MEMBENTUK SIKAP ETOS KERJA SESUAI DENGAN TUNTUNAN NABI

323

Membentuk Sikap Etos Kerja Sesuai Tuntunan Nabi

Manusia adalah makhluk pekerja. Dengan bekerja manusia akan mampu memenuhi segala kebutuhannya agar tetap hidup. Manusia harus bekerja dan berusaha sebagai manifestasi kesejatian hidupnya demi menggapai kesuksesan dan kebahgaian hakiki, baik jasmani maupun rohani, dunia dan akhirat. Namun, bekerja tanpa dilandasi seamangat untuk mencapai tujuan tentu saja akan sia-sia. Karena itu, sebuah pekerjaaan yang berkualitas seharusnya dilandasi dengan niat yanng benar dengan disertai semangat yang kuat.

Tujuan bekerja setiap orang berbeda-beda, tergantung pada niatnya, sebagian orang tidak menghadirkan rasa religius dalam niat bekerjanya akan berakibat tidak merasa bahagia dalam bekerja, mereka hanya mendapat tujuan dari bekerjanya atau cukup secara jasmani namun tidak bahagia batinnya.

Al Quran telah menegaskan bahwasanya yang perlu dicari adalah keutamaan dan keridhoan.makna kerja dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk memenuhi kebutuhannya, baik didunia maupun akhirat. Bekerja bukanlah sekedar untuk memperoleh penghasilan, namun bekerja yang lebih hakiki merupakan perintah Tuhan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Melalui bekerja, dapat diperoleh beribu pengalaman, dorongan kerja, bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin.

Sebagian dari umat Islam, masih memahami Islam secara sederhana, yakni dengan memandang hanya sholat wajib dan sunnah, mengaji, dan beragam ibadah lainnya. Masih belum banyak yang memahami bahwa islam juga mendorong umatnya untuk memiliki etos kerja yang handal. Nilai spiritual berupa “keberkahan” sangatlah penting untuk diutamakan dalam bekerja, bahkan lebih penting dari segala-galanya. Bayangkan saja jika seseorang melakukan pekerjaan yang tidak baik atau penghasilan yang tidak halal cepat atau lambat akan berimbas pada keluarganya maupun dirinya sendiri bahkan orang-orang disekitarnya. Bekerja memang sangat dianjurkan tetapi harus ada batasannya, jangan sampai kita lupa akan segalanya yang telah kita punya karena kita sibuk mengejar materi terus menerus. Bisa kita lihat sendiri sekarang banyak sekali keluarga-keluarga yang hancur karena kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan bekerja sehingga anak-anaknya mengalami pergaulan bebas karena kurangnya perhatian dari orang tua.

Karena bekerja berkaitan dengan nilai kejiwaan seseorang, hendaknya setiap pribadi muslim harus mengisinya dengan kebiasaan-kebiasaan yang positif dan ada semacam kerinduan untuk menunjukkan kepribadiaannya sebagai seorang muslim dalam bentuk hasil kerja serta sikap dan prilaku yang menuju atau mengarah kepada hasil yang jenih sempurna. Akibatnya, cara dirinya mengekspresi sesuatu selalu berdasarkan semangat untuk menuju kepada perbaikan dan terus berupaya dengan semangat bersungguh-sungguh meghindari yang negatif.

Bekerja menunjukkan pula sikap dan harapan seseorang. Imam Al-Qusairi mengartikan harapan sebagai keterpaduan hati kepada yang diinginkannya terjadi di masa yang akan datang. Perbedaan antara harapan dengan angan-angan adalah bahwasanya angan-angan membuat seseorang menjadi pemalas dan terbuai oleh khayalannya tanpa mau mewujudkannya. Kita menyaksikan begitu banyak orang yang berhasil dan mampu mengubah wajah dunia, mereka adalah yang seluruh hidupnya diabdikan untuk mewujudkan pengetahuan dan harapannya tersebut melalui semangat kerja yang tak kenal kata mundur atau menyerah. Hidupnya menjadi bermakna karena ada harapan. Pantaslah Allah SWT menyeru kita untuk tetap memiliki harapan dan menggolongkan mereka yang berputus asa ke dalam golongan orang-orang yang sesat.

Di Indonesia tingkat pekerja dan pengangguran masih belum seimbang bahkan malah lebih banyak yang pengangguran, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, pada tahun 2017 telah terjadi kenaikan jumlah  pengangguran di Indonesia sebesar 10.000 orang menjadi 7,04 juta orang pada Agustus 2017 dari Agustus 2016 sebesar 7,03 juta orang. Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan, pertambahan jumlah  pengangguran tersebut disebabkan oleh peningkatan jumlah angkatan kerja di Indonesia.

“Setahun terakhir, pengangguran bertambah 10.000 orang menjadi 7,04 juta di Agustus 2017,” ujar Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (6/11/2017).

“Jumlah angkatan kerja yang masuk mencapai 3 juta orang per tahun, jadi komposisi pekerja dan penganggurannya akan terus naik seiring jumlah penduduk. Tapi yang penting persentase TPT-nya turun,” katanya.

