Sisi Lain Socrates, Legenda Sepakbola Brasil

1861

Sisi-Lain-Socrates-Lagenda-Sepakbola-BrasirSocrates Brasileiro, Brasil – Para bintang sepakbola dunia, tak hanya pintar dalam memainkan si kulit bundar. Namun, banyak cerita ‘heroik’ dari para bintang sepakbola dunia yang justru dilakukan bukan di tengah lapangan hijau.

Mereka, tak sekedar piawai memanjakan fans klub atau tim nasional yang dibelanya dengan gaya permainan ciamik dan memukau. Tapi, banyak pemain sepakbola berkelas bintang dunia, bahkan legenda lapangan hijau adalah ‘para pejuang’ bagi negeri dan rakyatnya.

Siapa mereka? Salah satunya adalah Socrates. Pemain bernama lengkap Socrates Brasileiro Sampai de Sauza Viera de Oliviera, adalah salah satu legenda sepakbola dari tanah Samba, Brasil selain Pele dan Zico, dua legenda lainnya.

Bersama Pele pula, Socrates mempersembahkan Piala Dunia bagi Brasil pada tahun 1982. Juara dalam Piala Dunia adalah pencapaian tertinggi dalam kompetisi olahraga paling populer sekolong jagad tersebut. Sementara sepakbola sendiri di Brasil, adalah olahraga paling populer. Bahkan, saking populernya, ada yang menyebut sepakbola di negeri Samba, sudah dianggap seperti agama. Lewat sepakbola, banyak anak-anak Brasil, yang tadinya hidup berkubang kemiskinan, tiba-tiba terangkat jadi bintang bergelimang harta. Contoh terkini adalah Neymar, bintang Brasil yang merumput di Barcelona, salah satu klub terkaya di Spanyol. Socrates pun demikian, namanya terangkat karena sepakbola.

Ada sebuah cerita menarik tentang Socrates yang membuat pemain legendaris itu dikenang sepanjang masa oleh rakyat Brasil, tak sekedar sebagai legenda lapangan hijau, tapi juga sebagai seorang pejuang politik pemberani.

Ceritanya begini. Pada tahun 1982, klub yang dibela Socrates, Corinthians menjuarai liga Brasil. Dalam perayaan kemenangan menjuara liga, Socrates membuat kaos tim atau jersey dengan cetakan tulisan “Democracia”. Kata democracia sendiri ketika itu di Brasil adalah kata tabu. Maklum, saat itu yang berkuasa adalah rezim militer yang represif. Jadi, demokrasi kala itu menjadi ‘barang mahal’ bagi rakyat Brasil.

Saat itu, siapa yang berani meneriakan kata demokrasi, akan langsung dicap sebagai penentang penguasa. Aparat rezim tak segan akan langsung menciduknya. Banyak aktivis pro demokrasi di Brasil saat itu yang diciduk pemerintah militer. Bahkan, banyak yang tak jelas nasibnya hingga sekarang.

Pembuatan jersey dengan kata “Democracia”, adalah bentuk protes sekaligus perlawanan Socrates terhadap rezim yang berkuasa di Brasil saat itu. Dan, ketika itu, tak banyak yang berani mengkritik rezim yang berkuasa. Tapi, Socrates adalah segelintir orang yang berani ‘menentang’ penguasa. Ia berani melakukan itu, mengkritik rezim otoriter. Bahkan, perlawanan tersebut, ia lakukan di dari dunia sepakbola. Padahal, tindakan Socrates itu sangat beresiko. Ia bisa saja, ditindak keras atau bahkan diciduk aparat rezim yang berkuasa. Untungnya, ketika itu, Socrates sudah dianggap pahlawan oleh rakyat Brasil karena berhasil mempersembahkan Piala Dunia bagi negerinya.

Rezim militer yang berkuasa, mungkin berhitung ulang, bila melakukan tindakan represif terhadap Socrates. Mungkin, rezim berkuasa takut, bila Socrates ditindak, bakal memicu kemarahan besar dari rakyat Brasil yang memang tengah mengelu-elukan sang bintang lapangan hijau tersebut. Karena tindakan berani Socrates itulah, nama pemain tersebut harum hingga kini. Socrates dianggap rakyat Brasil tak sekedar sebagai pahlawan lapangan hijau. Tapi dia juga dipuja, sebagai pejuang politik yang berani ‘menentang’ rezim otoriter. Kisah keberanian Socrates itu saya dapatkan dari Majalah Tempo, edisi 8 Juni 2014 yang salah satu laporan utamanya mengulas tentang sisi lain dari sepakbola.

Baca Juga : Mesut Oezil : Saya Tahu Cara Mengalahkan Liverpool