“Mereka Sudah Seperti California”

2183

California Di Indonesia

Entikong Kalimantan Barat seperti California

Entikong, Kalimantan Barat – Akhir Agustus 2012, saya berkesempatan mengunjungi daerah perbatasan. Daerah perbatasan yang dikunjungi adalah Entikong, sebuah kecamatan yang masuk wilayah Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat.

Berangkat dari Jakarta hari Kamis sore 30 Agustus 2012. Tiba di Bandara Supadio, Pontianak, petang hari menjelang magrib. Karena menuju Entikong menggunakan jalur darat, maka diputuskan berangkat Jumat pagi, 31 Agustus. Akhirnya, semalam menginap di Pontianak.

Pagi sekitar pukul 5.42 WIB,  saya berangkat, bersama dua orang staf dari Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Pak Amini Maros dan Hasby, dan yang memegang kemudi adalah Pak Hamid, aseli Kalimantan Barat. Mobil bergerak menyusuri jalan Kota Pontianak yang masih lengang.

Langsung menuju jalan penghubung Pontianak-Entikong. Jalanan mulus, sampai sisa kantuk yang masih menggayuti mata tak bisa ditahan. Mata pun berusaha menahan serangan kantuk. Mobil melaju dengan cepat, maklum jalan berhotmik mulus sedang lengang-lengangnya, hanya satu dua mobil truk yang berpapasan di jalan.

Pagi terus meruap, menjelang siang. Remang mulai pergi, suasana pun mulai terang, jalanan masih mulus, membuat laju mobil meluncur cepat. Sepanjang jalan, secara bergiliran Pak Amini dan Pak Hamdi bercerita tentang kondisi Entikong saat ini.

Menurut Pak Amini, jalan yang kami gunakan sebagai rute ke Entikong terbilang baru. ” Ini jalan baru, dibuka pada 2007,” katanya.

Dulu, empat tahun lalu, jalan ini kata Pak Amini, masih berupa jalan tanah. Tapi, kata dia lagi, mulusnya jalan hanya sejauh 80 kilometer saja. “ Nanti kita lihat seperti apa jalan menuju ke Entikong,” katanya.

Ada bis jurusan Pontianak-Kuching yang menjadi angkutan transportasi, menghubungkan dua  negara, Indonesia-Malaysia. Jumlah bis antara Indonesia – Malaysia disepakati, dibagi dua sama banyak. ” 40 bis dari Indonesia, dan 40 bis dari Malaysia,” ujarnya.

Sekitar pukul 7.02 WIB, diputuskan sebentar sekedar sarapan. Di sebuah warung yang masih sepi pengunjung kami pun, menikmati segelas kopi dan semangkuk mie rebus. “ Mie rebus disini laku keras, ” kata Pak Hamdi.

Menurut Pak Hamid, yang kerap bolak-balik, Pontianak-Entikong-Kuching, jika sudah malam jalan justru ramai. Apalagi banyak bis antar negara yang mengejar jam buka gerbang perbatasan yang dibuka pukul 05.00 pagi. Dari Pontianak, bis-bis menuju Kuching atau Serawak, kebanyakan berangkat malam hari. Pengguna kebanyakan adalah para pedagang dan TKI.

Benar saja, setelah melanjutkan perjalanan, dan jalan berhotmik sudah habis, kondisi jalan bergelombang mulai dirasakan. Mobil terbanting-banting dan berzig-zig menghindari lubang-lubang di jalan.

Jalan Pontianak-Entikong, berdebu di musim kemarau. Dan bila musim hujan tiba, berkubang lumpur. “ Kalau sudah musim hujan jalanan jadi bubur lumpur,” kata Amini Maros yang juga aseli Kalimantan Barat.

Sudah lama, kondisi jalan dibiarkan buruk kata Amini. Status jalan sebagai jalan negara, membuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah Provinsi Kalimantan Barat saling lempar tangan. Akibatnya, jalan dibiarkan kian memprihatinkan.

