah permukaan tanah ini adalah batuan alamiah/induk columnar joints yang menjadi sumber batuan dari batu-batu kolom yang dipakai membangun situs punden berundak di atasnya.  Tapi tidak dapat memberi penjelasan lebih lanjut jenis batuan alamiah tersebut apa. Apakah termasuk yang dimaksudkan dengan lapisan batuan longsoran gunung api atau mengacu ke hipotesa sebelumnya, yaitu batuan sumbat lava berkekar kolom. Danny menambahkan, lubang gali tim arkeologi TTRM di lereng  Timur juga menemukan lapisan batuan yang sama.  Kedudukan batu kolomnya juga (hampir) horisontal dan berorientasi  hampir barat-timur, sama dengan yang ditemukan di bawah Teras-1 tersebut.  Artinya dalam perspektif geologi lapisan ini akan ditafsirkan sebagai  “collonade”. Susunan batu kolom di bawah tanah itu benar-benar rapih dan kompak tapi setiap kolomnya terbungkus oleh lapisan material halus dengan ukuran diameter kolom sangat beragam, tidak seragam seperti batu kekar kolom di alam.    Dengan matriks batuan yang sangat rapih dan kompak seperti itu jelas mustahil dikatakan sebagai hasil longsoran. Tapi juga sulit untuk dikatagorikan sebagai batu kekar kolom primer. 

 

Satu cara  pembuktian lebih gamblang, harus tahu struktur di bawah permukaannya. Apakah ada tubuh batuan intrusi yang vertikal di bawah Teras 1?  Karena kedudukan batu kekar kolomnya horisontal,” kata Danny.

 

Kelebihan TTRM dibanding Kelompok ABG, lanjut Danny, sudah melakukan survei geofisika bawah permukaan.  Hasil survei georadar dan geolistrik yang melintas di dua galian arkeologi tersebut memperlihatkan bahwa susunan batu-batu kolom di bawah tanah tersebut merupakan lapisan batuan horisontal di bawah Teras atau sejajar permukaan di lerengnya, dengan tebal hanya beberapa meter.  Jadi dari memahami hubungan  antara kedudukan kekar kolom dan lapisannya dapat lebih tegas disimpulkan bahwa lapisan batuan itu bukan batuan alamiah primer berkekar-kolom tapi disusun oleh manusia.
Selain itu kata dia, data bor memberikan data tambahan bahwa lapisan batuan tersebut ternyata dilandasi oleh satu lapisan pasir-kerikilan lepas setebal puluhan sentimeter.  Dalam penampang georadar atau radargram lapisan pasir kerikilan tersebut terlihat sebagai garis tebal hitam karena perubahan tajam “dielectric constant” yang tinggi atau lapisan kompak batu kolom ke dielectric constant rendah (lapisan pasir). Lintasan-lintasan georadar di seluruh teras memperlihatkan bahwa lapisan pasir tersebut melandasi seluruh teras-teras situs pada kedalaman sekitar 4-5 meter, sangat konsisten.

 

Singkatnya  dapat disimpulkan sangat kuat bahwa lapisan kedua susunan batu kolom yang dicirikan oleh ukuran diameter sangat beragam, mempunyai sisipan atau terbungkus material ukuran lempung, tersusun horisontal paralel dengan kedudukan lapisannya setebal beberapa meter di atas  hamparan pasir dibuat manusia atau merupakan lapisan situs budaya, bukan lapisan geologi. 

 

Konstruksi susunan batu-batu kolom tersebut terlihat lebih rapih dan kompak dibanding yang terlihat pada situs megalitik di permukaan tanah,” katanya.

 

Lapisan kedua di bawah tanah ini lanjut Danny, kemungkinan besar sama dengan yang tersingkap dipermukaan, yaitu pada dinding tinggi yang memisahkan antara Teras 1 dan Teras 2, berupa dinding batu berundak-undak tersusun sangat rapih oleh batu-batu kolom yang difungsikan seperti batu bata.  Suatu konstruksi bangunan yang sama sekali berbeda gaya konstruksinya dengan situs punden berundak yang disusun lebih sederhana dan didekorasi oleh batu-batu kolom yang diposisikan berdiri tegak.  Jadi situs di permukaanpun kelihatannya harus dipetakan dan dipilah-pilah lagi karena mungkin tidak berasal dari satu fasa atau generasi.

 

Inilah perlunya kerjasama terpadu keahlian arkeologi dan geologi. Arkeologi meneliti aspek tinggalan budayanya, geologi mengkaji unsur-unsur alamiahnya dan membantu membedakan mana alamiah mana tidak,” tutur Danny.

 

Tapi kata Danny, tidak bisa disalahkan apabila arkeolog sukar membedakan susunan batu kolom alamiah dan yang disusun manusia karena bisa sangat mirip kalau tidak paham geologi.  Ahli geologi kelompok ABG  bukannya bodoh apabila salah menginterpretasikan struktur bawah permukaan Gunung Padang karena mereka tidak punya data bawah permukaan dan tidak pernah juga melihat dengan mata-kepala sendiri singkapan bawah permukaan pada lubang galian arkeologi.

