Studi Talent Trends LinkedIn : Kompensasi Lebih Tinggi Pertimbangan Utama Pencari Kerja Di Indonesia

Hasil Study Talent Linkdlin

LebahMaster.Com – Peluang karir yang tersedia di dunia kerja saat ini semakin beragam. Salah satu faktor penyebabnya adalah semakin terhubungnya para profesional di dunia. Sehingga mereka semakin mudah mendapatkan informasi dan juga cenderung terbuka terhadap berbagai kesempatan dalam kehidupan profesionalnya.

 

Dengan demikian, kondisi seperti ini akan akan semakin menantang bagi para perekrut untuk mencari, menarik dan merekrut kandidat, mengingat banyaknya kesempatan yang tersedia bagi para pencari kerja.

 

Pada akhir Juni 2015, LinkedIn, jaringan profesional online terbesar di dunia, melansir laporan hasil risetnya tentang profesional di Indonesia. Laporan riset Linkedln bertajuk Talent Trends 2015. Menurut Linkedln, profesional di Indonesia semakin haus dalam mencari kesempatan kerja baru di tahun 2015. Mereka bahkan rela menghabiskan lebih banyak waktu untuk mencari berbagai kesempatan.

 

Menurut laporan Talent Trends 2015 Linkedln, lebih banyak profesional di Indonesia yang secara aktif mencari pekerjaan tahun 2015, yaitu sebanyak 34% dibandingkan tahun lalu yang hanya 29%. Angka ini juga lebih tinggi dari angka global yang hanya sebesar 30%.

 

Selain itu, data yang ada mengungkap bahwa sebanyak 83% profesional di Indonesia, baik kandidat aktif atau pasif, mengaku tertarik untuk mendengar tawaran dari perekrut ataupun headhunter, melampaui persentase rata-rata angka global sebesar 78%. Laporan ini juga menunjukkan bahwa lebih banyak profesional di Indonesia (51%) yang memandang tingkat kompensasi sebagai faktor utama dalam mempertimbangkan tawaran kerja.

 

Angka ini lebih tinggi dari angka tahun lalu yang hanya 44%. Angka tahun ini sama dengan Singapura dan sedikit lebih rendah dari Malaysia yang mencapai 52%,” kata Feon Ang, Direktur Talent Solution LinkedIn untuk Asia-Pasific dan Jepang.

 

Feon Ang melanjutkan, konsekuensinya, semakin berkurangnya profesional yang menempatkan faktor keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan sebagai prioritas, hanya 35% dibandingkan angka di tahun 2014 sebanyak 40%. Dibandingkan dengan negara lain, angka tahun 2015 ini lebih rendah dari profesional Malaysia sebesar 45%. Namun lebih tinggi dibanding profesional di Singapura (32%) yang mengatakan hal ini sebagai faktor penting dalam memutuskan untuk menerima sebuah pekerjaan.

 

Peningkatan jumlah kandidat aktif merupakan kabar baik bagi para perekrut di Indonesia, ” kata Feon Ang.

 

Namun kata Feon Ang, mereka juga akan menghadapi tekanan terkait kompensasi, mengingat lebih dari setengah profesional di Indonesia menilai hal ini sebagai prioritas utama.

 

Karena kita semua ingin bekerja di sebuah perusahaan yang memiliki reputasi bagus, maka brand perusahaan yang kuat dan unik dapat membantu perusahaan mengalihkan tekanan terkait kompensasi ini,” ujarnya.

 

Di sisi lain, kata dia, tim HR perlu membuat strategi untuk menjaga agar kandidat merasa betah. Studi ini juga mengungkap bahwa profesional di Indonesia lebih banyak bergantung pada saluran online untuk mencari pekerjaan, dibandingkan dengan iklan ataupun website perusahaan. Lebih dari setengah (57%) dari profesional di Indonesia yang disurvei memanfaatkan situs pencari pekerjaan online untuk mengakses berbagai kesempatan kerja. Ini hampir sama jumlahnya dengan yang memanfaatkan jaringan profesional online seperti LinkedIn (56%). Di samping itu, perusahaan juga tidak boleh mengesampingkan pengaruh teman dan kolega, mengingat sebanyak 47% profesional di Indonesia masih bergantung pada informasi dari mulut-ke-mulut dalam mencari pekerjaan.

 

Salah satu cara perusahaan di Indonesia untuk memenangkan perang pencarian kandidat adalah dengan membangun brand perusahaan yang kuat,” ujarnya.

 

Hal ini kata Feon Ang, bisa dilakukan dengan cara memaksimalkan penggunaan jaringan profesional online dan memanfaatkan karyawan sebagai ambassador. Ini juga merupakan cara yang jitu untuk menarik perhatian kandidat pasif yang jumlahnya mencapai 66% di Indonesia.

 

Baca Juga :

Karyawan Di Indonesia Tak Bisa Lepas Dari Sosmed

Berikut, 3 Tips Negosiasi Gaji Di Kator Baru Anda