Menteri Profesional ‘Kalahkan’ Menteri Dari Parpol

873

Dian Permata : Menteri Profesional dan Menteri Parpol

Lebahmaster.com , Menteri Profesional – Pada hari Minggu, 8 November 2015, Founding Fathers House (FFH) kembali melansir hasil survei terbarunya. Survei kali ini, mengenai tingkat pengenalan publik terhadap menteri-menteri kabinet kerja Jokowi dan Jusuf Kalla.

 

Saat mempublikasikan hasil surveinya, Peneliti Senior FFH Dian Permata, mengungkapkan berdasarkan hasil riset nasional FFH diketahui, tingkat pengetahuan publik terhadap anggota Kabinet Kerja yang berasal dari professional atau non partai politik lebih baik ketimbang yang berasal dari partai politik. Dalam sigi itu, Susi Pudjiastuti, IGN Jonan, Khofifah Indar Parawansa, Anies Baswedan, dan Rizal Ramli, masuk dalam lima besar dalam kategori pertanyaan top of mind .

 

Susi Pudjiastuti dikenal publik 16,5 persen, IGN Jonan 14,1 persen, Khofifah Indar Parawansa 9,3 persen, Anies Baswedan 3 persen, Rizal Ramli 2,3 persen, ” kata Dian. 

 

Sedangkan menteri dari partai, seperti Imam Nachrowi misalnya hanya dikenal 2,3 persen. Lukman Hakim Saefuddin pun demikian, hanya dikenal 0n8 persen. Sementara  Pramono Anung dikenal 0,8 persen, Tjahjo Kumolo, tingkat pengenalannya 0,8 persen, Puan Maharani 0,5 persen, lainnya 4,8 persen. Dan yang menjawab tidak tahu atau tidak jawab sebanyak 61 persen. 

 

Posisi lima teratas ditempati menteri non partai politik. Nama mereka muncul ketika responden ditanyai dalam riset serta tanpa disertai pilihan jawaban yang disediakan kuisioner. Jadi, nama menteri yang ada di  benak dan dipikiran merekalah yang ke luar,” kata Dian.
Dilanjutkan Dian, tingginya tingkat pengenalan publik terhadap lima menteri tersebut dalam metode top of mind, sedikit banyak dilatarbelakangi frekuensi kemunculan mereka di media massa yang besar. Tentu saja, frekuensi liputan media massa terhadap nama-nama menteri itu juga dipengaruhi oleh inovasi atau terobosan, kebijakan yang dikeluarkan, memiliki news value tinggi, isu kekinian, atau bisa memiliki nilai kontroversi tinggi.
Untuk inovasi atau terobosan kebijakan sebagai contoh seperti kebijakan penenggelaman kapal. Atau seperti pemberian hukuman kepada maskapai penerbangan yang memiliki catatan buruk soal ketepatan dalam memberikan pelayanan,” tuturnya.

 

Dian menambahkan, isu kekinian seperti kasus kekerasan terhadap anak dan asap karena kebakaran hutan, juga jadi sorotan publik yang mempengaruhi persepsi khalayak. Isu seperti kritikan pedas soal mega proyek PLN 35 ribu MW atau tantangan debat terbuka diantara pejabat negara, adalah isu yang memiliki kontroversi tinggi
Makanya tidak mengherankan apabila dalam 1,5 bulan sejak dilantik, nama Rizal Ramli cukup dikenal. Dengan istilah Rajawali Ngepret yang sering ia lontarkan membuat publik mengenalnya. Apalagi, isu yang dilontarkannya cukup sensitif dan membuat panas telinga pihak terkait,” urai Dian.
Kondisi ini juga kata Dian, berbanding lurus saat responden ditanyai perihal pengetahuan mereka terhadap posisi jabatan di Kabinet Kerja. Metoda yang digunakan juga sama dengan pertanyaan terbuka. “Seperti sebutkan nama Menteri Kelautan dan Perikanan. Tanpa ada pilihan jawaban yang disajikan FFH. Hasilnya, sebanyak 25,8 persen menjawab Susi Pudjiastuti dan 74,2 persen tidak tahu atau tidak menjawab” ujarnya.

 

Kontras sekali dengan menteri yang berasal dari partai politik. Sebut saja diantaranya Yasonna H Laoly, hanya 0,8 persen reponden yang benar menjawab Menteri Hukum dan HAM adalah Kader PDIP itu. Dan, hanya 0,7 persen reponden menjawab Menteri Ketenagakerjaan dan Transmigrasi adalah Hanief Dhakiri. Hasil riset lainnya, hany 0,3 persen reponden menjawab Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup adalah siti Nurbaya.

 

Namun ada juga yang baik. Seperti Menteri Dalam Negeri. 4,5 persen responden menjawab Tjahjo Kumolo. Lalu 3 persen responden menjawab Menteri Agama adalah Lukman Hakim Saefuddin. Berikutnya, hanya 7 persen responden menjawab Menteri Olah Raga dan Pemuda adalah Imam Nachrowi,” ujarnya. 

 

Yang menarik, sambung Dian, Ada juga nama menteri lama yang justeru masih diingat responden. Seperti ketika ditanyakan siapakah nama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). “ Nama Dahlan Iskan muncul dan angkanya sama dengan Rini Soemarno 0,5 persen. Riset FHH itu sendiri dilaksanakan 10 September hingga 21 Oktober 2015 di 34 provinsi. Jumlah sampel 1090 responden dan sudah memiliki hak pilih atau sudah menikah. Margin of error ± 2.97 persen. Tingkat kepercayaan  95 persen. Metoda Top of Mind yakni brand atau produk yang menancap pertamakali di benak atau ingatan konsumen. Metoda ini kerap digunakan pada ilmu marketing. Namun, dalam kemajuan ilmu pengetahuan, metoda ini juga kerap digunakan dalam ilmu marketing politik dan survei.