Saya Ingin Mati Dalam Tugas

757

Tjahjo Kumolo Saya ingin Mati Dalam Tugas

LebahMaster.com – Hari Sabtu, 30 Juli 2016, saya berkesempatan datang ke kawasan Danau Toba, tepatnya di Parapat, sebuah kota kecil yang ada di tepi danau terbesar di Indonesia tersebut. Kedatangan saya ke sana untuk meliput acara Musyawarah Masyarakat Adat Batak. Acara tersebut dihadiri sejumlah pejabat penting di republik ini, mulai dari Wakil Presiden, Jusuf Kalla, Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo dan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara.

 

Usai memberi sambutan dan menutup acara Musyarawah Masyarakat Adat Batak, Menteri Dalam Negeri, Tjahio Kumolo mengajak wartawan yang ikut dengannya makan sore. Di temani Bupati Tapanuli Utara, Nikson Nababan, Menteri Tjahjo singgah disebuah rumah makan di Parapat.

 

Sambil menyantap menu ikan nila, Menteri Tjahjo banyak bercerita. Sayang banyak cerita yang tak boleh dipublikasikan, salah satunya tentang detik-detik menjelang reshuffle. Dalam bincang ringan sambil makan itu juga Tjahjo berkisah tentang keinginan-keinginannya. Salah satu yang mengagetkan adalah, ia ingin mati saat sedang menunaikan tugas negara.

 

Saya ingin mati (meninggal) saat dalam tugas,” kata Tjahjo.

 

Karena itu, kata dia, ia selalu merasa ‘senewen’ jika tak bekerja. Misal saat Ramadhan, jarang sekali kegiatan berkunjung ke daerah. Ia mengaku agak tersiksa, selalu dibelakang meja. Ia selalu senang datang ke lapangan, melihat langsung dinamika yang terjadi.

 

Tak lupa Tjahjo juga menceritakan tentang cara Megawati dalam mendidiknya menjadi politisi. Katanya, ketika mulai jadi politisi di PDIP, ia benar-benar diuji. Ia tak lantas mengorbit. Ia harus menjalani tahap demi tahap pengkaderan, mulai dari anggota biasa, jadi anggota DPR, sekretaris fraksi, ketua fraksi sampai kemudian didapuk jadi ketua fraksi PDIP di parlemen. Bahkan ia pernah bertahun-tahun jadi sekretarisnya almarhum Taufik Kiemas.

Mendagri Tjahjo Kumolo

Ternyata itu cara Bu Mega juga Pak Taufik dalam membentuk saya. Jadi sekarang saya paham apa yang dimaui Ibu,” kata Tjahjo.

 

Tjahjo juga bercerita tentang sosok bosnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kata dia, Jokowi, benar-benar seorang pemimpin yang sederhana. Sosok yang tak pernah berubah meski sekarang jadi orang nomor satu di republik ini.

 

Pak Jokowi, meski sudah jadi Presiden tetap sederhana, tak ada yang berubah,” katanya.

 

Ia contohkan, soal baju. Menurutnya hingga sekarang baju yang dipakai Jokowi, bukan baju-baju mahal, yang dijahit oleh penjahit terkenal berharga selangit. Baju putih yang selalu dikenakan Jokowi misalnya, adalah baju dengan harga di bawah 100 ribu.

 

Baju putih yang selalu dipakai Pak Jokowi itu, mau tahu harganya berapa? Harganya 80 ribuan, dibeli seringnya di Pasar Tanah Abang,” kata Tjahjo.

 

Semasa masih hidup, kata Tjahjo, almarhum Taufik Kiemas, ternyata mencermati inten sosok Jokowi. Mendiang Taufik Kiemas, selalu memperhatikan Jokowi sejak jadi Wali Kota Solo. Ia masih ingat pendapat almarhum Taufik Kiemas tentang sosok Jokowi. Taufik Kiemas menilai sosok Jokowi, adalah pemimpin yang langka.

 

Sederhana, sepatunya buatan Cibaduyut, bajunya bukan yang mewah. Pemimpin yang sederhana,” kata Tjahjo, mengenang pendapat Taufik Kiemas tentang Jokowi.