Sains Membuktikan Penjelasan Tentang Lapisan Lagit Dalam Al Quran

Lapisan langit – Pernahkah Anda mendengar adanya langit ketujuh? Apakah Anda masih bertanya-tanya tentang kebenaran ada berapa jumlah lapisan langit? Karena ketika Anda menghadapkan wajah ke atas, Anda seolah hanya melihat satu langit tanpa lapisan-lapisan, kan? Alquran telah menjawab dan mempertegas bahwa ada tujuh lapis langit yang diciptakan oleh Tuhan. Apakah Anda masih perlu pembuktiannya? Kini, sains pun telah menjawabnya.

Memang, di zaman ini kita senantiasa membutuhkan bukti pembenaran. Keimanan kita diuji dengan selalu terlalu banyak bertanya. Padahal, kita tahu apa yang benar telah termaktub dala kitab suci Alquran. Namun, begitulah naluri kita. Terkadang, muncuk pertanyaan, benarkah? Maka dengan susah payah kita mencoba membuktikannya, dan berkali-kali kita membenarkannya. Mungkin, Tuhan sengaja membuat kita selalu ingin bertanya, agar kita selalu kembali sadar, decak kagum kita terhadap ciptaan-Nya tidak akan pernah terduakan.

Kita sering mendengar adanya tujuh lapisan langit, padahal secara kasat mata kita tidak melihatnya berlapis-lapis. Sains telah menjawab kegelisahan kita untuk membuktika kebenaran hal tersebut. Dan inilah jawaban sains, yang pastinya kita juga mempelajarinya di Ilmu Pengetahuan Alam.

Salah satu arti langit dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ‘ruang luas yang terbentang di atas bumi’. Selain mengenal istilah langit, kita juga pasti tidak asaing dengan kata atmosfer. Ya, atmosferlah yang digadang-gadang menjadi kebanggaan kita di bumi karena kita bisa bernapas dari adanya atmosfer. Adalah lapisan udara yang menyelimuti bumi hingga ketinggian 300 km. Atmosfer terdiri atas nitrogen (78,17%), oksigen (20,97%), argon (0,9%), karbondioksida (0,0357%), uap air, dan gas lainnya. Kita membutuhkan oksigen untuk bernapas sehingga gas itulah yang menyelamatkan kita.

Atmosfer terdiri atas berlapi-lapis bagian, di mana setiap lapis memiliki kandungan gas yang berbeda. Semakin tinggi jarak kita dari permukaan tanah, semakin sedikit kandungan oksigen di dalamnya. hal tersebut kadang membuat kita mengalami dyspnea, yaitu sesak napas. Salah satu penyebab dyspnea adalah kita kekurangan oksigen untuk bernapas ketika ada di tempat yang lebih tinggi. Berikut adalah penjelasan secara IPA mengenai lapisan atmosfer yang ada di bumi.

Troposfer
Ini adalah lapisan terendah dari bumi, yaitu berjarak sampai 15 km dari permukaan laut. Kandungan dalam troposfer adalah yang paling ideal untuk kehidupan. Suhu udara yang berganti-ganti juga ada dalam lapisan ini. Kita bisa merasakan berbagai fenomena cuaca seperti hujan, kemaru, angin salju, dan sebagainya di lapisan ini.

Stratosfer
Lapisan ini ada sampai ketinggian 50 km dari permukaan laut. Lapisan ini merupakan tempat terbangnya pesawat. Suhu udara di lapisan ini semakin dingin.

Ozonosfer
Di lapisan ini, sebagian besar sinar ultraviolet dikembalikan. Oleh sebabnya, kita tidak pernah merasakan panas yang seperti terbakar. Meskipun demikian, kita masih sering mengeluhkan panas, padahal kita termasuk sudah dilindungi dari sinar matahari yang panasnya bukan main. Jika kita saja tidak kuat atas panas yang telah dikembalikan oleh ozonosfer, bagaimana nanti jika kita dihadapkan pada hari akhir yang sangat panas, yang tidak ada naungan selain naunganNya?

Mesosfer
Mesosfer berada di ketinggian kira-kira 81 km dari permukaan bumi. Pada lapisan ini, suhu semakin turun. terjadinya pergeseran benda langit yang jatuh sampai terbakar habis dan tidak sampai merusak bumi juga terdapat dalam lapisan ini. Kita biasanya menyebutnya bintang jatuh ketika bagian kecil benda langit masih ada yang tersisa dan belum terbakar habis.

Termosfer
Lapisan yang lebih atas dari mesosfer ini merupakan lapisan yang semakin dekat dengan matahari sehingga suhunya sangat tinggi. Radiasi sinar ultraviolet nini sering dimanfaatkan untuk gelombang radio.

Ionosfer
Pada lapisan ionosfer, kita dapat melihat fenomena aurora. Di sini, gas-gas juga mulai terionisasi. Ionosfer juga merupakan lapisan pelindung bumi dari benda langit yang masuk bumi.

Eksosfer
Inilah lapisan paling atas dari permukan bumi. Lapisan ketujuh ini merupakan lapisan terluar dari atmosfer. Pada lapisan eksosfer, terdapat refleksi cahaya matahari dipantulkan dan dikenal sebagai cahaya Zodiakal.

Nah, itulah penjelasan secara ilmiah mengenai lapisan langit. Semakin ke atas, semakin berkurang udara oksigen yang bisa kita hirup sehingga kita akan kesulitan bernapas. Masing-masing lapis langit memiliki fungsi dan perannya masing-masing yang telah diciptakan Tuhan begitu sempurna karena cinta kasihNya kepada kita, manusia. Bagaimana Tuhan menjelaskannya dalam Alquran?

Alquran telah ada sejak kira-kira 1400 tahun silam. Didalamnya terdapat banyak hal yang diungkapkan, termasuk tentang ilmu pengetahuan. Kali ini, ilmu pengetahuan ynag akan kita bahas adalah perihal lapisan langit. Anda pasti sering mendengar, apalagi ketika mendengar keterangan tentang Isro’ dan Mi’roj Nabi Muhammad yang sampai langit ketujuh. Alquran telah banyak memberikan keterangan mengenai lapisan langit. Berikut adalah beberapa firman Allah dalam Alquran yang menjelaskan mengenai lapisan langit.

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikannya tujuh langit. Dan Dia maha mengetahui segala sesuatu.” (Surat 2 Al-Baqarah ayat 29).
Maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang maha perkasa lagi maha mengetahui.” (Surat 41 Fushshilat ayat 11).

Dua ayat di atas sangat jelas mengatakan “lalu dijadikannya tujuh langit” dan “Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa”. Tujuh langit tersebut bisa kita pelajari dan asumsikan sebgai tujuh lapisan atmosfer yang menyelimuti bumi. Di tiap-tiap lapisan telah disesuaikan cara kerja dan fungsinya, seperti firman-Nya, “Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.”

Baca Juga: Daftar Universitas dengan Alumni Sukses Jadi Miliader Dunia Terbanyak

Memang benar, jika ada pepatah mengatakan, science without religion is lame, religion without science is blind. “Ilmu tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu buta,” tampaknya tepat untuk mengakhiri tulisan ini. Ilmu dan agama memang harus beriringan saling menguatkan agar keyakinan dan keimanan kita bertambah dan kita semakin dekat dengan-Nya.