Perjuangan Pak Aziil Anwar, Menumbuhkan Mangrove di Lahan Kritis

977

Pak Aziil Anwar Peraih Penghargaan KEHATI Award 2015

LebahMaster.comPak Aziil Anwar asal Desa Binanga, Mejene, Sulawesi Barat dalam hajatan KEHATI Award 2015, dinobatkan sebagai Prakarsa Lestari KEHATI. Seperti apa, sosok Pak Azriil? Ini sekelumit kisah tentang Pak Azriil.

 

Siang itu, sebuah kijang super melaju dengan kecepatan sedang, melintasi jalan aspal berliku Majene, Sulawesi Barat. Di balik kemudi tampak seorang lelaki jangkung dengan rambut ikal yang mulai memutih. Aziil Anwar,  demikian namanya. Dia biasa dipanggil Pak Aziil.

 

Siang itu, sesekali bercanda, pak Aziil mengemudi dengan stabil. Ia sedang dalam perjalanan menuju salah salah satu sekolah menengah pertama di Kabupaten Majene. Dan sekolah tersebut, Pak Aziil yang pernah meraih penghargaan Pemuda Pelopor pada tahun 1993 dari Presiden Soeharto itu langsung disambut dengan beberapa murid-murid yang antusias.

 

Sudah menjadi kebiasaan Pak Aziil memang menjemput beberapa anak-anak sekolah. Anak-anak itulah yang kemudian diajaknya untuk mengunjungi tempat restorasi mangrove yang sudah dikelolanya sejak tahun 1990.

 

Tujuan Pak Aziil mengajak anak-anak sekolah tak lain di ingin terus berbagi informasi tentang manfaat mangrove. Tujuan lainnya adalah untuk menumbuhkan tanggung jawab generasi muda agar mereka ikut menjaga benteng alam tersebut. Anak-anak sekolah itulah yang ia harapkan bisa menggantikannya menjaga lingkungan di Desa Binanga.

 

Sejak lama mangrove jadi perhatian Pak Aziil. Persentuhannya dengan mangrove di mulai pada era 80 hingga 90-an. Ketika itu Pak Aziil adalah pendatang yan berasal dari Ternate. Ketika itu ia berprofesi sebagai penyuluh kehutanan. Saat mulai bertugas, ia mulai melihat pesisir pantai Desa Binanga. Dan, pesisir yang ia lihat kondisinya memprihatinkan. Tumbuhan mangrove mulai hilang karena ranting-rantingnya digunakan sebagai kayu bakar.

 

Karang-karang di pesisir pun mati karena pengeboman atau racun ikan. Saat itulah muncul tekadnya untuk memperbaiki kawasan pesisir tersebut. Lalu, pada tahun 1990, Pak Aziil membentuk Yayasan Pemuda Mitra Masyarakat Desa (YPMMD). Yayasan itu ia bentuk bersama rekan-rekannya. Untuk kembali menumbuhkan mangrove di pesisir Desa Binanga, Pak Aziil dan beberapa temannya memungut bibit yang berserakan di pantai. Secara alami bibit-bibit mangrove yang juga adalah bagian buahnya itu memang akan jatuh ke air dan terbawa arus.

 

Namun kata Pak Aziil, menumbuhkan mangrove di Desa Binanga, bukan perkara mudah. Di beberapa bagian, mangrove memang dapat tumbuh dengan baik. Tetapi kata Pak Aziil yang juga penerima Kalpataru pada tahun 2003, ia harus harus memutar otak ketika melihat hamparan karang mati yang langsung berhadapan dengan lautan atau pantai. Lokasi yang hendak ditanami sangat rawan terhadap tsunami. Dan tsunami memang pernah menerjang Majene pada tahun 1969.

 

Di tengah kebingungannya itu, kisah Aziil, ia melihat di ujung hamparan karang mati itu, tampak sekilas tumbuhan mangrove tumbuh. Rasa penasaran pun membuncah. Ia pun ingat hasil penelitian seorang peneliti dari Jogja yang berhasil menumbuhkan mangrove di daerah karst. Berbekal rasa penasaran itu, Pak Aziil mulai mengulik cara menanam mangrove di karang mati.

 

Akhirnya saya menemukan cara dengan melubangi karang mati tersebut dan diberikan sedikit tanah sebagai pemancing agar mangrove dapat tumbuh,” katanya.

 

Pada bulan-bulan awal, kata Pak Aziil, pertumbuhan mangrove harus diperhatikan. Sebab luka pada batang mangrove bisa membuat tumbuhan itu mati. Kemudian kerang dan tiram juga harus disingkirkan dari daun dan batang mangrove. Menumbuhkan mangrove di karang mati inilah yang menjadi keunikan Pak Aziil. ‘Mangrove on Rock’ begitu ia menyebut programnya. Awalnya banyak yang menyangsikan dia tapi kemudian, ia membuktikannya, ia berhasil.

Baca Juga : Kisah Bupati Wakatobi Berjuang Bangun Bandara

Dan kini hasil telah dituai. Sejak dibentuk di tahun 1990, YPMMD yang ia dirikan, telah berhasil menanam ratusan ribu mangrove di area seluas 60 hektar. Selain itu, pada tahun 2005, Pak Aziil juga mulai membuat kebun bibit yang pada perkembangannya mampu menghasilkan delapan jenis bibit. Pembibitan ini juga mulai memutar roda ekonomi di Desa Binanga. Bibit yang dihasilkan kelompok Pak Aziil merupakan pensuplay utama bagi bibit di seluruh Sulawesi Barat. Hasil dari penjualan tersebut juga dinikmati oleh warga sekitar yang ikut membantu. Mengetahui potensi mangrove tersebut, masyarakat sekitar yang tadinya tidak peduli, justru menjadi semangat untuk berpartisipasi. Kemudian dari sisi lingkungan, ekosistem mangrove yang sudah terbangun mengundang kembali biota lain yang sebelumnya enggan berada di pesisir Desa Binanga.

 

Selain berkonsentrasi pada budidaya mangrove dan mencoba mengembalikan fungsi ekosistem mangrove di daerahnya, Pak Aziil anwar juga gencar melakukan kampanye dan edukasi kepada generasi muda. Selain mengajak siswa-siswa untuk berkunjung ke lokasi penanaman mangrovenya untuk ikut membersihkan sampah dan belajar tentang mangrove, Pak Aziil juga menggunakan sosial media sebagai alat untuk menyebarkan informasi. Koordinasi dengan mudah dia lakukan dengan Facebook. Sekali ‘klik’ pesan untuk melakukan aksi bersih-bersih mangrove atau penanaman dalam sekejap terkirim. Anak-anak muda juga antusias untuk ikut berpartisipasi. Dalam berbagi ilmu pun Pak Aziil anwar tidak pelit. Dia tidak hanya mengajarkan tentang potensi dan manfaat mangrove tetapi jika kemampuan menggunakan Komputer dan internet.

 

Baca Juga : Bill Gates ‘From’ Indonesia