Sosok Seorang Ibu Dimata Kyai Gus Mus

1576

Sosok Mulia Seorang Ibu dimata Kyai Gus Mus

Sosok seorang Ibu Di Mata Kyai Gus Mus

Kyai Mustofa Bisri, adalah salah satu tokoh yang saya kagumi. Kyai Gus Mus-demikian dia biasa disapa- adalah sosok pemuka agama yang unik. Ia ahli kitab, Ahli agama. Tapi dia juga jago bikin puisi dan bisa melukis. Jadi, Kyai Mustofa Bisri, bisa dikatakan Kyai yang komplet.

Saat bicara atau kala memberi petuah, tutur katanya lembah lembut. Kyai Gus Mus, bukan orang yang suka bicara meledak-ledak. Kalimat yang diucapkan, selalu mengandung keteduhan.

Pernah suatu ketika saya menonton tayangan Kick Andy, sebuah program acara teve yang tayang di Metro TV, stasiun televisi miliknya Surya Paloh. Ini juga salah satu acara teve favorot saya. Hostnya Andi F Noya, seorang wartawan senior yang cerdas melontar pertanyaan.

Dalam satu efisodenya, Kick Andy menghadirkan bintang tamu istimewa. Dia Kyai Mustofa Bisri, kyai idola saya. Di acara tersebut, Kyai Gus Mus banyak bercerita, mulai soal kegemarannya buat puisi, melukis, hingga pendapatnya tentang Ulil Abshar Abdala, pendiri Jaringan Islam Liberal yang juga menantunya.

Tapi ada satu penggalan wawancara yang mengena di hati saya. Saat itu, Andi F Noya, sang pembawa acara bertanya kepada Beliau, siapa orang yang paling dikagumi dan dihormati Kyai Gus Mus. Kyai Gus Mus pun langsung menjawab, bahwa orang yang paling ia kagumi adalah ibunya.

Sosok Ibu dimata Kyai Gus Mus

Menurut Kyai Mustofa Bisri, ibunya adalah orang yang sangat istimewa. Bahkan kata dia, tidak ada orang yang paling istimewa dalam hidupnya selain ibunya.

Baca Juga: Menteri Ini Ayahnya seorang supir Bis, Ibunya Tak Tamat SD

Andi F Noya, kembali menyela. Kata Andy, ia dengar, saat Gus Mus sedang menuntut ilmu di Kairo, Mesir, sang ayah pernah memintanya pulang.

Tapi Ibu anda terserah anda. Anda tidak pulang dengan resiko ayah anda marah. Kenapa?”

Kata Kyai Gus Mus ayahnya ketika itu memang marah betul. Tapi, ayahnya yang seorang kyai paham betul kenapa dirinya lebih mendengarkan kata sang ibu.

Dia tahu, sabda Nabi, siapa yang harus dihormati, pertama ibumu, kedua, ibumu, ketiga ibumu, baru keempat ayahmu. Jadi kalau saya kirim bubur, tiga mangkok untuk ibu saya. Ayah saya cukup satu mangkuk saja,” kata Kyai Gus Mus.

Baca Juga: 9 Manfaat Menyusui Bayi Bagi Seorang Ibu