‘Tembok Berlin’ Depan Rumah Deni Akung

1638

Tembok Depan Rumah Deni Akung

Tembok Depan Rumah Deni Akung

Lebahmaster.com – Akhir tahun 1989, tembok setinggi 3,6 meter yang membentang sepanjang 155 kilometer yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur mulai di robohkan warga. Semua menyambutnya dengan suka cita. Negara barat pun bungah, dan sedikit pongah. Sementara yang kekuatan yang di timur, sedikit murung.

 

Ya, robohnya tembok Berlin, dianggap sebagai awal dari jebolnya komunisme dunia. Negara barat, bahkan dengan bangga mengklaim itu adalah kemenangan demokrasi juga kapitalisme. Namun memang, secara fisik, tembok yang dibangun memisahkan Jerman Barat dan Timur, telah memisahkan sebuah ikatan. Warga terbelah, dalam dua kelompok. Mereka dipaksa berbeda, oleh sebuah ideologi yang dijejalkan para ‘penguasa’.

 

Warga pun, dipaksa untuk selalu menyatakan kita untuk yang satu paham. Dan, melihat mereka yang di luar, sebagai bukan dari kita. Ada batas yang dipaksakan menganga lebar. Batas yang memisahkan kita dan bukan kita. Batas yang kemudian ditegaskan oleh sebuah tembok setinggi 3,5 meter yang memisahkan Berlin Barat dan Timur. Tembok, yang jadi simbol dunia yang terbelah dan terpisah.

 

Namun kini, tembok ini telah runtuh. Tak ada lagi, mereka orang timur atau barat. Yang ada, mereka adalah orang Jerman, bukan warga Berlin Barat, atau Timur. Kemudian setelah itu, sejarah pun mencatatkan, Uni Soviet bubar pada 1991.

 

Warga dunia senang, dan berharap, pasca Soviet bubar, dunia tak lagi terpisah dalam dua blok yang saling mengancam. Namun harapan tinggal harapan. Tetap saja, selalu ada yang terus coba membedakan, ini kita, dan itu bukan kita. Dunia pun terus terbelah. Dan, kisah saling ancam, bahkan saling menghancurkan terus terjadi. Bahkan kian brutal. Dengan bom, dan peluru, mereka menegaskan kita dan bukan kita. Dunia pun tak pernah aman damai.

 

Rabu, 4 November 2015, saya baca sebuah berita, tentang tembok yang dibangun warga sebuah komplek perumahan di Jakarta tepat di depan sebuah rumah warga. Tembok itu dibangun, karena yang tinggal di perumahan itu menganggap rumah si warga bukan bagian dari mereka. Atau dalam kata lain, bukan dari kita. Tembok Berlin made in perumahan pun berdiri kukuh, mengepung sebuah rumah. Kisah ‘tembok Berlin’ itu, terjadi di Perumahan Bukit Mas yang ada di Jalan Cakranegara Blok E, Bintaro, Jakarta Selatan.