Peringatan 4 Tahun Tragedi Setrojenar, Bulus pesantren

1676

Membuka Kembali Ingatan Kolektif Warga dan Titik Balik Gerakan Mahasiswa

Oleh : Agam Imam Pratama

Peringatan 4 tragedi Setrojenar baru saja berlalu. Kegiatan yang bertujuan memperingati 4 tahun berlalunya tindak kriminalisasi terhadap petani Urutsewu (Kecamatan Buluspesantren, Ambal dan Mirit) yang berjuang mempertahankan hak nya atas lahan pertanian oleh TNI pada 16 April 2011. Sedikitnya 13 petani terluka baik luka memar maupun luka tertembak peluru karet, dan 12 orang melaporkan perusakan motor oleh TNI, belum lagi yang handycam, kamera dan handphonenya disita.

Peringatan yang berlangsung 16 April 2015 kemarin bertajuk “Istighosah Akbar, Urutsewu Bersatu Melawan Lupa” tragedi Setrojenar 16 April 2011 berlangsung di lapangan desa Setrojenar Kecamatan Buluspesantren, tepat di depan kantor Dislitbang TNI AD (Pusat Latihan Tempur). Kegiatan dimulai pukul 09.00 WIB dan dibuka dengan istighosah yang dipimpin oleh Kiai Imam Zuhdi dan diikuti oleh ratusan warga. Istighosah yang bertujuan untuk memperkuat hubungan spiritual antara masyarakat Urutsewu dengan Tuhan, juga masyarakat Urutsewu dengan tanah pertanian sebagai berkah dari Tuhan untuk dikelola dan dimanfaatkan untuk kebaikan bersama berlangsung dengan khidmat.

Peringatan 4 Tahun Tragedi Setrojenar
Ratusan warga Urutsewu tampak hadir dalam Istighosah Akbar peringatan 4 tahun tragedi Setrojenar.16 April 2015. Photo by : HMI Fisipol Unsoed

Istighosah yang berlangsung selama 1,5 jam tersebut dilanjutkan dengan kegiatan sambutan juga orasi oleh tokoh-tokoh Urutsewu, baik ketua organisasi-organisasi tani, tetua adat maupun kepala desa. Ketua Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan (FPPKS) Seniman dalam sambutan dan orasinya menekankan bahwa persoalan konflik agraria ini belum selesai dan seluruh masyarakat Urutsewu harus bersatu untuk menyelesaikan permasalahan dan mempertahankan tanah pertaniannya. Bahkan diakhir orasinya, Seniman mengajak dan memimpin warga berdiri dan menyerukan bersama ,”Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan, Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan !!,” seruan tersebut bergema diseantero desa Setrojenar.

Usai sambutan-sambutan dan orasi, acara istighosah akbar diisi dengan teatrikal dari mahasiswa Unsoed Purwokerto, yakni dari HMI Fisipol Unsoed dan Teater Si Anak Unsoed. Teatrikal yang bercerita kehidupan pertanian yang demikian damai sedikit dengan sedikit terusik oleh orang berseragam yang sedang mengukur (klaim) tanah di atas lahan pertanian. Pada awalnya petani menanggapi biasa saja dan melanjutkan kegiatan pertaniannya. Namun saat gesekan (senggolan) semakin keras, petani marah, dengan mata yang mendelik-delik mereka melawan oknum TNI yang mengukur lahan pertaniannya. Kemudian dengan berdiri di atas TNI yang sudah bersujud, salah seorang mahasiswa yang memerankan sebagai petani membacakan puisi “Bunga dan Tembok” dari Wiji Thukul dengan suara lantang. Aji dari teater Si Anak Unsoed saat diwawancara oleh penulis usai teatrikal mengatakan, “teater tadi coba menggambarkan bahwasannya permasalahan masih ada, dan bila warga (Urutsewu) bersatu untuk memperjuangkan bukan hal yang mustahil kemenangan rakyat sudah di depan mata,” tuturnya. Selain itu mahasiswa juga membagikan booklet yang berisi kronologi konflik Urutsewu dan kronologi gerakan yang sudah ditempuh sampai hari ini, kronologi ini disusun dan dicetak bersama antara mahasiswa Unsoed Purwokerto bersama FPPKS (Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan) dan USB (UrutSewu Bersatu).

Peringatan 4 Tahun Tragedi Setrojenar
Mahasiswa dari teater SiAnak Unsoed dan HMI Fisipol Unsoed teatrikal di depan ratusan warga Urutsewu dalam acara Istighosah Akbar peringatan 4 tahun tragedi Setrojenar. Nampak seorang mahasiswa yang berperan sebagai petani berdiri di atas mahasiswa yang berperan sebagai TNI dan membacakan puisi “Bunga dan Tembok” nya Wiji Thukul. 16 April 2015. Photo by : HMI Fisipol Unsoed.

