Soal Listrik, Indonesia Kalah Telak Oleh China Dan Negara Lain

1227

Soal Listrik, Indonesia Kalah Telak Oleh China, Malaysia, Singapore Dan Thailand

LebahMaster.Com – Indonesia punya proyek setrum 35 ribu Megawatt. Proyek ini sempat disentil Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Manusia, Rizal Ramli, sebagai proyek yang tak realitis. Bahkan, sentilan Menko Rizal, sempat memerahkan kuping Wakil Presiden Jusuf Kalla, ketika Rizal, mantan menteri di era Presiden Abdurahmman Wahid itu menantang Kalla untuk debat terbuka soal proyek pembangkit listrik 35 ribu megawatt tersebut.

Tapi sebenarnya berapakah besar pembangkit listrik yang dimiliki Indonesia. Ternyata Indonesia, baru mampu membangun pembangkit listrik dengan kapasitas 52 Gigawatt. Ini masih sangat kurang, bahkan sangat jauh dalam mencukupi kebutuhan listrik seluruh rakyat Indonesia.

Tak heran bila kondisi byar pet setrum listrik terjadi dimana-mana. Terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan misalnya, cerita tentang byar pet aliran listrik sudah jadi hal yang biasa. Nyala lalu gulita, mungkin telah jadi menu kehidupan yang biasa dinikmati.

 

Habis terang, lalu gelap, jadi rutinitas yang selalu berulang. Protes demi protes dilayangkan. Seribu keluhan telah disuarakan. Tapi byar pet listrik terus terjadi.
Suatu waktu saya pernah menghadiri diskusi soal listrik. Dalam diskusi itu, salah satu pembicara yang hadir adalah Profesor Tumiran. Dia, adalah mantan Dekan Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada (UGM), salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Sebagai mantan Dekan Fakultas Teknik, Profesor Tumiran hapal seluk beluk kelistrikan di Tanah Air.

Listrik Di Indonesia ( PLN )

Dan dari mulut Profesor Tumiran pula saya mendapatkan fakta tentang masih kalah jauhnya pretasi kelistrikan Indonesia oleh China. Kata Profesor Tumiran, negeri tirai bambu itu sudah mampu membangun pembangkit listrik dengan kapasitas besar yakni berkapasitas 1.289 Giga Watt. Indonesia? ” Indonesia baru memiliki 52 Giga Watt,” kata Profesor Tumiran.

 

Bisakah Indonesia mengejar China? Menurut Profesor Tumiran, bisa saja. Dan bila ingin mengejar China dalam soal setrum, Indonesia harus membangun 7.000 Megawatt atau 7 Gigawatt per tahun. Tapi itu harus konsisten dilakukan. Dan memang memerlukan waktu yang lama. Jadi tak gampang.

 

Profesor Tumiran juga mengungkapkan ketertinggalan kelistrikan Indonesia lainnya. Kata dia, Indonesia juga tertinggal oleh negara tetangganya seperti Malaysia dan Singapura. Indonesia misalnya baru mempunyai 200 watt per kapita. Sedangkan Malaysia sudah 950 Watt. Bahkan oleh Singapura, ketertinggalan Indonesia lebih telak. Singapura itu sudah mampu memiliki 2.300 watt per kapita. Oleh Thailand, Indonesia juga kalah. Thailand sudah mencapai 850 watt per kapita.

 

Baca Juga : RI Perkuat Infrastruktur Bersama China

 

Profesor Tumiran menyarankan dalam mengejar ketertinggalan dalam pengadaan tenaga listrik, harus dilakukan dengan cerdas. Tak boleh asal kejar target. Katanya, jangan menyerahkan detail kepada kontraktor. Justru pemerintah yang harus membuat Detail Engineering Design atau DED. Karena DED itulah yang dikerjakan kontraktor.

 

Tanpa DED, kita akan didikte kontraktor,” ujarnya.

 

Sebab bila tanpa DED, ujar Profesor Tumiran, masalah timbul bakal mencuat, ketika kontraktor satu, yang mempunyai standar kelistrikan sendiri, berbeda dengan kontraktor lain. Dan ini bisa menjadi masalah. Sebab itulah ia menyarakan, Presiden Jokowi harus segera memaksa PLN (Perusahaan Listrik Negara) untuk membuat standar listrik nasional.

 

Baca Juga : Adam Zeng Xuezhong, Bos ZTE yang Membuat Perusahaan Itu Mendunia