Piala Presiden, Besar Suporter Ketimbang Striker

918

Lebahmaster.com – Partai puncak Piala Presiden telah digelar. Hasilnya, Persib Bandung sukses menggulung Sriwijaya FC dengan skor 2-0. Dan, tim berjuluk Maung Bandung itu pun jadi kampiun Piala Presiden, serta berhak atas hadiah empat milyar lebih. Puluhan ribu bobotoh Persib yang memadati stadion Gelora Bung Karno, gemuruh menyambut kemenangan Persib.

Piala Presiden 2015 Event Sepakbola Indonesia

Tulisan ini, bukan hendak menceritakan tentang hingar bingarnya Persib jadi juara. Tapi, tulisan ini hendak menyorot sisi lain dari perhelatan besar Piala Presiden.

 

Menarik memang menyimak ramainya pemberitaan menjelang di helatnya final Piala Presiden, ajang turnamen sepakbola yang digelar di sela-sela mati surinya liga bola versi PSSI.

 

Media-media, baik itu online, radio, televisi maupun cetak, isi beritanya nyaris seragam. Mereka ramai-ramai menggaungkan, betapa gentingnya situasi menjelang partai puncak Piala Presiden. Polisi menetapkan status Siaga I di Jakarta saat final digelar. Terjadi aksi sweeping dan penghadangan di Jalan Tol terhadap bus-bus dan kendaraan dari Bandung. Polisi, mengerahkan puluhan ribu personil untuk mengamankan jalannya partai final Piala Presiden yang akan dihadiri kepala negara, Pak Jokowi. Begitu kira-kira isi berita yang disuarakan mayoritas media.

 

Berita-berita yang menyangkut langsung laga itu sendiri, sangat minim. Misalnya, seperti apa tekad striker Persib dan Sriwijaya FC, dua klub yang akan bertarung di partai puncak. Atau, suara sang pelatih dua klub dalam meracik strategi melumpuhkan lawan. Berita dengan tema itu, hanya muncul sekilas. Itu pun porsinya sangat minim. Justru yang menggema, adalah situasi genting dan aksi suporter yang kebelinger.

 

Ya harap maklum bro, di Indonesia itu, untuk urusan bola, selalu terbalik-balik. Lebih besar suporter ketimbang striker. Lebih banyak konflik, ketimbang prestasi. Jadi maklum saja, bila pemberitaan pun ya seputar itu,” kata kawan saya, suatu sore.

 

Benar juga kawan saya ini, pikir saya. Di Indonesia ini, memang selalu begitu. Tak hanya di lapangan hijau, di panggung politik pun demikian. Lebih banyak gaduh, ketimbang kerja. Lebih banyak ribut, ketimbang memberi bukti. Selalu begitu, terulang dari tahun ke tahun. Dari dekade ke dekade.

 

Faktanya, berita seputar final Piala Presiden, lebih banyak menyorot soal kegentingan situasi yang katanya punya potensi untuk rusuh. Berita taktik, perang urat syaraf antar pemain atau manajer klub, laiknya pemberitaan seputar klub-klub dunia nyaris tak ada. Semua tenggelam oleh berita aksi ‘heroik’ bocah tanggung penggemar klub yang melempar batu ke kaca bus.

 

Mau apa lagi, itulah yang terjadi di dunia bola kita. Padahal, negeri ini sangat dahaga dengan bukti prestasi. Sudah lama, rakyat di republik ini tak membusung dada, menyaksikan tim kesayangan mengangkat Piala. Sudah lama pula, tak ada arak-arakan menyambut tim nasional yang sukses jadi jawara. Namun yang disodorkan, gaduh dan ribut saja. Sialnya yang ribut, tak hanya di atas, tapi juga di bawah. Bukan arak-arakan menyambut pemenang. Tapi, saling serang, entah untuk apa dan siapa. Kecuali, hanya menambah gaduh.

 

Tulisan dibuat, beberapa jam sebelum Final Piala Presiden digelar