Merdeka Mulai Dari Diri Sendiri

695

Merdeka

Merdeka – Peringatan tujuh belasan atau hari kemerdekaan telah berlalu. Tapi yang pasti, menjelang peringatan hari kemerdekaan semaraknya mulai terasa jauh-jauh hari. Di pinggir jalan, sudah banyak yang jualan bendera, juga umbul-umbul. Pun di setiap pintu masuk gang, warga berlomba-lomba menghias gapura. Tepat tanggal 17 Agustus, upacara di gelar dimana-mana. Makin meriah dengan berbagai lomba ala rakyat. Panjat pinang, sampai balap karung.

Lalu, sampai disitukah, cara kita merayakan hari kemerdekaan? Hanya berhenti pada upacara dan lomba panjat pinang? Atau bagaimana? Harusnya tak berhenti sampai disitu. Hari kemerdekaan memang hari yang pantas dirayakan dengan gembira. Karena itu hari pembebasan. Hari yang membuat negeri ini berdiri dengan kaki sendiri. Berdaulat dan sejajar dengan negeri lainnya. Namun ada hal yang kadang selalu kita lupakan, dengan apa kita kemudian ikut mengisi hari kemerdekaan? Itu yang kerap diabaikan.

Kata orang, dengan kerja kita mengisinya. Lalu, kerja seperti apa? Ya, mengisi kemerdekaan, adalah kewajiban semua warga Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Dari pelosok hingga kota-kota. Dan ada berjuta jalan untuk mengisinya. Memberi manfaat bagi negara.

Jadi, tak usah muluk-muluk, dengan apa nanti mengisi kemerdekaan. Tak perlu pula berpikir mengisinya dengan kerja-kerja besar yang monumental. Cukup dengan kebaikan. Kebaikan yang bisa dirasa dan bermanfaat bagi orang lain. Syukur-syukur bisa membuat bangga seisi negeri.

Bila jadi polisi, jadilah polisi seperti Pak Hoegeng. Siapa Pak Hoegeng? Dia, pernah jadi Kapolri. Nama lengkapnya Hoegeng Imam Santoso. Tapi, biasa dipanggil Pak Hoegeng. Dia polisi hebat. Mungkin salah satu polisi terhebat di negeri ini. Namanya hingga sekarang sering disebut, ketika semua rindu akan polisi yang baik. Polisi yang memegang teguh prinsip. Polisi yang sederhana, tapi tegas.

Pak Hoegeng adalah Kapolri yang menjabat dari tahun 1968 sampai 1971. Hoegeng memang selalu dijadikan contoh, seperti apa sosok seorang Kapolri yang ideal. Saat masih ‘jumeneng’, Kyai Abdurahman Wahid atau Gus Dur pernah berkelakar, di negeri ini yang disebut benar-benar polisi hanya ada tiga. Pertama Hoegeng, kedua patung polisi dan ketiga polisi tidur. Kelakar Gus Dur adalah sindiran, bahwa sepeninggal Hoegeng nyaris tak ada lagi sosok polisi yang bisa dijadikan teladan.

Hoegeng yang disebut Gus Dur adalah sosok polisi yang pernah tercatat ajeg, nyaris tanpa cela. Jenderal polisi bertubuh ringkih kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah pada 14 Oktober 1921, memang pantas untuk terus disebut tanpa lelah sebagai sebuah contoh keteladan.

Nama Hoegeng itu sendiri, sebenarnya cuma nama sebutan fisik. Waktu kecil Pak Hoegeng, dipanggil bugel (gemuk), lama-kelamaan menjadi bugeng, akhirnya berubah jadi hoegeng. Nama aselinya sendiri cuma Imam Santoso yang dipilihkan ayahnya, Sukario Hatmodjo yang  pernah menjadi kepala kejaksaan di Pekalongan.  Bersama dengan Ating Natadikusumah, kepala polisi, dan Soeprapto, ketua pengadilan, ayahnya dikenal sebagai tiga sekawan penegak hukum yang jujur. Ketiganya menjadi inspirasi bagi Hoegeng kecil. Namun Pak Hoegeng lebih kagum kepada Ating. Hoegeng kecil pun kemudian  bercita-cita ingin jadi polisi.

