Segenggam Rindu Untuk Uda

1191

Cerpen Segenggam Rindu Untuk UdaCerpen ” Segenggam Rindu Untuk Uda” ditulis dan dikirim oleh Prima Rahmadia

 

Lantunan ayat-ayat suci al-qur`an terasa begitu merdu terdengar ditelinga, suara itu berasl dari mesjid yang terletak tepat disebelah kiri rumahku. Tak ada yang berubah dengan kegiatan masyarakat disekitar rumah. Sore hari merupakan waktu yang paling dinanti, khususnya bagi anak-anak karena mereka akan melakukan aktivitas mereka yaitu bermain bola kaki. Rumahku terletak dikawasan yang cukup stategis yaitu bersebelahan dengan mesjid dan didepannya terbentang luas rumput hijau ,yang mana merupakan kawasan yang digemari oleh anak-anak disekitar rumahku. Seperti biasa, sore itu aku melakukan rutinitas tiap sore datang, yaitu menyapu halaman rumah. Dedaunan dan sampah yang berserakan satu per satu aku sapu dan halaman pun menjadi bersih kembali. Ayat suci terus menggema dan berganti dengan lantunan suara adzan maghrib yang menjadi pertanda waktu untuk shalat maghrib telah masuk. Sebagai seorang muslim, aku menyambut gema adzan tersebut. Aku bergegas masuk dan mencuci tangan, lalu aku ambil mukenah dan langsung menuju mesjid. Setelah selesai shalat aku pun keluar dari mesjid dan tepat diteras mesjid tak sengaja seorang lelaki menyenggol bahuku. Lelaki itu menggunakan baju kaos hitam, sarung petak-petak warna coklat tua dan dilengkapi dengan peci hitam. Sontak aku terkejut dan langsung menoleh ke arah lelaki tersebut. Lelaki itu menatapku dan secara tidak sengaja aku membalas tatapannya, lelaki itu tersadar dan dia lantas pergi sambil melemparkan senyum manis kepadaku. Tak ada yang bisa aku lakukan selain diam dan menunduk malu.

 

 

Esok pagi, aku pun bersiap hendak ke sekolah. Namaku Rita. Aku merupakan salah satu siswi SMP yang cukup terkenal dikotaku. Pagi itu aku terlambat bangun dan pergi kesekolah dengan tergesa-gesa. Ditengah perjalanan aku bertemu lagi dengan lelaki misterius itu. Karena kami berpapasan, senyum pun kami lontarkan kembali dan aku bergegas menaiki angkutan umum menuju sekolah. Selama diperjalanan entah kenapa wajah lelaki tersebut selalu terlintas di benakku. Aku hanya bisa tesenyum sambil mengingat kejadian itu. Waktu pun berlalu, magrib pun datang dan aku pun menuju mesjid dengan perasaan sedikit deg-degan. Dan diluar dugaanku, setelah selesai shalat dan aku hendak pulang, ternyata lelaki itu berdiri didekat pagar mesjid, ketika aku hendak melewati pagar itu, lelaki itu menghentikan langkahku. Tanpa basa basi dia langsung menanyakan namaku sambil mengulurkan tangan, dan aku menjabat tangannya sambil memperkenalkan diri. Ternyata namanya Andra. Obrolan ringan pun terjadi, Andra merupakan salah satu siswa dari sekolah keguruan dikota asalnya. Dia datang ke kotaku dengan tujuan ingin melaksanakan magang di salah satu instansi pemerintahan kota . Dia menjadi gharin dimesjid ini. Akhir dari perbincangan kami yaitu kami saling bertukar nomor handphone. Komunikasi pun terbangun setelah kami berkenalan. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga tiba pada suatu hari, Andra pun mengajak saya ke taman kota. Setiba disana kami pun duduk dibawah sebuah pohon tua yang rindang. Kami berbincang-bincang dan saling berbagi pengalaman. Selama obrolan berlangsung, sesekali dia mencoba melirik aku. Dan tiba saatnya, obrolan pun terhenti sejenak dan dia menatapku dalam. Tak disangka Andra menyatakan cinta kepadaku. Lidahku kelu, tak ada kata yang terucap. Aku terdiam, aku terkejut karena aku rasa itu terlalu cepat. Andra pun menanyakan apakah aku bersedia menjadi kekasih hatinya, karena aku juga memiliki rasa yang sama dan aku pun menjawab iya. Rona bahagia langsung terpancar dari wajah Andra. Kami pun saling tersipu.

