Tersiksa Karena Tersesat Di Neraka Guantanamo

Siksaan Ala Neraka Guantanamo , Hebohkan Dunia
Siksaan Ala Neraka Guantanamo , Hebohkan Dunia – lebahmaster.com

Guantanamo –Tersesat Di Neraka Guantanamo,” demikian salah judul salah satu berita yang dimuat Majalah Tempo, edisi 19 Mei 2013. Berita itu saya baca kemarin, yang mengulas tentang kisah Mohamedou Ould Slahi, seorang pria kelahiran Mauritania yang pernah ditahan di penjara Guantanamo, sebuah penjara dengan tingkat keamanan maksimum yang dibangun Amerika Serikat. Penjara Guantanamo sendiri dibangun di wilayah Kuba. Ini sebuah penjara yang dikhususkan bagi para tahanan yang oleh negeri Paman Sam dianggap sebagai bagian dari jaringan teroris, khususnya mereka yang dinilai terlibat jaringan Al Qaeda, sebuah organisasi yang didirikan mendiang Osama Bin Laden.

Dalam berita itu, diceritakan bahwa Slahi diciduk oleh pihak otoritas Amerika pada 20 November 2001. Kemudian ia dikirimkan ke Guantanamo. Dan setelah itu, kehidupan Slahi benar-benar seperti di sebuah neraka. Ia mesti menghadapi metode interogasi atau pemeriksaan yang tak berperikemanusiaan.

Metode hukuman ala penjaga Guantanamo itu yang kemudian menyulut kontroversi. Amerika pun mendapat badai protes dari mana-mana, khususnya dari lembaga dan penggiat HAM yang menyorot praktek penyiksaan terhadap para tahanan yang mendekam di Guantanamo. Slahi adalah orang yang bernasib sial, pernah mengalami ‘neraka’ Guantanamo.

Seperti yang ditulis Majalah Tempo, Slahi di bawa ke Guantanamo, dengan cara dibius terlebih dahulu. Kepalanya pun diselubungi kain dan tangan diikat. Setelah tiba di Guantanamo, Slahi langsung dimasukkan ke dalam sel tertutup bersuhu dingin, yang membuat Slahi menggigil tak bisa tidur. Apalagi Slahi hanya mengenakan pakaian yang sangat tipis.

Slahi juga jarang menikmati sinar matahari. Ia hanya bisa menikmati sinar matahari sekejap saja, saat ia digiring dari selnya ke ruang interogasi. Dalam sehari Slahi diinterogasi selama 20 jam. Pertanyaan yang diajukan para integrator selalu sama, dan itu ia rasakan seperti teror. Selama interogasi, beragam jenis siksaan ia alami. Hantaman di tubuh, di wajah dan bagian tubuh Slahi, menjadi hal yang rutin dirasakan.

Kata Slahi, setiap ia tiba di ruang interogasi, tentara Amerika yang akan memeriksanya selalu menyambutnya dengan ucapan, selamat datang di neraka. Sungguh sebuah teror psikologis. Bahkan, Slahi mengaku, pernah dalam seminggu ia tak mandi, dan tak berganti pakaian.

Siksaan lainnya yang dialami Slahi, dirinya pernah dipaksa tak tidur dengan cara diguyur air 740 mililiter secara terus menerus, dengan interval waktu satu-dua jam. Karena siksaan itu, Slahi mengaku tak bisa menutup mata barang sejenak. Sungguh metode penyiksaan yang diluar nalar manusia.

Guantanamo sendiri menjadi sorotan dunia. Amerika, dianggap banyak melakukan pelanggaran HAM dalam menangani tahanan yang mereka cap sebagai bagian dari kelompok teroris. Sungguh ironis memang, satu sisi Amerika acap ‘galak’ memprotes, bahkan mengkritik negara lain, yang disebutnya banyak melanggar HAM. Tapi, di sisi lain, justru Amerika yang melakukan itu. Bahkan, dengan cara di luar perikemanusiaan. Ya, itulah standar ganda negeri adidaya. Dan, mereka mempertontonkannya pada dunia tanpa malu-malu. Guantanamo, adalah bukti sahihnya.

Baca Juga : Penjara Yang Paling Di Takuti Oleh Manusia Di Dunia