Padahal, kata Pak Amini, jalan inilah yang jadi nadi utama para pelintas batas dan warga di perbatasan, jika memang hendak menuju Pontianak atau Kuching. Akibatnya, waktu tempuh pun molor panjang. Waktu tempuh yang mestinya bisa 4 jaman, harus ditempuh 6 jaman.

Kondisi jalan yang rusak pun, membuat banyak kasus kecelakaan terjadi. Mobil-mobil pun beresiko cepat rusak. Sepanjang jalan menuju Entikong, kami pun sempat melihat truk yang terguling. Tapi pemandangan yang banyak ditemui sepanjang jalan adalah truk-truk yang mogok.

Ya seperti ini keadaannya mas,” katanya.

Badan pun terus terlonjak-lonjak sepanjang jalan. Terbanting ke kiri dan kekanan, mengikuti arah zig zag mobil yang memilih jalur jalan yang lebih baik. Isi perut terasa diaduk-aduk. Perjalanan terasa menyiksa. Niat ingin memejamkan mata sejenak, terpaksa di urungkan. Bagaimana mau lelap, bila badan terus terlonjak-lonjak.

” Mas, jalan seperti ini tak akan ditemui kalau sudah masuk Malaysia. Jalanan mereka mulus, bahkan nyaris tak ada lubang, dari pos perbatasan sampai ke Kuching,” kata Pak Amini.

Pak Amini sendiri adalah warga asli Kalimantan Barat. Sebelum ditarik ke BNPP, ia adalah pegawai di Bapeda Kalimantan, lalu di Badan Pengelola Perbatasan Daerah Kalimantan Barat, sebelum akhirnya ditempatkan di BNPP. Jadi ia paham betul seperti apa kondisi di perbatasan.

 ” Jika diperbandingkan antara Indonesia-Malaysia, bisa dikatakan jauh. Mereka begitu terencana dan konsisten mengimplementasikan. Kita banyak wacana,” ujar dia.

Setelah menikmati jalanan berdebu dan diombang-ambing sepanjang perjalanan, menjelang pukul 11 siang, kami tiba di Entikong. Suasana kota kecamatan Entikong tak begitu ramai. Kemajuan fisik, memang mulai terasa, nampak sudah dibangun beberap komplek rumah toko. Bank, ATM, dan money changer, sudah tersedia di Entikong. Maklum, ringgit menjadi salah satu pembayaran saat berbisnis di Malaysia.

Selebihnya adalah, rumah makan, dan toko-toko apa adanya yang dibangun sepanjang kiri kanan jalan. ” Sekarang sudah banyak pendatang dari Jawa,” katanya.

Mulus kinclongnya infrastruktur di Kuching, Malaysia diceritakan oleh Tono, supir travel asal Jawa yang sering membawa penumpang dari Pontianak ke Kuching. ” Jalanan mulus, kita lewati Entikong, masuk Malaysia, terkantuk-kantuk kita saking mulus,” katanya.

Mereka sudah kayak California,” kata Tono, mengambarkan kondisi jalan di Malaysia, mulai dari perbatasan sampai ke Kuching, ibukota negara bagian Serawak. Kata dia, pengguna mobil tak sembarangan membunyikan klakson. Dan tak bisa seenaknya memacu kendaraan.

Disana kan maksimal 80 kilometer per jam. Bila kita coba-coba memacu 90 kilometer, bila tak dikejar polisi, CCTV akan merekamnya. Kita kena hukum nanti,” kata dia.

Jauh sekali perbedaannya dengan Pontianak, katanya. Di Pontianak, kadang pengguna kendaraan ugal-ugalan. Motong jalur kerapkali seenaknya.

Padahal orangnya sama, satu daratan dengan Malaysia. Budaya mirip-mirip, enggak tahu kok beda sekali suasananya,” ujarnya.

Pak Amini, berharap, setelah hadirnya BNPP, ada perhatian berbeda dari pemerintah pusat menjadikan  perbatasan, tak selalu terlihat sebagai halaman belakang yang kumuh. Tapi beranda depan negara yang nyaman. Sedangkan Tono, harapannya sederhana saja.

” Jalannya harus mulus mas, agar lalu lintas kesana lancar,” katanya.