Memang sampai tua, Pak Hoegeng tidak bugel alias gemuk.  Pak Hoegeng tidak bertubuh tambun subur berglambir lemak. Tubuhnya, bahkan lebih terlihat ringkih ketimbang tegap, apalagi tambun. Tapi jangan tanya soal ketegasan. Pak Hoegeng memegang itu sebagai prinsip hidup. Lewat tangannya, keadilan terasa lebih bisa diraba dan dirasa. Jabatan bagi Pak Hoegeng bukan soal tuah untuk diri sendiri. Bukan pula soal pamrih berlebih. Jabatan bagi Pak Hoegeng adalah soal kadar pengabdian pada khalayak. Kepada negara. Dia tahu itu tidaklah lempang. Kekuasaan pastinya juga berbicara syahwat. Sekali tersingkap, mungkin yang dekat akan terjerat. Dia tahu itu. Karena itulah, Pak Hoegeng  menjaga jarak.

Sebagai polisi, Pak Hoegeng adalah sosok tegas membaja. Polisi di matanya penegak hukum, titik! Tidak ada kompromi. Tidak ada bagi-bagi hasil di bawah tangan. Apalagi soal salam tempel amplop berisi duit jual kasus serta perkara. Karena sikap seperti itulah dia terpental dari jabatan elit kepolisian yang di pegangnya antara 1968-1971. Kala itu,  Pak Hoegeng sedang mengungkap kasus penyelundupan mobil kelas kakap yang dilakukan oleh Robby Cahyadi. Si pelaku disebut punya kaitan dengan kalangan Istana. Tapi betapa kecewanya, saat dia akan melaporkan itu ke Presiden, sang buruan sedang asyik bercengkrama di Cendana.  Ternyata benar, kekuasaan kongkalikong dengan keculasan. Jelas karena itu sang Jenderal murka. Sejak saat itu pupus sudah kepercayaan kepada kekuasaan. Pun kepada Soeharto, pucuk pemerintahan saat itu.

Karena itu pula  Pak Hoegeng diberhentikan sebagai Kapolri sebelum masa jabatannya habis.  Tepatnya  1970,  Soeharto mencopot Pak Hoegeng dengan alasan regenerasi. Tapi aneh, penggantinya, Muhammad Hassan justru lebih tua usianya. Pak Hoegeng pun menyadari penguasa sudah tidak suka sepak terjangnya di kepolisian. Sebagai penghibur saat itu Soeharto menawari Pak Hoegeng menjadi duta besar di Belgia. Tapi Pak Hoegeng menampiknya.

Dan, bila jadi tentara, contohlah Pak Dirman. Pak Dirman, adalah Panglima Tentara pertama di Indonesia. Soedirman, nama lengkapnya. Nama Pak Dirman juga seharum Pak Hoegeng. Pak Dirman, adalah sosok tentara yang bisa menyatu dengan rakyat. Serdadu yang manunggaling dengan rakyatnya. Dia panglima perang yang pemberani. Dulu, meski sedang sakit, Pak Dirman terus berjuang mengangkat senjata. Sakitnya pun tak main-main. Dia sakit paru. Tapi, tanpa kendur semangat, Pak Dirman bergerilya dari hutan ke hutan, berperang lawan penjajah dengan semangat menyala. Meski karena itu itu ia harus ditandu.

Pak Dirman juga, bukan tentara yang neko-neko. Pengabdiannya semata demi negara. Demi republik yang dicintainya. Lewat jejak kisah gerilyanya, Pak Dirman mengajarkan kita, bagaimana bentuk sebuah dedikasi. Mengajarkan kita tentang totalitas pengabdian. Dari Pak Dirman pula kita belajar soal loyalitas. Tentu bukan pada kelompok. Tapi pada republik. Kepada bangsa.

Bila jadi jaksa, belajarlah pada kisah hidup Pak Prapto. Dia salah satu jaksa hebat yang pernah dipunyai negeri ini. Nama lengkapnya Soeprapto. Orangnya lurus. Tegas dan tanpa pandang bulu ketika menegakkan hukum. Memang harus seperti itulah seorang penegak hukum. Tegas, dan tanpa pandang bulu demi sebuah supremasi hukum.

Pak Prapto, bukan jaksa ‘nakal’. Bukan jaksa yang suka jual perkara, atau bahkan menerima ‘suap’. Dia tak seperti itu. Waktu itu, di era Pak Prapto, sekitar tahun 50-an, kejaksaan begitu disegani. Padahal waktu itu, belum ada Undang-Undang anti korupsi. Juga belum berdiri lembaga semacam Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tidak ada kisah cicak buaya, saat itu. Tak ada pula cerita memuakan seperti jaksa Urip yang tertangkap tangan. Kejaksaan benar-benar menjadi lembaga yang begitu ditakuti para cukong yang gemar kongkalikong.

