Putra RA Kartini, Ternyata Jenderal Kesayangan Bung Karno

2867

Sosok Putra RA Kartini Jenderal Kesayangan Bung Karno

Putra RA Kartini Raden Mas Soesalit

LebahMaster.Com – Tanggal 21 April telah lama berlalu. Tanggal itu, adalah sebuah tanggal ‘keramat’ bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal itu, hari lahir Raden Ajeng Kartini, seorang pahlawan emansipasi wanita diperingati. Peringatan itu kini telah berlalu.

Namun, tak banyak yang diketahui tentang Kartini. Pengetahuan publik, masih sebatas kiprah Kartini dan semangatnya yang ingin memperjuangkan kesetaraan bagi kaum perempuan Indonesia. Sementara fakta-fakta lain, mungkin hanya sedikit orang Indonesia yang hapal dan mengetahuinya. Misalnya, soal siapa anak yang dilahirkan Kartini yang membuat putri Jepara itu kemudian mengalami pendarahan setelah melahirkan sang putra. Tak banyak yang mengetahuinya. Bahkan di buku-buku sejarah, jejak putra satu-satunya Kartini, tak terlalu banyak diungkap, khususnya dalam buku sejarah umum yang jadi bahan bacaan siswa sekolah di Indonesia.

Raden Mas Soesalit, demikian namanya. Nama itu saya baca di Majalah Tempo edisi, 22-28 April 2013. Dalam edisi tersebut, Majalah Tempo menurunkan laporan khususnya tentang kehidupan pahlawan emansipasi perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini yang hari kelahirannya tanggal 21 April selalu diperingati sebagai hari besar nasional, hari Kartini. Kisah hidup Kartini, mulai dari masa kecil, hingga detik-detik menghembuskan nafas terakhirnya diulas Tempo dengan runut. Termasuk garis keturunan Kartini dan jejak karyanya berupa surat-surat yang kemudian dijadikan buku yang diberi judul Habis Gelap, Terbitlah Terang. Judul buku tersebut kemudian begitu terkenal dan lekat dengan sosok Kartini, putri Jepara.

Soesalit atau yang bernama lengkap Raden Mas Soesalit itu sendiri adalah satu-satunya jejak penerus sejarah Kartini. Soesalit, adalah putra satu-satunya putri Jepara tersebut, buah perkawinannya dengan Bupati Rembang, Adipati Djojoadiningrat. Kartini sendiri meninggal usai melahirkan Soesalit. Bahkan Soesalit, bisa dikatakan, tak pernah tahu wajah sang ibu yang melahirkannya ke dunia.

Setelah Kartini meninggal, Soesalit kecil diasuh dan di rawat sang nenek, M.A. Ngasirah, ibu Kartini. Ia di asuh di Rembang. Ngasirah sendiri adalah istri dari Bupati Jepara, Sosroningrat, ayah Kartini.

Dalam laporan utamanya, Majalah Tempo menuliskan, Soesalit, harusnya menjadi pengganti sang ayah, menjadi Bupati Rembang. Namun, Soesalit memilih mengalah dan menyerahkan ‘jatah’ itu kepada sang kakak satu ayah, lain ibu, Raden Mas Adipati Abdul Karnen, yang menurut ulasan Majalah Tempo, memang sangat berambisi jadi Bupati Rembang.

Ya, Soesalit memilih tak jadi Bupati. Dan, yang kemudian menjadi Bupati adalah Abdul Karnen kakak satu ayah Soesalit atau ayah tirinya. Soesalit sendiri, memilih melanjutkan sekolah hingga kemudian tamat di Hogere Burger School, sekolah menengah pada zaman Hindia Belanda.

Setelah lulus sekolah, Soesalit menjadi mantri polisi. Sebagai mantri polisi, Soesalit pernah berdinas di Sampiuh, Kabupaten Banyumas, Purwokerto dan Banjarnegara. Kemudian Jepang datang ke Indonesia. Menurut Majalah Tempo dalam ulasannya, kedatangan Jepang itu mengubah jalan sejarah kehidupan Soesalit. Putra Kartini itu kemudian bergabung dengan tentara Jepang, hingga menjadi Shodanco atau komandan peleton. Setelah Jepang angkat kaki, Soesalit bergabung dengan tentara Republik Indonesia. Bahkan, karir Soesalit melesat sampai diangkat menjadi Panglima Divisi III/Pangeran Dipanegoro dari tahun 1946-1948. Pangkatnya pun naik. Soesalit dapat pangkat Mayor Jenderal atau bintang dua.

Tapi Soesalit kena dampak kebijakan reorganisasi dan rasionalisasi tentara yang dilakukan pemerintah Indonesia saat itu. Pangkatnya pun turun jadi Kolonel. Namun ternyata Soesalit adalah salah satu perwira yang dekat dengan Soekarno. Seperti yang dituturkan menantunya, Sri Biantini yang menikah dengan anak Soesalit, RM Boedi Setya Soesalit, Soekarno atau Bung Karno, Presiden RI kala itu pernah berujar, bahwa jenderal kesayangan dia satu-satunya yang diturunkan pangkat adalah Soesalit. Sri Biantini sendiri jadi salah satu narasumber yang keterangannya dikutip Majalah Tempo dalam ulasan khususnya tentang Kartini.

Soesalit sendiri yang lahir pada 13 September 1904, meninggal pada 17 Maret 1962 di RSPAD Gatot Subroto karena penyakit komplikasi. Mengutip Majalah Tempo, Soesalit oleh pemerintah dianugerahi tanda kehormatan Bintang Gerilya pada tanggal 21 April 1979, bertepatan dengan peringatan hari Kartini. Soesalit dimakamkan di Rembang, tanah kelahirannya.

Sumber tulisan :
1. Majalah Tempo, edisi, 22-28 April 2013