Pondok Cinta Di Tapal Batas Long Nawang

Pondok Cinta Tentara Penjaga Tapal Batas Negara

Long Nawang – Menjelang peringatan hari kemerdekaan RI ke-70, saya, berkesempatan mengunjungi Long Nawang, salah satu desa terluar di Indonesia yang terletak di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. Saya ke sana ditugaskan kantor untuk meliput kegiatan upacara peringatan hari kemerdekaan RI di Long Nawang yang dihadiri Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo. Berikat, sepenggal cerita perjalanan saya saat melawat salah satu daerah perbatasan negara.

Dari Jakarta, menuju ke Long Nawang, beberapa kali ganti pesawat. Dari Bandara Soekarno Hatta terbang ke Balikpapan. Selanjutnya dari Balikpapan, terbang kembali menuju Tarakan. Lalu, dari Tarakan terbang kembali dengan pesawat kecil ke Long Ampung, salah satu desa yang juga ada di Kabupaten Malinau, yang memang bertetangga dengan Long Nawang.

Tiba di bandara kecil Long Ampung, sekitar pukul 14.00 waktu setempat, menggunakan pesawat berpenumpang 12 orang. Selanjutnya perjalanan disambung menggunakan mobil. Namun mobil yang digunakan tak sembarang mobol. Mobil double gardan yang bisa merambah jalan ke Long Nawang.

Benar saja, jalan menuju Long Nawang, bukan jalan biasa. Jalan menuju Long Nawang adalah jalan tanah yang hanya dikeraskan. Itu pun tak rata, banyak yang bergelombang. Mulai dari bandara sampai ke Long Nawang yang ditempuh dengan waktu sekitar setengah jam-an, badan diguncang ke kiri ke kanan.

Menjelang sore, sekitar pukul 15.00 waktu setempat, saya bersama rombongan wartawan lainnya tiba di Desa Long Nawang. Suasana desa sore hari itu cukup ramai. Banyak warga sedang memasang bendera merah putih sepanjang jalan desa. Hiasan pun di pasang di mulut desa.

Di sisi jalan, serombongan warga sedang melakukan latihan tari adat. Kemeriahan warga ini untuk menyambut kedatangan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, yang akan datang tepat pada 17 Agustus, untuk merayakan upacara peringatan kemerdekaan di Long Nawang.

Namun rasanya tak lengkap bila belum melihat langsung pos lintas batas yang langsung berbatasan dengan Malaysia. Maka, ketika Pak Ihim Surang, mantan Camat Kecamatan Kahiyang Hulu menawari untuk berkunjung ke pos lintas batas, tawaran itu langsung disambar.

Menggunakan dua mobil double gardan, saya bersama wartawan lain langsung berangkat ke pos lintas batas. Perjalanan penuh ‘perjuangan’ kembali dinikmati, karena mesti menempuh jalan tanah naik turun bukit. Setelah satu jam menempuh perjalanan naik turun tanjakan curam, baru tiba di pos lintas batas.

Dua tentara berpakaian lengkap loreng-loreng, menyambut kami, membukakan plang dari kayu yang berfungsi sebagai portal jalan. Bendera Merah Putih, dan Malaysia tampak berkibar berdampingan. Sedikit naik ke atas, nampak bangunan pos jaga tentara berdinding kayu. Depan bangunan pos, sebuah plang bertuliskan Pamtas Yonif 527/BY, sebagai penanda markas jaga tentara Indonesia di tapal batas.

Salah seorang tentara memperkenalkan diri, ” Saya Nuryanto, Wadan (Wakil Komandan), di sini,” kata salah seorang tentara, memperkenalkan diri dengan ramahnya.

Setelah basa-basi saling memperkenalkan diri, Nuryanto, sang Wadan berpangkat Sersan Satu (Sertu) itu pun mengajak rombongan jalan-jalan melihat suasana pos jaga.

Kami dari Kodam Brawijaya, Batalion Lamongan. Di sini ada 15 personil, tapi 11 personil turun untuk upacara 17 Agustus, hanya 4 personil sekarang yang berjaga,” tuturnya.

Sertu Nuryanto pun kemudian bercerita tentang suka duka bertugas di perbatasan. Salah satu duka yang harus dinikmati selama bertugas menjaga tapal batas negara, adalah sulitnya berkomunikasi.

Yang susah sinyal mas di sini,” kata Prajurit Kepala Susanto ikut menambahkan.

Tapi katanya, ada satu tempat yang biasa dipakai untuk ‘menangkap’ sinyal telepon. Ia pun menunjuk satu bangunan yang lebih pantas disebut gubuk yang terbuat kayu. Gubuk kayu itu letaknya tak jauh dari pos jaga. Dan tampak hampir rubuh.

Itu pondok cinta, ” kata Sertu Nuryanto menyebut nama gubuk kayu yang berdiri miring yang ditujukan Prajurit Susanto.

Kami pun diajak menuju ‘Pondok Cinta’. Pondok Cinta, hanya sebuah gubuk darurat dari kayu. Posisinya hampir rubuh, karena tampak miring. Sertu Nuryanto pun menjelaskan, bahwa bangunan yang ia sebut Pondok Cinta, dulunya adalah gubuk darurat yang dibuat untuk mengawasi proyek jalan. Ternyata, di gubuk itulah sinyal telepon bisa didapat. Caranya, naik ke Pondok Cinta, telepon genggam digantung di dinding pondok. Sinyal pun didapat. Ia pun kemudian mempraktekkannya. Handphone ‘jadul’ ia keluarkan, lalu digantungkan ke dinding kayu. Benar saja, di layar telepon genggam sinyal mulai menggeliat.

Ia pun menceritakan, kenapa gubuk kayu itu disebut Pondok Cinta. ” Ini tempat melepas kangen sama istri mas,” kata Sertu Nuryanto.

Pondok Cinta Tentara Penjaga Tapal Batas Negara Di pondok itulah para tentara penjaga tapal batas melepas kangen kepada keluarga di rumah. Bertugas selama 9 bulan di perbatasan yang dikepung hutan belantara, tentu rasa kangen kepada orang tercinta tak bisa ditahan-tahan. Namun, telepon pun mesti bergiliran, karena kadang sinyal yang didapat bisa tiba-tiba menghilang, bila yang menelpon lebih dari satu orang.

Di sini, semua prajurit rata-rata sudah menikah,” kata Sertu Nuryanto.

Namun, waktu menelpon dengan sinyal bagus pun tak bisa setiap saat bisa dinikmati. Menurut Susanto, waktu baik untuk menelpon sekitar pukul 16.00. Karena di waktu itu, sinyal bisa tertangkap dengan bagus.

Sinyal yang bagus sore jam 16. 00. Harus pakai handphone jelek, kalau pakai handphone jaman sekarang malah susah dapat sinyal,” katanya.

Sertu Nuryanto menambahkan, menelpon pun hanya bisa kirim SMS atau sekedar menelpon saja. Karena untuk buka internet, sama sekali tak bisa. Praktis selama bertugas, para prajurit yang berjaga tak bisa tahu berita-berita terbaru yang terjadi, kecuali cerita yang didapat dari orang-orang tercinta yang ditelepon.

Ya disini, kami sama sekali tak bisa baca berita, ” ujarnya.

Namun meski bertugas dengan segala keterbatasan, sebagai prajurit TNI, kata Nuryanto, harus selalu siap ditempatkan di mana saja. Tak boleh mengeluh dan hilang semangat. Apalagi ini bertugas untuk menjaga tapal batas negara, simbol kedaulatan negara.