SEUNTAIAN TALI PANJANG UNTUK MENGHIDUPKAN KELUARGA Kisah Inspirasi Ini DiKirim dan DiTulis Oleh Suci Susmira

Matahari pagi yang cerah membangunkan tidur saya yang cukup lelap. Saya melangkahkan kaki menuju kamar mandi kecil yang hanya ditutupi terpal yang berwarna biru. Saya mulai mandi dengan air yang dingin menusuk ke tulang, perlahan namun pasti. Setelah selesai mandi saya minum secangkir teh hanyat dan dua buah goreng pisang buatan sang istri. Itu cukup untuk mengisi perut saya di pagi hari sebelum berangkat kerja. Setelah selesai sarapan saya bersiap untuk berangkat bekerja. Sebelumnya saya akan menceritakan dulu bagaimana keluarga saya.

 
Saya memiliki lima orang anak dan seorang orang istri. Anak pertama saya perempuan dia duduk dibangku perkuliahan. Nomor dua dan tiga yaitu laki-laki yang lebih memilih pendidikan dipesantren karena mereka berfikir kalau anak laki-laki itu harus memiliki landasan agama yang kuat, agar nantik nya dia menjadi seseorang yang baik untuk dirinya dan keluarganya nanti. Nomor empat dan lima yaitu perempuan yang masih duduk pendidikan sekolah dasar. Sebenarnya saya hanya mempunyai dua orang anak kandung yaitu anak nomor empat dan lima, sedangkan anak nomor satu sampai tiga itu adalah anak tiri saya. Bagaimana pun saya sangat menyayangi mereka seperti anak kandung saya sendiri. Oleh karena itu melalui seutaian tali panjang saya menghidupi mereka.

 
Seuntaian tali panjang saya ambil sebelum saya berangkat bekerja, dan saya langsung menuju sebuah pohon manggis yang tak jauh dari belakang rumah saya. Saya bertemu dengan rekan kerja saya yaitu monyet jantan yang saya ikatkan disebuah pohon manggis. Tali panjang yang saya bawa tadi langsung saya ikat pada leher monyet, dan setelah itu saya menarik monyet saya menuju ke perkebunan kelapa yang jarak tiga kilometer dari rumah. Sebelum monyet memanjat kelapa, saya memberikan makan nasi putih saja karena monyet tidak suka campuran lain dalam nasinya. Setelah monyet selesai makan saya menyuruh nya untuk memetik kelapa yang tinggi pohon nya puluhan meter. Selama monyet bekerja saya selalu memantau kerja nya karena monyet bisa bekerja jika hanya mendengar perintah dari majikan nya saja.

 
Setelah beberapa kelapa dijatuhkan monyet, saya langsung mengumpulkannya pada satu tumpukan saja, karena itu dapat memudahkan saya dalam mengupas nya. Kelapa yang sudah saya kupas langsung diletakkan dalam gerobak, dan saya mendorongnya menuju rumah. Jika kelapa itu dalam jumlah banyak maka saya harus bolak-balik membawa kelapa. Hari menujukan pukul dua belas siang itu menandakan saya harus berhenti bekerja sejenak untuk istirahat siang. Sejenak untuk istirahat saya memberi makan siang untuk monyet saya berupa minuman dan nasi putih lagi. Jarum pun bergerak menujukan pukul setengah satu siang, saya langsung mengambil wudhu untuk shalat zuhur. Waktu zuhur pun berlalu saya kembali lagi keperkebunan kelapa untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.

 
Kini matahari sudah berada di sebelah timur, yang berwarna sedikit kemerahan. Hal ini menandakan bahwa saya harus pulang kerumah untuk berhenti bekerja dan melanjutkan besok harinya. Malam hari nya disebuah ruangan kecil yang hanya beralaskan tikar pandan, disanalah saya dan keluarga saya bercengkrama, setiap hari senin sampai kamis itu hanya ada saya, istri dan dua anak perempuan kecil, karena tiga anak saya yang lainnya tidak berada dirumah karena mereka sedang berjuang mengejar cita-cita mereka.

 
Hal inilah yang membuat saya sangat semangat untuk bekerja, karena saya berharap nantiknya mereka bisa menjadi orang yang sukses dan membangga keluarganya. Walaupun saya hanya menamatkan pendidikan di sekolah dasar, namun saya memamdang bahwa penting pendidikan itu hidup di zaman sekarang ini. Melalui seuntaian tali panjang ini lah saya dapat menyekolakan anak saya sampai kejenjang perguruan tinggi, meskipun saya banyak mendapatkan cemoh an atau ejekkan dari orang-orang disekitar saya. Itu tidak akan membuat semangat saya luntur untuk menyekolakan mereka semua. Karena saya berfikir bahwa anak-anak saya itu sangat membutuhkan pendidikan untuk dapat menjalankan hidup mereka di masa yang akan datang.

 
Setiap anak-anak saya akan melangkahkan kaki untuk berangkat menimbah ilmu ditempat yang mereka pilih, saya selalu memberikan semangat pada mereka yaitu “belajar yang rajin ya nak! Jangan pernah kamu memikir berapa biaya nya biar itu semua ayah yang atur, meskipun ayah harus pinjam sana sini itu semua adalaha urusan ayah, tugas kamu hanya belajara yang rajin dan gapai cita-cita yang kamu inginkan”. Kata-kata seperti selalu terlontar dari mulut saya ketika anak bersalaman dengan saya sebelum berangkat. Jadi apapun bentuk pekerjaan kita selagi itu halal janganlah takut untuk menyekolakan anak, karena rezki itu sudah yang mengatur-Nya.

 

Baca Juga : Cerpen : Buku Diary Kokom Komariah