Sementara dari tingkat pendidikan, jumlah pengangguran tertinggi ada pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dibandingkan dengan tingkat pendidikan lain, yakni mencapai sebesar 11,41 persen. Padahal lulusan SMK sendiri mungkin bisa menyalurkan bakatnya atau keahliannya di BLK (Balai Latihan Kerja) untuk di bimbing lagi dan nantinya bisa membuka usaha tersendiri dan malah dapat membantu orang lain.

Mereka sadar bahwa untuk mewujudkan harapannya itu haruslah memiliki kualitas sehingga mampu bersaing. Hidup adalah sebuah persaingan(fastabiqul khairat). Itulah sebabnya, untuk menjadikan diri yang berkualitas, dia tak kenal berhenti untuk terus belajar, belajar, dan belajar. Merekapun sadar bahwa tiga potensi dirinya, yaitu head, heart, dan hand, hanyalah sebuah khayalan bila tidak ditambah dengan satu sikap yang mutlak diperlukan, yaitu hard working.

Dalam Islam sendiri telah diperintahkan untuk bekerja, sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عَنْ رِفَعَةٍ بْن رَافِعٍ اَنَّ النَّبِىَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ اَىُّ اْلكَسَبِ اَطْيَبُ ؟ قَالَ : عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيِّعٍ مَبْرُوْرٌ ( رَوَاهُ اْلبَزَار وَصَحَحَهُ الحَكِيْم )

“Dari Rifa’ah bin Rafi’ berkata bahwa Nabi Muhammad SAW ditanya tentang usaha yang bagaimana dipandang baik?. Nabi menjawab: Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap perdagangan yang bersih dari penipuan dan hal-hal yang diharamkan.” (HR. Al-Bazzar dan ditashihkan Hakim)

Di dalam hadis tersebut menjelaskan bahwa Islam senantiasa mangajarkan kepada umatnya agar beruasaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak dibenarkan seorang muslim berpangku tangan saja atau berdoa mengharapkan rezeki datang dari langit  tanpa adanya usaha. Namun demikian, tidak dibenarkan pula terlalu mengandalkan kemampuan diri sehingga melupakan pertolongan dari Allah Subhanahu wa ta’ala dan tidak mau berdoa kepada-Nya. Telah menjadi sunnatullah di dunia bahwa kemkamuran akan dicapai oleh mereka yang bekrja keras dan memanfaatkan segala potensinya untuk mencapai keinginannya. Hikmah dari rezeki yang dihasilkan melalui tangan sendiri adalah terasa lebih nikmat daripada hasil kerja orang lain juga akan menumbuhkan hidup hemat karena merasakan bagaimana payahnya mencari rezeki.

Dalam bekerja sangatlah penting kita memperhatikan hal-hal berikut agar dapat menjadi pekerjaan yang mendapat keberkahan dunia dan akhirat yaitu:

  1. Niat

Segala sesuatu memang berdasarkan niat, semua yang terjadi itu tergantung pada niat awal kita. Maka berniatlah ikhlas karena Allah ta’ala, setelah itu kita akan merasa bahwa semua yang kita lakukan selalu di awasi oleh Allah dan di ridhoi-Nya sehingga kita akan selalu berhati-hati dalam melakukan pekerjaan dan kita akan merasa bersyukur atas apapun yang kita peroleh.

  1. Bekerja keras

Cita-cita adalah penyemangat kita dalam melakukan suatu hal, jika kita memiliki cita-cita yang tingggi maka kita perlu melakukan kerja keras tanpa ada rasa menyerah dan puas sebelum terpenuhinya cita-cita. Dalam bekerja kita seharusnya menjauhi gaya hidup yang hura-hura, membuang uang dengan sia-sia, dan kita harus selalu ingat tujuan awal kita bekerja dan apa cita-cita kita.

  1. Tangguh dan pantang menyerah

Keuletan merupakan modal yang sangat besar di dalam mengahapi segala tanatngan atau tekanan (pressur), sebab sejarah telah banyak membuktikan batapa banyak bangsa yang mempunyai sejarah pahit, namun akhirnya dapat keluar dengan berbagai inovasi, kohesivitas kelompok, dan mampu memberikan prestasi yang tinggi bagi lingkungan.

  1. Efisiensi Waktu

Bagi yang mempunyai etos kerja islam ia selalu menganggap waktu adalah aset Illahi yang sangat berharga, adalah ladang subur yang membutuhkan ilmu dan amal untuk diolah serta dipetik hasilnya pada waktu yang lain. Waktu adalah kekuatan. Mereka yang mengabaikan waktu berarti menjadi budak kelemahan. Bila kita memanfaatkan seluruh waktu, kita sedang berada di atas jalan keberuntungan. Hal ini sebagaimana firmanNya :

“Wal-‘ashri, sesungguhnya manusia pasti dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh saling berwasiat dalam kebaikan dan dalam kesabaran.”(Al-‘Ashr : 1-3)

  1. Percaya Diri

Pribadi muslim yang percaya diri tampil bagaikan lampu yang benderang, memancarkan raut wajah yang cerah dan berkharisma. Orang yang berada disekitarnya merasa tercerahkan, optimis, tentram, dan muthma’innah. Penelitian Boyatzis membuktikan bahwa para penyelia, manajer, dan eksekutif yang percaya diri lebih berprestasi dari orang yang biasa-biasa saja.Percaya diri melahirkan kekuatan, keberanian, dan tegas dalam bersikap. Berani mengambil keputusan yang sulit walaupun harus membawa konsekuensi berupa tantangan atau penolakan.

