Soal Pisang Goreng, Lain Di Jawa, Lain Pula Di Sulawesi

Pisang goreng
Pisang goreng

Travel – Indonesia, kaya akan ragam kulinernya, selain budaya serta tradisinya. Tak heran memang, sebagai negara kepulauan, Indonesia, adalah bangsa yang terdiri dari beribu-ribu suku, dengan ragam bahasa serta budaya. Karena beragam suku dan budayanya, beragam pula kuliner, serta kebiasaannya dalam mencicipi makanan salah satunya pisang goreng.

Soal makanan, ada semacam kekhasan antar satu daerah. Bahkan, satu makanan yang sama beda pula cara penyajian serta menyantapnya. Seperti salah satu contohnya adalah pisang goreng. Penganan berbahan pisang ini, bukan makanan yang aneh. Di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan bahkan sampai Bali dan Papua, pasti tak sulit menemukan pisang goreng. Banyak hotel, restaurant atau warung kecil, terutama warung kopi yang menyediakan menu pisang yang di goreng. Bisa dikatakan, pisang goreng adalah salah satu menu favorit orang Indonesia. Ini menu yang cocok dijadikan teman ngopi, atau ngeteh.

Akhir Maret 2016, saya sempat berkunjung ke Kota Palu, Sulawesi Selatan. Kunjungan ke Palu, dalam rangka meliput kegiatan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo yang hendak membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) regional Sulawesi yang diadakan di Hotel Mercure yang ada di Kota Palu.

Direncanakan, Musrembang akan dihadiri Gubernur seluruh Sulawesi. Acaranya, akan dimulai pukul 19.00 waktu setempat. Saya dan satu orang wartawan dari sebuah media cetak, tiba di Palu, sehari sebelum acara digelar. Kami datang kesana ditemani dua satu staf dari bagian Humas Kementerian Dalam Negeri.

Tiba di Palu, sudah menjelang siang. Di Bandara Mutiara SIS Al Jufrie sudah menjemput Pak Muchlis, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Sulawesi Tengah. Dari bandara, kami di bawa menuju hotel Mercure, yang akan jadi tempat menginap selama ada di Palu. Ternyata, panitia hanya menyediakan satu kamar. Pak Muchlis pun kemudian menawarkan hotel lain. Awalnya, kami ditawarkan nginap di Hotel Swiss Bell, tapi kami akhirnya memilih Hotel Grand Duta yang letaknya hanya sepelemparan batu dari Hotel Mercure.

Malam harinya, kami sudah dijemput Pak Hamka, staf Pak Muchlis yang ditugaskan untuk mengantar jemput kami selama di Palu. Kami di ajak makan malam. Selanjutnya, menikmati makan durian di pinggir jalan. Puas jalan-jalan dan makan malam itu, kami kembali ke hotel.

Paginya, Pak Hamka sudah menjemput lagi. Lalu, mengajak kami untuk sarapan. Usai makan, Pak Hamka mengajak kami ke sebuah tempat yang letaknya ada di bukit, tapi masih ada di sekitaran Kota Palu. Winner Sport Centre nama tempat itu. Ini sebuah tempat wisata keluarga, karena ada cottage tempat menginap, cafe juga di bawahnya ada kolam renang.

Dari Winner Sport pula, kita bisa melihat sebagian Kota Palu yang persis ada di bawahnya. Kita juga bisa melihat laut. Indah pokoknya. Apalagi kalau malam, pemandangan lebih indah lagi, melihat kota Palu kala bergelimang pendar-pendar lampu.

Di cafe yang ada di Winner Sport Centre, kami sejenak ngopi-ngopi. Saya pesan wedang Saraba, minuman khas daerah Sulawesi. Saraba, adalah minuman berbahan jahe, telor, jahe dan gula nira atau aren. Bisa pula ditambahi susu kental dan krimer. Diaduk jadi satu, jadi minuman sehat penghangat tubuh.

Nah, Pak Hamka kemudian memesan juga pisang goreng. Tak lama kemudian, pelayanan kafe membawa pesanan yang diminta. Beberapa gelas Saraba dan dua piring pisang goreng. Namun selain Saraba dan pisang goreng, ikut dihidangkan sambel yang ditaruh di dua piring kecil plastik.

Kata Pak Hamka, di Sulawesi, makan pisang goreng bersam sambel. Jadi, mirip lalap, pisang goreng dicolekan ke sambal, lantas di santap. Di Jawa, beda kata Pak Hamka.

Waktu di Jakarta, saya makan pisang goreng yang diberi cairan gula merah, manis sekali. Saya kurang terbiasa,” kata Pak Hamka.

Saya pun kurang terbiasa makan pisang goreng dengan sambal. Apalagi saya berasal dari wilayah Jawa Barat. Sambal teman akrabnya lalap, bukan pisang goreng. Teman pas untuk pisang goreng, di Jawa Barat, bukan sambal, tapi lelehan gula merah.

Ya lain Jawa, lain Sulawesi ya pak, padahal sama, sama-sama pisang goreng. Cara makannya saja yang beda,” kata saya sembari mencoba makan pisang goreng ditemani sambil.

Pertama, saya merasakan agak beda. Mungkin karena belum terbiasa. Tapi lama kelamaan akhirnya menikmati juga. Akhirnya, dua piring pisang di goreng tandas tak bersisa.

Baca Juga: 5 Danau Sebening Kaca Di Indonesia yang Menarik untuk dikunjungi