Mimpi Alex, Berharap Lahir Rosihan Anwar van Sungai Musi

1449

Mimpi Alex, Semoga Lahir Rosihan Anwarvan Sungai Musi

Alex Noerdin
Mimpi Alex, Berharap Lahir Rosihan Anwar van Sungai Musi

Alex Noerdin, dalam pemilihan Gubernur Sumatera Selatan beberapa waktu yang lalu, kembali terpilih lagi. Artinya dua kali ia dipercaya memegang tampuk kepemimpinan di Sumatera Selatan. Selama kepemimpinannya, sudah banyak gebrakan yang dilakukan Alex. Bahkan, beragam penghargaan pun diraihnya. Alex pun bertekad mengangkat nama Sumatera Selatan, tak hanya dikenal di tingkat nasional, tapi juga internasional. Mimpi besarnya, menjadikan provinsi yang dikenal dengan sebutan bumi Sriwijaya itu sebagai provinsi berkelas internasional. Hasilnya kini sudah mulai terasa. Di tangannya, Sumatera Selatan berhasil dan sukses menjadi tuan rumah berbagai even baik yang berskala nasional maupun internasional.

Salah satu gebrakan Alex, Sumatera Selatan menjadi provinsi pertama yang memelopori berdirinya sekolah jurnalistik tingkat ASEAN. Sebagai persiapan awal berdirinya sekolah, pada 10 hingga 12 Februari 2014, di Palembang telah digelar program pelatihan jurnalistik berskala internasional. Program itu diikuti oleh 90 wartawan yang merupakan perwakilan dari sembilan negara anggota ASEAN dan wakil dari Timor Leste. Program itu, bagian dari agenda Konfederasi Wartawan ASEAN (CAJ). Sekolah jurnalistik ASEAN itu, bakal didirikan di komplek olahraga Jakabaring, tak jauh dari sungai kebanggaan warga Palembang, sungai Musi yang terkenal dengan jembatan Amperanya.

Alex berharap, lewat sekolah jurnalistik ASEAN, akan lahir wartawan-wartawan sekaliber Rosihan Anwar atau wartawan hebat lainnya. Dia juga berharap, sekolah khusus wartawan itu, bisa menjadi semacam kawah candradimuka bagi para kuli tinta. Sehingga lewat sekolah itu, lahir wartawan dengan kemampuan komplet, yang tak hanya berkualitas, tangguh, profesional tapi memegang teguh kaidah-kaidah jurnalistik.

Saya harapkan lewat sekolah jurnalistik ini, bisa lahir wartawan-wartawan dengan karya-karya jurnalistik yang hebat, yang akan dikenang masa,”kata Alex.

Menurut Alex, pers sebagai pilar keempat demokrasi, perannya sangat strategis bagi pembangunan. Pers adalah anjing penjaga bagi jalannya kekuasaan. Lewat pers pula, suara publik disuarakan, karena hakikat pers adalah melayani kepentingan publik. Karena itu, ia menganggap pers bukanlah sebagai ancaman. Justru pers harus dianggap, sebagai kawan yang kritis bagi pemerintah.

Pers yang akan mengingatkan, mengontrol, dan memberi tahu para pemangku kebijakan, agar benar-benar setia kepada mandatnya. Pers adalah sahabat bukan musuh. Pers adalah kawan, bukan ancaman. Sekeras apapun kritikan dari pers, itu adalah masukan yang berharga,” kata Alex.

Bagi pemerintah sendiri, pers itu adalah ruang promosi. Karena lewat media, tangan pemerintah bisa menjangkau publik, misalnya dalam mensosialisasikan sebuah kebijakan atau program. Dengan begitu, ada semacam komunikasi yang timbal balik, antara khalayak dengan pemimpinnya.

Jadi seorang pemimpin itu harus siap dijewer oleh pers. Makanya, tak boleh tipis kuping,” kata dia.

Segala kritikan yang datang dari media, adalah masukan berharga bagi pemerintah. Sebab, mata pemerintah tak mungkin sepenuhnya awas mengawasi perilaku aparatur dibawahnya. Mata medialah kata Alex yang bisa diharapkan bisa menangkap serta mencatat, segala penyelewengan yang terjadi. Tapi tentunya, informasi yang disampaikan, bukanlah yang beraroma fitnah, tapi berpijak pada fakta. Karena kebenaran media, adalah fakta itu sendiri.

Sekolah jurnalistik yang didirikan, didedikasikan memang untuk para awak media. Agar awak media di ASEAN, khususnya di Tanah Air, benar-benar menjadi wartawan yang tangguh, handal dan profesional,” kata dia.

Negeri ini, kata Alex sudah banyak melahirkan wartawan hebat, mulai dari era sebelum kolonial hingga sekarang. Nama-nama seperti Adinegoro, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, Goenawan Mohamad, Karni Ilyas dan nama besar lainnya, adalah sosok-sosok wartawan hebat dalam sejarah jurnalisme di Indonesia. Mereka dengan segala kiprah dan gayanya, telah memberi warna dunia pers di Tanah Air. Alex pun menginginkan, lewat sekolah jurnalistik yang didirikan di Palembang, bisa lahir penerus jejak wartawan-wartawan hebat di Indonesia.

Sebelumnya pada peringatan Hari Pers Nasional 2014 yang digelar di Benteng Malbrough, Bengkulu, Alex Noerdin menerima Penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Alex, diberikan dua penghargaan sekaligus, yaitu berupa penghargaan Internasional dari Confederation of Asean Journalist (CAJ) dan Penghargaan khusus dari Dewan Pers. Saat itu, Sekretaris Jenderal CAJ, Benny Antiporda, mengatakan penghargaan yang diberikan merupakan apresiasi dari masyarakat pers nasional dan ASEAN atas kepedulian dan kepeloporan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dibawah Kepemimpinan Alex Noerdin terhadap dunia pers. Confederation of ASEAN Journalists (CAJ) atau Konfederasi Wartawan ASEAN sendiri, adalah wadah wartawan Negara-negara ASEAN yang didirikan di Jakarta tanggal 11 Maret 1975 oleh para utusan dari organisasi wartawan nasional negara-negara anggota ASEAN.

Penulis : Agus Supriyatna
Wartawan Senior Media Cetak Di Jakarta
Follow On Twitter : @rakeyanpalasara

Read More :

Cerpen : Kebaya Merah Untuk Emak