Sosok Tjahjo Kumolo Menteri yang Tak Mau Diistimewakan

1695
Menteri Dalam negeri Tjahjo Kumolo
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo

Jakarta/Tokoh – Beberapa waktu lalu, sempat ramai berita tentang ‘kemarahan’ Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar yang ditinggal terbang pesawat Garuda yang hendak membawanya ke Yogyakarta. Menteri Marwan, ditinggal terbang karena terlambat datang ke Bandara Soekarno-Hatta. Hingga waktu boarding habis, ternyata Menteri Marwan tak juga datang. Pihak maskapai Garuda pun kemudian memutuskan untuk meninggalkan sang menteri. Dan, jadwal penerbangan Menteri Marwan di alihkan ke jam berikutnya.

Di Yogyakarta, saat jadi pembicara sebuah seminar, Menteri Marwan langsung menumpahkan unek-uneknya ditinggal terbang pesawat Garuda hingga membuatnya terlambat datang ke seminar. Kemarahan Menteri Marwan pun jadi berita. Respon pun bermunculan, terutama yang disuarakan para netizen di jagad Twitter. Para netizen mengkritik balik Menteri Marwan yang dianggap ingin diistimewakan. Bahkan, Menteri Sekretaris Kabinet, Pramono Anung pun ikut-ikutan menyindir lewat akun twitter. Kisah marahnya Menteri Marwan pun jadi salah satu trending topic di Twitter dan di Facebook.

Membaca kisah marahnya Menteri Marwan, saya pun teringat menteri lain, yakni Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo. Saya lumayan sering ikut meliput kegiatan Menteri Tjahjo saat kunjungan kerja ke daerah. Saya merasa ada perbedaan sikap antara Menteri Tjahjo dengan Menteri Marwan.

Menteri Tjahjo misalnya, tak terlalu ingin diistimewakan. Ia kerap naik pesawat untuk kelas ekonomi, bukan bisnis. Meski sesekali juga duduk di kursi kelas bisnis. Namun yang saya catat selama meliput kunjungan Menteri Tjahjo, mantan Sekjen PDIP itu, tak pernah mau lewat jalur VIP. Ia datang, maupun pergi, selalu melalui jalur penumpang biasa.

Suatu waktu, saya kembali diajak untuk meliput kegiatan Menteri Tjahjo yang hendak menghadiri Munas Asosiasi Pemerintahan Provinsi se-Indonesia (APPSI) yang digelar di Kota Makassar. Acara ini juga dihadiri oleh Presiden Jokowi. Saat itu, saya tiba duluan. Sementara Menteri Tjahjo dijadwalkan tiba pukul 9 malam waktu setempat.

Ketika itu, saya diajak Kepala Bagian Humas Kementerian Dalam Negeri, Pak Acho Maddaremmeng untuk ikut menjemput Menteri Tjahjo. Tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, Maros, saya heran, kenapa tak ada satu pun pejabat teras di lingkungan Provinsi Sulawesi Selatan yang ikut menjemput. Karena biasanya, kalau menteri yang datang, gubernur setempat selalu datang menyambut. Tapi, malam itu, saya tak melihat Syahrul Yasin Limpo ikut menjemput Menteri Tjahjo.

Karena penasaran, saya pun menanyakan itu ke Pak Acho. ” Kok Gubernur tidak ikut jemput pak?“tanya saya.

Iya bapak larang Pak Gubernur jemput. Katanya karena sudah malam, Pak Gubernur biar istirahat saja. Dia tak mau merepotkan orang. Toh acaranya juga besok,” jawab , Acho.

Menteri Tjahjo juga tak mau diistimewakan, hanya karena dia menteri. Misalnya, saat dia terbang pakai pesawat. Saat saya ikut meliput kegiatan Menteri Tjahjo ke Nusa Tenggara Barat, untuk menghadiri acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2016, seorang staf protokolnya bercerita, bahwa bosnya itu tak mau telat datang ke bandara. Menteri Tjahjo katanya jarang ditinggal pesawat, karena terlambat. Ia selalu datang, paling lambat 30 menit menjelang tutup boarding. Terlebih, Menteri Tjahjo punya kebiasaan, menyeruput kopi dulu sebelum naik pesawat. Tentang kebiasaan minum kopi, saya dapat cerita langsung dari Menteri Tjahjo.

Saya suka minum kopi tanpa gula,” kata Menteri Tjahjo dalam sebuah kesempatan bincang-bincang dengan wartawan, awal Desember 2015.

Waktu saya ikut meliput kegiatannya ke Bengkulu, dan kebetulan saya satu pesawat dengannya, Menteri Tjahjo memang datang lebih awal. Ia bahkan masih sempat memborong beberapa majalah, sebagai teman perjalanan. Dan, sebelum terbang, ia juga masih sempat mengajak para wartawan yang ikut untuk ngopi bareng dengannya. Saya masih ingat, di cafe Sidney, yang ada di terminal 2F, Menteri Tjahjo mengajak ngopi.

Ini cafe langganan ngopi saya” katanya ketika itu.

Tentang jarang terlambatnya Menteri Tjahjo naik pesawat, dibenarkan oleh Kepala Bagian Humas Kementerian Dalam Negeri, Pak Acho Maddaremmeng. Menurut Pak Acho, bosnya itu paling anti jika harus ditunggu di pesawat. Bosnya itu tak mau membuat kesal para penumpang, hanya demi menunggu seorang menteri. Pernah suatu ketika kata Pak Acho, Menteri Tjahjo datang ke bandara, sementara waktu boarding tinggal sedikit. Ia pun langsung minta penerbangan di jam itu dibatalkan, dan diganti ke jam selanjutnya. Atau kalau bisa ganti pesawat.

Bapak mengatakan, emoh saya kalau sampai penumpang lain menunggu, ganti pesawat saja,” kata Pak Acho.

Saya kira harus seperti itu seorang pejabat. Tak minta diistimewakan hanya karena sedang punya tuah jabatan. Tapi bersikap seperti biasanya, laiknya rakyat biasa. Bahkan harus jadi contoh, jadi inspirasi positif bagi orang banyak.

Baca Juga: Mantan Menteri Ini, Seumur Hidupnya Tak Pernah Main Golf