 

TTRM sudah melakukan survei geofisika bawah permukaan dengan sangat intensif dan komprehensif, meliputi survey georadar, geolistrik (multi channel resistivity), geomagnet, dan seismik tomografi,“katanya.

 

Tim juga kata Danny lagi, melakukan pengeboran di empat titik untuk melihat stratifikasi batuan, kalibrasi pemindaian geofisika, dan mengambil sampel batuan.  Lubang bor pertama di Teras 3 sampai kedalaman 29 meter, dua lubang bor lainnya di pinggir Teras 5 dan satu lubang bor di lereng timur, masing-masing mencapai kedalaman sekitar 15 meter. Bisa dikatakan bahwa kontroversi di media tentang apa yang ada di bawah permukaan Gunung Padang adalah ‘kontroversi ilmiah yang semu’, karena yang di ‘anti-thesis’kan oleh kelompok ABG hanya berdasarkan opini umum dari mendengar berita hasil penelitian TTRM di media massa atau curi-curi melihat gambar-gambar penampang geolistrik, georadar, dan seismik tomografi. 

 

Kelompok ABG belum pernah melihat dan mendengar secara utuh presentasi dari hasil penelitian mutakhir TTRM. Sehingga sebenarnya terlalu cepat untuk berbeda pendapat,”ujarnya.

 

Maka katanya, lumrah saja kalau ada perbedaan pendapat  antara seorang ahli dengan yang lainnya dalam menginterpretasikan hasil survei bawah permukaan, asal masing-masing interpretasi dapat dijustifikasi secara ilmiah, dan itu hanya bisa dilakukan kalau sudah sama-sama melihat datanya dulu secara utuh dan mendiskusikan atau memperdebatkannya dalam forum ilmiah.  Dalam forum yang benar, perbedaan interpretasi akan memperkaya dan mempertajam analisa. Sehingga akan mendapatkan kesimpulan yang lebih baik, bukan malah jadi bahan perpecahan.

 

Danny pun kemudian menjelaskan uraian ringkas dari survey pemindaian geofisika bawah permukaan dan data bor. Kata dia, terlihat ada lima lapisan dari atas sampai kedalaman 150 meter.  Pada penampang geolistrik atau struktur lapisan berdasarkan nilai resistivitas.  Survei geolistrik memetakan struktur bawah permukaan ini dengan cara memasukkan arus listrik ke dalam bumi kemudian merekam arus listrik yang kembali ke permukaan pada elektroda-elektroda yang terpasang dengan membawa data resistivitas batuan atau tanah yang dilaluinya di bawah permukaan. Resistivitas adalah sifat material  untuk tidak menghantarkan arus listrik. Batuan keras, kompak dan padat seperti batuan beku andesit mempunyai nilai resistivitas sangat tinggi sedangkan batuan berpori atau berongga atau didominasi lempung biasanya mempunyai resistivitas rendah.  Kandungan air adalah faktor yang sangat berpengaruh. 

 

Makin jenuh makin rendah resistivitasnya karena air menghantarkan arus listrik,”ujarnya.

 

Lapisan pertama yang mempunyai nilai resistivitas rendah lanjut Danny, adalah Situs punden-berundak yang terdiri dari susunan batu-batu kolom andesit-basaltik (columnar joint rocks) beralaskan tanah dan bongkah-bongkah batuan.  Di bawahnya ada lapisan kedua dengan resistivitas tinggi, yang merupakan batu-batu kekar kolom tersusun sangat kompak dan diantaranya terisi material halus pejal setebal beberapa meter sampai kedalaman sekitar 5 meter.  Lapisan ketiga mempunyai resistivitas sedang, juga tersusun dari batu-batu kekar kolom yang sama tapi posisi kolomnya miring terhadap kedudukan lapisan. 

 

Pada radargram dari survei georadar kata Danny, terlihat susunan batu kolom lapisan ketiga ini seperti ‘teranyam’ teratur.  Kalau dalam geologi terlihat seperti struktur “cross bedding” dan perlapisan “onlap” dan “offlap”. Namun struktur ini biasanya terdapat pada pengendapan sedimen pasir karena media air atau angin bukan untuk balok-balok batu kekar kolom.  Lapisan ketiga tebalnya sekitar 10 meter sampai kedalaman 15 meter dari muka tanah. Dan pada kedalaman 15 meter barulah pengeboran menembus formasi batuan alamiah atau geologi berupa tubuh batuan lava basaltik masif terkekarkan. Tebal lava mencapai lebih dari 15 meter. 

 

Setelah dilakukan grid lintasan geolistrik yang cukup rapat dengan resolusi tinggi (spasing elektroda 2 m) ternyata tubuh ‘lidah’ lava ini tidak begitu saja menclok di atas bukit yang memanjang utara-selatan tapi ditemukan leher ‘intrusi’batuan magmanya di sebelah timur Teras 3 dan 4, tidak di bawah teras-teras situs,” urai Danny.

 

Leher intrusi ini ujarnya, kira-kira berdiameter sekitar 15-20 m. Yang lebih menarik lagi, geometri luar tubuh batuan lava  terlihat tidak alamiah tapi seperti sudah dipahat atau dibentuk oleh manusia.
(Bersambung ke bagian 2 ) .. By. Agus . S

 

Artikel Lain : Ada Rabindranath Tagore Di Borobodur