 

 

Aku memanggil Andra dengan panggilan Uda, yang didaerahku berarti abang atau kakak laki-laki. Selama kami menjalin hubungan, tak ada kata mewah, semua serba sederhana. Jika ingin pergi main kami mesti naik angkutan umum, karena pada saat itu Andra belum memiliki kendaraan bermotor. Kondisi ini tak menjadi masalah bagiku. Tak ada rasa malu bagiku saat itu ketika kami menaiki angkutan umum. Bahagia tercipta hanya dengan sesuatu yang sederhana. Hubungan kami pun berjalan cukup lama, pada saat itu kami sama-sama lulus, aku lulus SMP, dan Andra lulus SMK. Aku melanjutkan pendidikan ke SMA dan Andra pun melanjutkan di perguruan tinggi. Dia kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta di kota Padang. Waktu pun berlalu dan tak terasa telah setahun kami lewati bersama. Seperti biasa aku menjalani aktifitasku sebagai pelajar, begitupun Andra sebagai seorang mahasiswa. Sekolahku terletak cukup jauh dari kampus Andra. Pernah pada satu kesempatan kami hendak pulang bersama, sore itu aku menunggu Andra pulang kuliah disebuah warung tepat didekat kampusnya. Aku membeli beberapa snack dan minuman dingin sambil menunggu kedatangan Andra. Tak lama kemudian Andra pun datang, tak ada rona wajah lelah, yang ada hanyalah senyum tulus yang membuat kami semangat kembali. Pada saat hendak pulang, kami pun memutuskan untuk tidak naik angkutan umum, tetapi kami ingin berjalan kaki sampai kerumah. Sungguh, tak ada kata lelah untuk itu. Kami saling menikmati indahnya perjalanan tanpa mempedulikan omongan dari orang lain. Sesekali digenggam eratnya tanganku dan aku merasakan kenyaman yang begitu dalam. Dengan menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya aku sampai dirumah dan Andra pun langsung bersiap untuk shalat maghrib. Begitulah kami, walaupun memiliki hubungan tapi kewajiban tetap dilaksanakan. Hubungan kami tak selalu berjalan mulus, pernah terjadi pertengkaran antara kami karena beberapa faktor dan penyebab. Salah satunya yaitu karena kesibukan Andra. Selama di perguruan tinggi Andra aktif dibeberapa organisasi kampus dan dia juga dipercaya untuk menjadi ketua himpunan mahasiswa dikampusnya. Aku mulai merasa diacuhkan dan diabaikan, Andra larut dalam kesibukannya, tak ada lagi perhatian yang intens seperti dulu, disisi lain aku bangga terhadap prestasi yang diraih Andra. Aku pun berada dikondisi yang labil, karena banyaknya pengaruh dari teman-temanku. Didalam keadaan tersebut aku berkenalan dengan seorang lelaki yang bernama Defra, dia juga merupakan gharin di mesjid tersebut. Dan dia juga menjadi teman sekamar Andra. Hari pun berlalu dan aku mulai dekat dengan Defra. Akupun mendapat perhatian yang tak bisa aku dapatkan selama Andra sibuk dengan kegiatannya. Rasa nyaman itu mulai ada, tak disangka akupun memiliki hubungan spesial dengan Defra. Kami menyembunyikan hubungan yang tak semestinya itu. Sepandai pandainya kami menyembunyikan, akhirnya hubungan kami ketahuan. Andra mengetahui hal itu dari sebuah pesan singkat di handphone ku. Pertengkaran hebat terjadi, aku tak menyangka akan seperti ini jadinya. Andra pun melabrak Defra. Mereka bertengkar hebat dihadapanku. Aku hanya bisa menangis dan melerai mereka hingga emosi Andra turun. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menangis dan menyesali perbuatan yang aku lakukan. Aku menghubungi Andra dan meminta maaf atas segala kekhilafan yang aku perbuat. Dikarenakan rasa sayang yang begitu dalam. Andra memaafkan kesalahanku dan hubungan kami berjalan seperti biasa. Aku menghentikan hubungan dengan Defra.

 

 

Siang itu mentari cukup menyengat ke ubun-ubun. Aku pergi kesekolah seperti biasa. Sesampai disekolah aku menjalani proses pembelajaran. Handphone ku bergetar, ternyata Andra menelponku. Kabar baik yang disampaikannya, dia ingin membeli sepeda motor, Andra menanyakan warna apa yang cocok untuknya, diantara banyak pilihan, aku menjatuhkan pilihan pada warna biru dan Andra pun menyetujui. Sesaat aku berpikir, akankah semua akan berubah setelah adanya sepeda motor nanti ? Aku segera menepis semua kemungkinan buruk yang akan terjadi dan aku kembali berpikiran positif. Tahun berganti dan musim berlalu, aku lulus menamatkan pendidikan di bangku SMA. Dan aku ingin melanjutkan pedidikan ke bangku kuliah. Karena beberapa faktor akhirnya aku memutuskan untuk kuliah di kampus yang sama dengan Andra. Ada perasaan bahagia yang menyelimutiku karena aku akan satu kampus dengan orang yang aku sayang.