Usai teatrikal dari mahasiswa, disambung dengan teatrikal dari pemuda-pemuda setempat. Sekitar 20 pemuda desa setempat terlibat dalam teatrikal ini. Teatrikal ini berusaha merekonstruksikan kejadian pada 16 April 2011, yang menceritakan kehidupan pertanian yang nyaman di Urutsewu terganggu oleh kedatangan TNI. Apalagi ketika TNI mulai melakukan intimidasi dan kekerasan bahkan menembaki para petani. Banyak petani yang luka-luka dan beberapa ditangkap dan dikurung dalam penjara yang terbuat dari bambu. Banyak juga motor (properti teatrikal) yang rusak akibat ditendangi dan dirusak oleh TNI. Terlihat tak sedikit warga (khususnya kaum ibu) yang menangis menonton teatrikal ini. Seolah mereka melihat lagi apa yang terjadi pada 16 April 2011 pada keluarganya, saudaranya, tetangga-tetangganya dan warga yang lain. Teatrikal diakhiri dengan warga bersama-sama membuka dan merusak kurungan dari bambu tadi sebagai simbol bahwa perlawanan rakyat Urutsewu masih ada dan semakin besar.

 

Peringatan 4 Tahun Tragedi Setrojenar
Teatrikal yang dibawakan oleh pemuda-pemuda Urutsewu. Mencoba merekonstruksikan kembali kejadian 16 April 2011. Nampak pemuda-pemuda yang memerankan sebagai TNI sedang menembaki petani dan merusaki motor. 16 April 2015. Photo by : HMI Fisipol Unsoed

Teatrikal dari pemuda Urutsewu ini sekaligus mengakhiri rangkaian acara Istighosah Akbar Melawan Lupa Tragedi Setrojenar 2011. Kegiatan dilanjutkan dengan forum evaluasi di mushola desa Setrojenar, depan rumah Kiai Imam Zuhdi. Dalam forum ini dibahaskan bahwa ingatan kolektif warga Urutsewu mengenai “kebuasan” TNI hari ini sudah muncul kembali, terlihat dari antusiasnya warga melihat teatrikal dari mahasiswa yang menceritakan pentingnya persatuan warga Urutsewu, dan tidak sedikitnya yang menitikkan air mata dan menangis melihat teatrikal yang dibawakan oleh pemuda-pemuda Urutsewu. Hanya yang perlu dititikberatkan adalah bagaimana proses follow up perlawanan usai peringatan ini, selagi ingatan kolektif warga yang terbangun kembali sedang hangat-hangatnya.

Yang juga menjadi menarik adalah makin meluasnya solidaritas terhadap Urutsewu dikalangan mahasiswa. Jika tahun sebelumnya yang tergabung dalam peringatan tragedi Setrojenar yakni mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam Esbumus dimana sebagian besar dari Jogja, hari ini meluas sampai ke Purwokerto, bahkan juga hadir mahasiswa dari ITB Bandung turut mendokumentasikan kegiatan ini. Dalam pandangan penulis, tahun ini merupakan titik balik gerakan mahasiswa, melihat aksi-aksi solidaritas yang sedang merebak, semisal aksi-aksi #SaveRembang, #SaveKendeng, #SaveKulonprogo, #SaveUrutsewu, bahkan sampai terjunnya langsung teater kampus dalam kegiatan di Urutsewu. Nampaknya sindiran Soe Hok Gie mengenai mahasiswa yang hanya sekedar ber”onani” di dalam kampus dengan berbagai teori dan kegiatan kampus dicoba dibantah oleh mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam aksi-aksi ini. Toh, masyarakat juga pada dasarnya yang membiayai sebagian besar biaya kuliah atau pendidikan mahasiswa melalui pajaknya. Lalu apa bedanya mahasiswa dengan koruptor bila kuliahnya dibiayai oleh masyarakat namun tidak terjun langsung ke dalam masyarakat dan bergerak bersama rakyat?.

Peringatan 4 Tahun Tragedi Setrojenar
Mahasiswa bersama pemuda-pemuda Urutsewu usai Istighosah Akbar Melawan Lupa.16 April 2015. Photo by : HMI Fisipol Unsoed.

 

Penulis adalah peneliti konflik agraria, mahasiswa Ilmu Politik Unsoed, Kader HMI Cabang Purwokerto.

Hp  : 081902974919

Fb / Twitter : Agam Imam Pratama / @agamimam

Baca Juga Artikel Lainnya :

Kris Biantoro, Seniman Nasionalis