Merawat Anak, Menjaga Amanah Tuhan

1739

Menjaga Amanah Tuhan Dengan Merawat Anak secara Baik dan Benar

Merawat Anak, Menjaga Amanah Tuhan

Merawat Anak – Ketika tangis si kecil pecah memecah waktu, bukankah itu saat kebahagiaan terasa lengkap. Kehidupan terasa paripurna. Ada istri tercinta yang telah memberikan cahaya kehidupan, ada si kecil penerus sejarah.

Agama Islam mengajarkan, anak adalah amanah. Singkatnya, sebuah kepercayaan yang diberikan Allah SWT pada kita. Sebagai sebuah kepercayaan, haram hukumnya untuk menyia-nyiakannya. Apalagi kepercayaan itu datangnya dari Sang Khalik.  Sungguh sebuah kehormatan dipercaya mengemban amanat atau titipannya.

Maka saya sangat heran jika ada yang menyia-nyiakan seorang anak. Tiada terkira dosanya, karena sama saja dengan menolak titipan Tuhan. Memang jika proses lahirnya anak bukan dengan cara yang sah, yang ada memang rasa bersalah. Rasa malu berbaur dengan penyesalan. Tak jarang jika kemudian ada kisah bayi dibuang orang tuanya.

Tapi bayi mungil yang lahir tetaplah punya hak. Kalau lahirnya si mungil lewat jalan yang salah, tidakkah dengan kehadirannya kita diingatkan untuk kembali ke jalan yang benar. Kembali pulang ke jalanNya. Cobalah bagi ibu atau ayah seorang anak berpikir sejenak. Kenapa dia besar lalu dewasa, itu karena haknya sebagai manusia diberikan penuh cinta oleh orang tuanya. Pikirkan, jika yang tega itu juga adalah anak yang dibuang karena rasa malu membabi buta. Betapa menyakitkannya bukan!

Saat menatap wajah istri tercinta yang terlelap usai berjuang demi sang titipan, rasanya sebagai seorang ayah, tak ada artinya apa yang sudah diberikan. Sang istri justru mempertaruhkan nyawanya demi si buah hati yang di idamkan. Buah cinta telah hadir, rengekan tangisnya terasa begitu merdu. Tentu bagi yang masih memelihara cinta di hatinya.

Separuh jiwa kini milik sebuah hati. Apa yang dilakukan semunya demi masa depan si mungil. Agar tumbuh dewasa dan punya rasa cinta. Menjadi anak yang bisa dibanggakan dan membanggakan diri.

Waktu berlalu, si buah hati beranjak seiring usia. Ternyata bukan perkara gampang mengurus dan membesarkan si buah hati. Tapi itulah seninya, agar ayah dan ibunya selalu berpikir bagaimana si buah hati tumbuh dengan sehat penuh cinta. Maka salutlah pada sang istri yang total menjadi ibu rumah tangga. Karena menurut saya itu tugas semulia-mulianya seorang perempuan.

Saat sang istri sakit, saya baru tersadarkan ternyata menjadi ibu rumah tangga itu tugas maha berat. Saat si kecil ‘pup’ tak mudah ternyata untuk menceboknya. Tapi disitulah nikmatnya dekat dengan si kecil. Memandikanya dan memakaikan baju.

Si mungil yang sedang dalam masa aktif-aktifnya tentu memerlukan perhatian ekstra. Maka betapa hebatnya seorang ibu yang telaten mengurus si buah hati. Coba bayangkan, memasak atau yang tak punya pembantu, diselingi dengan mencuci baju. Terlelap saja sedikit si buah hati, sang Istri tiba saatnya mengerjakan tugas yang lain.

Tengah malamnya, saat si kecil bangun, tak kenal kantuk menggayuti, sang Istri ikut bangun. Berat bukan? Maka saya pesan jangan remehkan tugas Ibu rumah tangga itu. Bahkan saya katakan, seorang ibu rumah tangga yang total mengurus rumah dan anak lebih hebat daripada seorang Istri yang hebat dalam karirnya.

Bukan saya tidak setuju, kalau ada seorang istri meniti karir. Tapi dalam pandangan saya, ketika tugas seorang ibu mengurus anak direcoki oleh karir, terus terang sedikit banyak perhatian pada sang anak berkurang. Tapi harus diakui juga banyak yang berkarir namun berhasil juga dalam mendidik anak. Patut diacungi jempol, jika dalam karir berhasil tapi tak abai pada tugasnya sebagai seorang ibu.

Memang sekarang ada alat komunikasi bernama telepon yang bisa setiap saat bisa menghubungkan kantor dengan rumah. Tapi terus terang, telepon tak bisa menjawab semuanya. Saya memang terasa terhibur ditengah beban kerja tiba-tiba diperdengarkan suara si kecil yang baru belajar ngomong lewat telepon. Tapi itu tak sesempurna saat saya dekat dengan si kecil. Mendengar celotehan lucunya. Merasakan hembus napasnya. Menangkap gerak aktifnya.

Kalau ingin tetap melanjut karir, tetaplah harus ingat akan kewajiban pada sang anak. Sang ayah pun demikian, mentang-mentang sebagai pencari nafkah utama, lalu menganggap tak usah berperan layaknya seorang ibu rumah tangga. Karir hanya sebuah sarana. Karena yang kita gapai, pada akhirnya demi si buah hati juga.

Karena apalah artinya karir moncer, jika rumah tangga berantakan. Ya, perceraian memang dibolehkan dalam agama, tapi itu jalan yang tak disukai Allah. Saya yakin, jika rumah tangga itu dibangun dengan komitmen dan dalam rangka ibadah, badai apapun tak bisa menggoyahkannya. Terlebih jika sudah hadir si buah hati, mestinya makin menguatkan komitmen itu. Karena jalan ibadah kita bertambah lagi dengan hadirnya titipan Allah.

Tidakah kita menimbang keberadaan si buah hati saat akan memutus untuk berpisah. Dampaknya akan sangat luar biasa bagi si anak yang dipaksa dipisahkan dari ayah dan ibunya. Tidakkah ketika anak merasa kecewa dan terluka, kita sama saja mengabaikan titipanNya.

Pada akhirnya ketika istri sakit, saya berkeputusan harus juga bisa prigel memasak. Harus bisa mencuci baju dan mengganti popok. Harus wajib bangun jika si buah hati bangun dilarut malam. Yang pasti harus bisa mendongeng si kancil dan si buaya. Agar menjadi suami siaga tentunya. Siaga kalau sang Istri sedang tak enak badan.

Sekarang saya sudah bisa mengganti popok. Sudah bisa ikut bangun kala si mungil terjaga dari lelapnya ditengah malam. Serta sudah menabung referensi dongeng si kancil yang tidak hanya dengan si buaya. Saya bahagia melakukan itu. Karena saya bangga akan amanah yang di titipkan Allah.