 

 

Tak terasa empat puluh lima bulan telah kami lewati bersama, suka duka telah kami arungi. Seiring bertambahnya usia hubungan kami, masalah semakin banyak menghampiri. Banyak cobaan yang menghampiri kami. Dimulai dari adanya pihak ketiga yang mencoba mendekat, kurangnya restu dari orangtuaku, dll. Awalnya kami sempat berpikir umtuk mengakhiri semuanya. Tapi kembali lagi karena cinta, kami saling menguatkan dan berusaha untuk memperjuangkan hubungan ini. Lama tak ada kabar, Defra menghubungiku kembali. Awalnya aku menanggapi dengan biasa , tapi lama kelamaan aku terjebak kembali dengan kesalahan masa laluku. Aku kembali dekat dengan Defra. Cukup lama hubungan ini aku sembunyikan. Suatu hari Defra mengajakku jalan, siang itu aku habiskan dengannya. Malam datang, Andra menelponku dan menanyakan kegiatanku seharian tadi. Sejenak aku terdiam, aku berbohong kepada Andra, Andra menanyakan kembali padaku, dan dengan jawaban yang sama, aku berbohong lagi. Ada perasaan bersalah yang menghampiriku malam itu. Malam berlalu bersama bintang-bintang dilangit, dan mentari muncul di ufuk timur, aku bersiap hendak ke kampus. Aku melewati hari dengan beban, ya beban kebohongan. Setelah perkuliahan selesai aku pulang ke rumah. Seperti biasa malam harinya Anri menelponku kembali, dia kembali menanyakan hal yang kemaren, aku teguh dengan kebohonganku. Dengan nada yang sedikit tinggi Andra pun marah kepadaku, dia marah karena aku membohonginya. Ternyata Andra mengetahui aku jalan dengan Defra. Andra melihat sendiri aku jalan dengan Defra. Aku tak bisa melakukan pembelaan terhadap diriku, aku terdiam, terdiam. Hingga Andra menutup telepon tesebut dengan tiba-tiba. Perasaanku campur aduk pada malam itu, aku tak bisa tidur karena memikirkannya.

 

 

Keesokan harinya sebuah pesan masuk ke handphoneku, aku membukanya dan ternyata itu dari Andra. Di pesan tersebut Andra menuliskan kata-kata yang menyayat hati, kata putus. Sontak duniaku berhenti sejenak, air mata mengalir deras membasahi pipiku, aku tak ingin, tak ingin putus darinya. Aku langsung menelpon Andra, dia tak menjawab panggilan dariku. Aku tak menyangka Andra akan mengakhiri semuanya, karena beberapa hari lagi hubungan kami memasuki tahun ke-5. Aku menyesal, sungguh menyesal dengan apa yang telah aku lakukan. Tiga hari berlalu, tak ada kabar dari Andra, seminggu kutunggu tetap tak ada kabar darinya. Sungguh aku terpuruk dengan semua ini. Aku kehilangan semangat, tak ada lagi sosok lelaki yang selalu menyemangatiku. Andra pergi, Defra pun mengilang. Tak ada lagi kabar tentangnya. Aku kehilangan semuanya. Hari-hari aku lewati dengan air mata, tak ada senyum bahagia lagi yang terpancar dari wajahku. Teman-teman selalu memberi support untukku. Hingga aku bisa bangkit kembali. Satu bulan berlalu semenjak aku putus dari Andra, dan aku medapat kabar bahwa Andra telah menemukan dambaan hati yang baru. Awalnya aku tak percaya mendengat kabar itu. Ternyata benar, Andra telah memiliki hubungan baru dengan seorang wanita, wanita itu bernama Putri, dia satu kampus dengan kami. Perasaan sedih kembali melanda hatiku. Aku berusaha tegar menghadapinya. Diakhir perkuliahannya, Andra memutuskan untuk pindah, dia tidak lagi tinggal dimesjid itu. Hingga pada akhirnya Andra menamatkan kuliahnya, disaat yang bersamaan Putri juga menamatkan kuliahnya. Mereka wisuda bersama, tak bisa dibayangkan betapa remuknya perasaanku.

 

 

Setelah Andra wisuda tak ada lagi aku mendengar kabar tentangnya. Mungkin dia telah menemukan kebahagiannya sendiri. Harapan untukku agar bisa kembali dengan Andra sudah tak ada lagi. Mimpi-mimpi itu pupus seiring melihat keseriusan Andra dengan Putri. Sementara itu, aku terbelenggu dengan perasaan sedih dan menyesal, nasi telah menjadi bubur, aku teramat menyesal karena telah menyia-nyiakan kasih sayang dan cinta dari orang yang menyayangiku. Aku larut dalam kesedihan sehingga tak ada terpikir olehku untuk mencari pengganti Andra. Ada rindu mendalam yang aku kirimkan untuk Andra, rindu dengan semua kenangan dengannya. Aku masih seperti dulu, masih dengan perasaan yang sama untukmu, uda.

 

Baca Cerpen Lainnya : Coretan Terakhir Sahabatku

 

SHARE
Previous articleCerpen: Dinda Kecewa Berat
Next articleSemangat Di Setiap Peluhmu
Kirim tulisanmu ke lebahmaster.com - suarakan inspirasi dan aspirasimu yang bersifat membangun. jadikan setiap kata dalam tulisanmu penuh manfaat bagi banyak orang. Tulisan Sahabat adalah space khusus untuk memuat tulisan hasil dari aktivitas jurnalistik para sahabat pembaca yang dikirim ke lebahmaster, baik dengan mendaftar terlebih dahulu maupun dikirim ke email: redaksi@lebahmaster.com