Kala itu yang menjadi orang nomor satu di kejaksaan adalah Pak Prapto. Prestasi kejaksaan di era Pak Prapto benar-benar mengkilap. Sebagai Jaksa Agung, Pak Prapto berhasil menangkap dan memenjarakan para menteri yang korup. Pak Prapto pula yang memerintahkan menangkap Ruslan Abdul Gani saat membawa duit keluar negeri. Padahal waktu itu Kejaksaan Agung berada di bawah Departemen Kehakiman. Tapi bukan halangan bagi Pak Prapto untuk bertindak tegas. Bahkan pada atasannya sendiri. Dan Pak Prapto pula yang memenjarakan menteri kehakiman waktu itu.

Cerita tentang Pak Prapto sangat penting diungkit kembali. Bahkan, sangat penting dibaca ulang di hari kemerdekaan ini. Sebab kita teramat sering disuguhi cerita dan berita tentang jaksa lancung. Ya, di negeri ini banyak kisah tentang penegak hukum yang curang. Jadi, jika ada yang jadi penegak hukum tirulah Pak Prapto. Jangan jadi ‘wakil Tuhan’ yang memberi noda dan cela. Karena sekecil apa pun noda itu, tetap akan merusak semuanya. Seperti pepatah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Karena ulah segelintir oknum, rusak pula nama semua penegak. Camkan itu.

Nah bagi yang sedang dan mau jadi politisi, jadilah politisi yang punya prinsip. Bukan polisi karbitan. Bukan pula politisi mata duitan. Republik ini, punya banyak politisi yang bisa dijadikan teladan. Bung Karno, Sjahrir, Bung Hatta, Natsir dan Agus Salim adalah sederet politisi yang bisa jadi inspirasi. Tentu, masih banyak politisi baik lainnya di negeri.

Mereka itu, orang-orang seperti Bung Karno, Hatta dan lainnya, mengabdi benar-benar demi republik. Mereka sangat mencintai negeri ini. Seluruh hidup mereka, didedikasikan untuk republik ini. Untuk negara yang mereka perjuangan dengan darah dan air mata. Demi kemerdekaan bebas dari cengkraman penjajah.

Kepada mereka. Kepada Bung Karno. Kepada Bung Hatta. Kepada Pak Natsir. Kepada Kyai Agus Salim, kita bertabik. Dan, kepada tokoh-tokoh besar lainnya, kita bisa berguru, belajar meneladani. Maka dari sekarang mari kita rajin buka dan baca buku sejarah. Membaca sembari belajar pada mereka. Jangan asyik terus main game atau nonton sinetron.

Orang-orang seperti Bung Karno, Hatta dan Sjahrir, adalah politisi yang bekerja untuk negara. Bukan politisi pencari untung dan laba. Apalagi sampai menilap uang rakyat. Mereka bukan pencari fee proyek. Mereka adalah pemimpin yang melaksanakan kata-katanya. Pemimpin yang menjadikan wacana jadi nyata. Pemimpin yang berjuang dengan prinsip. Pemimpin yang tak lelah mengajekan cita-cita. Semua semata untuk kemajuan negeri ini.

Tentu kita tahu siapa itu Soekarno, sang proklamator kita. Bung Karno itu, pernah tak punya uang, dipenghujung pengabdiannya sebagai kepala negara. Bahkan, ia sampai terpaksa meminjam uang pada ajudannya. Itu contoh dan bukti, Bung Karno berkuasa bukan demi kekayaan. Pun Bung Hatta, proklamator kita yang satunya.

Bung Hatta, hidupnya sederhana, bahkan sampai ia berhenti jadi Wakil Presiden. Ada sebuah cerita menarik tentang Bung Hatta. Dia, sampai telat nikah hanya demi kemerdekaan republik ini. Dia pernah berujar, tak mau menikah dulu, jika Indonesia belum merdeka. Karena janji itu, Bung Hatta sampai telat naik ke pelaminan. Sebuah janji yang penuh makna. Janji yang layak diresapi. Lewat cerita itu, kita diajarkan tentang prinsip hidup. Tentang keteguhan sikap. Tentang sebuah totalitas pengabdian.

Bung Hatta juga mengajarkan kesederhanaan. Dia, saat sudah tak jadi orang nomor dua di republik ini, pernah kesulitan membayar tagihan listrik rumahnya. Uang pensiunnya tak cukup. Bayangkan, mantan Wakil Presiden, sampai kesulitan membayar tagihan listrik. Sekali lagi, ini bukti, Bung Hatta, bukan pemimpin yang berkuasa demi menumpuk kekayaan.

