Tahun 2050, Monas Bisa Sejajar Bibir Pantai

2074
eksploitasi air tanah di Ibukota Jakarta
Penurunan permukaan tanah Jakarta berbarengan dengan kenaikan permukaan laut.

Jakarta – Ada sebuah informasi yang bikin deg-degan dan ketar-ketir yang dimuat Koran Tempo, edisi Sabtu 26 Maret 2016. Koran Tempo itu saya ambil dari pesawat Garuda yang membawa saya ke Kota Palu, Sulawesi Tenggara.

Dalam pesawat saya tak sempat membaca semua halaman. Yang saya baca berita yang mengulas meninggalnya Johan Cruyff, legenda sepakbola asal negeri Kincir Angin, Belanda yang meninggal pada 24 Maret 2016 di Barcelona, Spanyol.

Cruyff dianggap legenda, karena dia salah satu pemain yang mengenalkan sepakbola menyerang, total football, yang disebut-sebut cikal bakal tiki-taka. Bersama Rinus Michels yang sering disebut mentornya, Cruyff bersama para pemain Ajax Amsterdam, sekitar tahun 70-an menggaungkan total football. Dan, dunia pun kemudian terpengarah dengan gaya bermain sepakbola yang lain dengan yang lain. Sepakbola menyerang, dari kaki ke kaki.

Saat sudah di hotel, tempat saya menginap selama di Palu, baru saya sempat membaca halaman demi halaman Koran Tempo yang saya ‘curi’ dari pesawat Garuda. Oh ya, saya menginap di Grand Duta Hotel, sebuah hotel kecil tak jauh dari Hotel Mercure, salah satu hotel terbesar di Palu.

Di halaman 7, ada sebuah berita berjudul, ” Stop Eksploitasi Air Tanah.” Berita itulah yang membuat saya terperangah. Berita tersebut berisikan tentang eksploitasi air tanah di Ibukota Jakarta yang makin tak terkendali. Penghisapan air tanah dilakukan terus menerus, bahkan nyaris tak terkendali. Akibarnya, penurunan muka tanah, tak bisa dicegah.

Koran Tempo dalam beritanya mengutip keterangan Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Junaedi. Menurut Junaedi, di wilayah utara Jakarta, penurunan muka tanah mencapai 9 sentimeter setiap tahunnya. Ini sebuah alarm atau peringatan yang tak boleh dianggap remeh lagi. Junaedi pun menghimbau, stop pakar air tanah.

Dan yang bikin khawatir, titik pengeboran sumur dalam lima tahun meningkat signifikan. Dalam beritanya, Koran Tempo menuliskan tahun 2011, tercatat 7,2 juta meter kubik air didulang di 4.231 titik sumur. Tahun 2014 meningkat lagi jadi 8,9 juta meter kubik air dari 4.473 titik sumur.

Koran Tempo juga mengutip analisa dari Pengamat tata air dari Universitas Indonesia, Firdaus ali. Menurut Firdaus, penurunan permukaan tanah Jakarta mencapai 10-11 sentimeter setiap tahunnya. Dan inilah analisis yang bikin ketar-ketir. Dia mengkalkulasikannya dengan ketinggian tanah di kawasan Monumen Nasional (Monas), salah satu tetengger utama ibukota. Ketinggian tanah di kawasan Monas sendiri berada 4,9 meter di atas permukaan laut. Tapi itu data pada 2008. Nah, bila penurunan permukaan tanah Jakarta terus dibiarkan bisa jadi pada 2050, Monas sejajar dengan bibir pantai. Boleh jadi pula, bila dibiarkan, Monas bakal ‘tenggelam’.