Kocok Ulang Pinpinan Senayan

Pimpinan DPR Senayan

Pimpinan senayan – Menurut Sya’roni, Sekretaris Jenderal Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika), dalam keterangan persnya yang diterima via surat elektronik Sekarang lah saat yang tepat untuk kocok ulang pimpinan DPR. Tapi kocok ulang pimpinan Senayan itu bukan karena pertemuan dengan mereka dengan Donald Trump.

Itu hanya lah masalah kecil yang dibesar-besarkan oleh politisi PDIP,” kata Sya’roni.

Kata dia, kocok ulang pimpinan dewan itu karena kondisi negara sudah sangat genting. Sekarang rupiah terus melorot, tapi DPR sebagai wakil rakyat tetap membisu. Pimpinan DPR gagal membawa parlemen menjadi kekuatan penyeimbang. Hampir semua kebijakan pemerintah tidak pernah mendapatkan kritik yang tajam.
Parlemen kata Sya’roni lagi, terus sibuk dengan masalah internal mereka. Misalnya mereka lebih meributkan rencana pembangunan 7 proyek DPR. Atau heboh dan kebakaran jenggot dengan peristiwa pertemuan dua pimpinan DPR dengan Donald Trump. Selain itu, anggota dewan juga lebih sibuk mengurus kenaikan tunjangan DPR dan PAW politisi PDIP yang menjadi menteri.

Semua yang diributkan itu tidak ada korelasinya dengan kesejahteraan rakyat,” katanya.

Padahal, kata Sya’roni, banyak masalah kebangsaan yang mestinya mendapat respon dari DPR. Tapi diabaikan begitu. Misalnya tentang turunnya harga minyak dunia. Harusnya DPR mendesak pemerintah untuk menurunkan harga BBM. Atau soal pelemahan rupiah, DPR sama-sekali tidak bersuara. Padahal kalau rupiah terus melemah, maka banyak rakyat yang akan menjadi sengsara.

Sya’roni pun menilai lemahnya kepemimpinan DPR bisa jadi karena faktor latar belakang pribadi dan politik. Seperti Setya Novanto misalnya, selama ini lebih berpengalaman sebagai bendahara. Sehingga agak kurang lihai menjadi Ketua DPR. Atau Fadli Zon selama ini lebih dikenal sebagai pengamat, tiba-tiba menjadi Wakil Ketua DPR.

Sementara, ketiga pimpinan lainnya lebih karena faktor partai. Fahri Hamzah lebih sibuk mempertahankan partai dari opini negatif terkait terseretnya kader PKS dalam kubangan korupsi. Agus Hermanto merefleksikan sikap abu-abu Partai Demokrat. Dan Taufik Kurniawan mencerminkan PAN yang semenjak dipimpin Zulkifli Hasan menjadi bak ‘gadis centil’ yang ingin buru-buru dilamar, dan akhirnya PAN sudah resmi masuk gerbong pemerintah.

Mencermati problem pimpinan dewan di atas, maka sudah tidak layak untuk dipertahankan lagi. Kocok ulang harus segera dilakukan. Meskipun nantinya ada kemungkinan politisi KIH akan menguasai kursi pimpinan.

Itu tidak masalah,“ujar Sya’roni.

Jika itu terjadi diharapkan gerbong oposisi semakin militan dalam memperjuangkan aspirasi rakyat. Itu jauh lebih baik daripada menduduki kursi pimpinan tetapi tidak bisa berbuat banyak untuk rakyat. Kelompok oposisi ini seharusnya bisa meniru gaya militansi PDIP ketika menjadi oposisi selama 10 tahun lalu. Meskipun di parlemen minoritas, tetapi semangat juangnya terus membara. Hampir semua kebijakan pemerintah SBY disambut kritik. Pansus/panja sering dibentuk sebagai wahana mempertajam kritik ke pemerintah.

Kata Sya’roni lagi, DPR adalah tempat pertarungan ide-ide kebangsaan. Karena itu dinamisasi di parlemen harus terus dilakukan. Dengan banyak diam seperti sekarang ini, sama saja menyia-nyiakan gaji besar yang sudah disediakan oleh rakyat kepada para wakilnya di Senayan.