Pemimpin yang Dicatat, Bukan yang Dicetak

1060

Lebahmaster.ComPemimpin haruslah meninggalkan jejak. Artinya, ia meninggalkan catatan. Meninggalkan karya yang akan dicatat dalam sejarah. Di kenang, dan akan terus di awetkan oleh ingatan.

Pemimpin Yang DiCatat Sejarah

Maka, pemimpin tak sekedar tampil. Tak sekedar ia ada di posisi puncak. Tapi, bagaimana lewat kuasa yang digenggamnya ia bisa dirasakan. Tak semata didengar. Tapi juga di lihat serta dicatat. Bahkan, sosoknya tak pernah hilang, meski ia sudah pamit pergi, tak lagi menggenggam kuasa. Atau, sudah berbentuk pusara.

 

 

Karya, itulah yang akan membuat seorang pemimpin tetap dikenang. Dan, karya tak dihasilkan oleh gemuruh kata. Tapi oleh niat, ucapan serta tindakan yang satu irama dan segaris lurus. Tanpa karya, mungkin ia hanya akan diingat sekilas lalu. Bahkan tak mungkin, ia kemudian akan dicemooh dan dicaci. Tak ada dongeng setelah itu. Tak ada cerita usai itu. Dan, pastinya tak ada sejarah yang perlu di rawat.

 

 

Dan di era informasi yang kian terbuka. Di era media begitu digjaya menelusup hingga kamar dan dapur, setiap tingkah pemimpin atau elit akan terus dapat diperiksa. Apakah dia, hanya sekedar menghasilkan kata? Atau dia hanya banyak dicetak koran dan direkam layar kaca? Atau kerjanya memang sungguh terasa?

 

 

Sepertinya, yang ada hanya pemimpin yang banyak dicetak. Bukan pemimpin yang banyak dicatat. Elit, atau mereka yang sedang memegang kuasa, atau mendapat mandat, lebih banyak menghasilkan gemuruh pernyataan. Wajahnya memang rajin hadir di layar kaca. Kalimatnya gagah perkasa di cetak besar di halaman koran. Tapi, soal kerja, rasanya tak banyak yang bisa dirasa.

 

 

Pemimpin hari ini, adalah pemimpin yang banyak dicetak. Bukan pemimpin yang banyak dicatat. Dia hadir, tapi sekedar hadir. Setelah itu, menguap tak menyisakan jejak. Yang tertinggal hanya janji, serta kalimat yang gagah. Entah sampai kapan itu dapat diwujudkan. Karena selalu, janji itu hanya jadi pemanis bibir. Sementara rakyat, seperti ditakdirkan untuk menunggu, lalu gigit jari. Akhirnya, memang tak ada yang bisa dicatat.

 

 

Pemimpin hari ini juga, lebih banyak merasa paling hebat. Nyaris tak pernah untuk intropeksi. Dikritik sedikit langsung berang. Di gugat sedikit langsung meradang. Dirinya merasa jadi pusat kebenaran. Yang lain, yang berbeda pandang, adalah pihak yang salah. Dan menganggap yang jelata, hanya sekumpulan orang yang tak pintar. Hanya kerumunan orang bodoh.

 

 

Ah, sudah terlalu gaduh negeri ini dengan hal seperti itu. Tak ada lagi Bung Hatta yang kalem. Atau Buya Hamka yang menenangkan. Mungkin saya keliru. Karena di sana, di ujung, di pelosok, mungkin banyak mereka yang tanpa gemuruh, memang betul-betul bekerja. Mereka yang tak di cetak koran, tak di rekam kamera televisi.

 

 

Namun di pusat kekuasaan, yang ada hanya gemuruh. Saling serang, saling menyalahkan. Saling klaim dan merasa benar sendiri. Tontonan itu yang sekarang banyak dinikmati. Akhirnya publik, hanya bisa mencatat omelan, juga kegaduhan. Dan akhirnya pula, kami hanya diajari mengomel, serta mencerca. Kami pun, akhirnya pintar seperti mereka. Hanya bisa mencerca, juga mencaci. Karena memang tak ada yang bisa dicatat.