Begitu juga dengan Kyai Agus Salim. Dia juga pemimpin yang sederhana. Sepanjang hidupnya, Agus Salim nyaris tak punya rumah. Berpindah dari kontrakan satu ke kontrakan lainnya. Kontrakannya pun bukan rumah mewah. Seringnya ngontrak di rumah kumuh di gang becek dan sempit. Ada sebuah cerita dramatis tentang Kyai Agus Salim. Suatu ketika salah satu anaknya meninggal. Saat itu, Agus Salim tak punya uang, bahkan sekedar untuk membeli kain kafan. Maka yang dipakai jadi kain kafan adalah kain taplak meja. Padahal waktu itu sebenarnya ada seorang kolega yang mau membantu, membelikan kain kafan. Tapi ditolaknya. Tahukah yang Agus Salim katakan? Dia mengatakan, kain yang baru itu untuk orang yang masih hidup. Orang yang sudah mati, tak memerlukannya. Kisah seperti itu perlu diceritakan kembali. Ini penting sebagai sebuah pelajaran, bagaimana menegakan sebuah prinsip.

Bila kita jadi abdi rakyat, jadilah pelayan yang baik. Jangan karena jabatan, kemudian kita merasa jadi majikan. Ingat, rakyat adalah tuan, bukan hamba, apalagi ‘kacung’ dan ‘jongos’. Rakyat adalah raja. Jadi, layani mereka sebaik-baiknya, seperti melayani seorang ‘raja’.

Dan, sebenarnya sederhana dalam melayani ‘raja’. Mulailah melayani dengan senyuman. Layani dan bekerjalah dengan ikhlas. Jangan bertele-tele, apalagi sampai memungut bayaran atau upeti. Ingat, sebagai pegawai negeri, negara sudah menanggung hak lewat gaji. Tinggal kemudian laksanakan kewajiban sepenuh hati. Layani rakyat dengan semangat, jangan sambil mengumpat, apalagi sampai menyunat.

Kalau gaji, terasa tak cukup, bukan alasan kemudian sedikit demi sedikit mengutip. Apalagi sampai korupsi. Itu dosa besar. Korupsi itu, kejahatan luar biasa. Tak hanya merusak nama baik. Tapi juga merusak seisi negeri. Seluruh rakyat akan kena getahnya. Bahkan seluruh republik bakal melaknat. Tentu kita tak mau dapat noda yang dibawa sampai liang lahat. Sebab mau tobat seperti apa pun, cap sebagai koruptor akan diingat orang sepanjang hayat. Kita tentu tak mau seperti itu, bukan?

Sekali lagi, jika sedang dapat mandat kuasa, jangan dagangkan jabatan serta kewenangan. Jangan gadaikan semuanya hanya demi segepok rupiah dan selembar cek dollar. Ingat, sudah ada KPK yang akan mengawasi. Sudah ada PPATK yang bisa melacak rekening. Dan lebih penting, ingat Tuhan itu Maha Tahu. Jadilah pegawai yang jujur. Itu sudah cukup. Bahkan lebih nikmat. Tidur pun akan nyenyak, tak terus dihantui ketakutan bakal masuk bui.

Mari di hari yang sakral, hari kemerdekaan, kita merenung sejenak. Berpikir, dan bertanya, sudahkah kita jadi anak bangsa yang baik? Jika merasa belum, mari kita jadi anak bangsa yang senantiasa memproduksi kebaikan. Seperti lebah yang memberi manfaat bagi yang lainnya. Lewat profesi apa pun yang kita jalani, berikan kontribusi yang bermanfaat. Sekecil apa pun kontribusi, andil dan hasil kerja kita, yang penting bawa berkah serta manfaat bagi yang lain. Karena lewat kerja kebaikan, pada dasarnya kita telah mengisi kemerdekaan ini.

Tidak usah muluk, memberi bukti dan bakti bagi negeri lewat kerja-kerja besar yang monumental. Dari hal-hal kecil saja kita isi kemerdekaan ini. Buang sampah pada tempatnya. Tidak menerobos lampu merah. Taat bayar pajak. Patuh pada aturan. Dan lebih penting lagi, saling menghormati perbedaan serta keragamaan. Rawat dan jaga itu. Karena itu harta tak ternilai bangsa Indonesia. Selamat hari kemerdekaan. Jayalah bangsa Indonesia.