Reformasi Masih Jauh Panggang Dari Api

1008

Reformasi Indonesia Masih Jauh Panggang Dari Api

Reformasi Negara Indonesia

Lebahmaster.com – Reformasi telah lama bergulir, sejak rezim Orde Baru jatuh pada 1998. Reformasi yang bergulir awalnya diharapkan bisa jadi momentum perubahan, dari oligarkisultanik menjadi terdesentralisasi, tapi sepertinya tak sesuai harapan. 

 

Apabila sebelumnya negara hanya dikuasai oleh segelintir elit, reformasi diharapkan bisa mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat. Tapi pencapaian pada era reformasi sepertinya masih jauh panggang dari api,” kata Bahrain, Direktur Advokasi dan Kampanye Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, di Jakarta, kemarin.

 

Hilangnya dwi fungsi ABRI, yang ditandai serdadu kembali masuk barak, atau cerainya TNI-Polri, pengusutan harta Soeharto dan kroninya, ataupun penyelenggaraan pemerintahan yang bebas KKN, masih jauh panggang dari api. Pun, penuntasan kasus masa lalu, yang tak puguh juntrung. Menurut Bahrain, belasan tahun perjalanan reformasi, ternyata tidak memberikan dampak yang signifikan bagi perubahan struktural di negeri ini.

 

Apabila dulu kekuasaan oligaki hanya di satu tangan tapi sekarang kekuasaan oligarki terpolar di daerah- daerah oleh predator lokal,” kata dia.

 

Akibatnya,  merekalah yang kini menjadi penguasaan tunggal. Merekalah yang bisa melakukan apa saja, bahkan cenderung melangkahi hukum dan mengabaikan prinsip- prinsip HAM.  Lacurnya, reformasi malah memarakan pelanggaran hak atas beribadah bagi kelompok minoritas. Perampasan tanah- tanah rakyat atas nama pembangunan, semakin menjadi. Hak dasar buruh diabaikan. Negara gagal jadi pelindung.

 

Disamping itu, semakin merebaknya kasus- kasus korupsi,” kata dia.

 

Sederet masalah itu, diperparah dengan tak tegaknya hukum.  Mirisnya lagi, kata Bahrain, negara tidak mampu, bahkan kalah oleh segelintir kelompok preman yang mengatasnamakan hukum. Sementara, saat masyarakat ingin menyuarakan haknya, negara sontak tajinya muncul untuk memberangus kebebasan sipil. Berbagai regulasi jadi alat untuk membungkam daya kritis warga. Sebut saja,  RUU Keamanan Nasional, UU Organisasi Masyarakat , UU Intelejen, dan UU Penanganan Konflik Sosial, adalah sederet regulasi yang kurang ramah terhadap hak kebebasan warga.

 

“  Legislasi ini notabene hanya  ingin membalikan kembali nafas Orde Baru didalam alam reformasi ini,”ujarnya.

 

Intervensi asing  pun kian masif merasuk ke segala lini, terutama sumber daya alam. Banyak pertambangan di Indonesia yang dikuasai oleh perusahaan asing.

 

Melihat problem- problem di atas, reformasi di Indonesia hanyalah proses pemindahan kekuasaan dari centeng pemilik modal kepada pemilik modal itu sendiri,” katanya.

 

Padahal reformasi adalah pekerjaan besar yang mestinya digerakan bersama oleh masyarakat sipil.  Karena itu, konsolidasi antar elemen masyarakat sipil mesti dibangun merebut kembali momentum reformasi yang dibajak elit.

Konsolidasi masyarakat sipil itu harus bekerja sama dengan elemen kebudayaan guna membangun keadaban bangsa,” kata di.

 

Baca Juga : Waspadai! Peningkatan Aksi Kriminalitas Di 2016