  1. Tanggung Jawab

Tanggung jawab adalah menanggung dan memberi jawaban, demikian pengertian takwa yang kita tafsirkan sebagai tindakan bertanggungjawab dapat didefinisikan sebagai sikap dan tindakan seseorang di dalam menrima sesuatu sebagai amanah; dengan penuh rasa cinta, ia ingin menunaikannya dalam bentuk pilihan-pilihan yang melahirkan amal prestatif.

  1. Kejujuran

Seorang  muslim adalah tipe manusia yang terkena kecanduan kejujuran; dalam keadaan apapun, dia merasa bergantung pada kejujuran. Diapun bergantung pada amal saleh, dirinya seperti terkena sugesti yang kuat untuk selalu berbuat amal saleh. Sekali dia berbuat jujur atau berbuat amal saleh prestatif, dirinya bagaikan ketagihan untuk mengulangi dan mengulanginya lagi. Dia terpenjara dalam cintanya kepada Allah. Tidak ada kebebasan yang dia nikmati kecuali dalam pelayanannya kepada Allah.

  1. Istiqamah dan Kuat Pendirian

Pribadi muslim yang profesional dan berakhlak memiliki sikap konsisten yaitu kemampuan untuk bersikap secara taat asas, pantang menyerah, dan mampu mempertahankan prinsip serta komitmennya walau harus berhadapan dengan resiko yang membahayakan dirinya. Mereka mampu mengendalikan diri dan mengelola emosinya secara efektif. Tetap teguh pada komitmen, positif, dan tidak rapuh kendati berhadapan dengan situasi yang menekan. Sikap konsisten telah melahirkan kepercayaan diri yang kuat dan memiliki integritas serta mampu mengelola stres dengan penuh gairah.

Seorang yang istiqamah tidak mudah berbelok arah betapapun godaan untuk mengubah tujuan begitu memikatnya. Dia tetap pada niat semula. Istiqamah berarti berhadapan dengan segala rintangan masih tetap berdiri. Konsisten berarti tetap menapaki jalan yang lurus walaupun sejuta halangan menghadang. Ini bukan idealisme, tetapi sebuah karakter yang melekat pada jiwa setiap pribadi muslim yang memiliki semangat tauhid laa ilaaha illahhah. Sebagaimana Bilal yang tetap mengucapkan “ahad…ahad…ahad !!! walaupun dicambuk dan kulitnya melepuh karena dibakar di atas pasir panas dan ditindih batu yang besar di atas perutnya. Dan Nabi pernah bersabda bahwa: ”satu keistiqomahan lebih baik dari seribu karomah”.

  1. Profesionalisme

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي)

Dari Aisyah r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani, No: 891, Baihaqi, No: 334).

Hadis diatas sudah menjelaskan dengan jelas bahwa Allah mnecintai seseorang yang apabila dia bekrja dengan profesional, dengan dia profesional berarti dia telah menerapkan sifat amanah, dan terbukti bahwa dia bekerja sesuai dengan bidang yang digeluti.

  1. Memiliki Sifat Semangat Perubahan

Pribadi yang memiliki etos kerja sangat sadar bahwa tidak akan ada satu makhlukpun di muka bumi ini yang mampu mengubah dirinya kecuali dirinya sendiri. Betapapun hebatnya seseorang untuk memberikan motivasi, hal itu hanyalah sebuah kesia-siaan belaka, bila pada diri orang tersebut tidak ada keinginan untuk dimotivasi, tidak ada elan api yang menyala-nyala untuk mengubah diri. Benarlah apa yang difirmankan Allah Subhanahu wa ta’ala Berbunyi:

…..”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah keadaan diri mereka sendiri…(Ar-Rad : 11).

Ayat ini mengajak kita untuk memainkan peran, mengubah nasib, dan menempatkan diri dalam posisi diri yang mulia ataukan yang hina.

Dengan menumbuhkan sikap-sikap diatas, maka kita termasuk seorang muslim yang menumbuhkan etos kerja yang sesuai dengan tuntunan Nabi, maka akan tumbuh banyak perkerja yang berkualitas dan mungkin bisa mengurangi tingkat korupsi. Karena mereka tidak hanya mengejar keduniawian saja, tetapi juga mendapatkan bekal untuk di akhirat kelak.

Penulis dan Pengirim Artikel:
Nama: Novia Fahris Salimi
Aktivitas: Mahasiswi IAIN Kudus

Baca Juga: Metode Pengobatan Stem Cell Menurut Perspektif Hukum Islam