‘Tembok Berlin’ Depan Rumah Deni Akung

2096

Rumah warga yang dibentengi ‘tembok Berlin’ itu sendiri adalah milik Deni Akung. Dia, memang bukan warga perumahan itu. Tanah tempat rumahnya berdiri, berada di luar garis batas perumahan. Tapi, rumahnya menghadap persis ke komplek perumahan tersebut. Dan, itu dianggap kesalahan fatal. Deni Akung pun dianggap orang luar, yang tak pantas dirangkul dan disatukan. Maka, ia pun dianggap bukan kita. Bukan bagian dari perumahan Bukit Mas, Bintaro.

 

Ya, masalah demarkasi antara sebuah komplek perumahan dengan wilayah pemukiman warga selalu memicu masalah. Lihat saja, komplek perumahan yang dibangun pengembang, selalu diberi garis demarkasi dengan wilayah di luarnya. Seakan, dunia mereka memang harus dipisahkan. Ekslusivitas pun tak terhindarkan. Secara tak sadar itu menumbuhkan semangat kita dan bukan kita.

 

Awalnya mungkin tembok pemisah yang dibangun pengembang tujuannya semata demi keamanan warga yang tinggal di komplek. Mungkin semata itu. Karena, bila tanpa tembok, dikhawatirkan terjadi hal yang tak diinginkan, misalnya pencuri masuk perumahan.

 

Tapi, setelah membaca berita tentang ‘tembok Berlin’ di depan rumah Deni Akung, saya kira tujuan awal tembok pemisah perumahan sudah berubah. Bahkan jauh melenceng. Tembok pemisah bukan lagi dipahami sebagai antisipasi terhadap gangguan keamanan. Namun, sudah jadi alat untuk menegaskan posisi serta status yang saling membedakan. Deni Akung, bukan orang kita. Tapi warga di luar kita. Orang luar. Orang lain. Karena itu mesti dipisahkan. Begitulah kira-kira pembacaan saya terhadap berita tembok di depan rumah Deni Akung.

 

Ah, betapa tak nyamannya hidup dalam situasi seperti itu. Adakah kita lupa akan arti Sumpah Pemuda dan Bhineka Tunggal Ika. Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia. Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Berbeda-beda tetapi tetap satu bangsa. Begitulah semangat dari Sumpah Pemuda dan Bhineka Tunggal Ika.

 

Kenapa, tak lantas semua itu diserap dalam dada setiap warga? Berbeda wilayah perumahan, tapi satu tanah air, Tanah Air Indonesia. Berbeda tinggal, tapi tetap merasa satu tetangga, tetangga Indonesia. Kenapa tak seperti itu? Kenapa Deni Akung, bukan warga kita? Kenapa….?

 

Bung Yamin dan para pencetus Sumpah Pemuda pasti kecewa. Pun para pendiri bangsa. Mereka mungkin bertanya-tanya dengan sedih, mengapa jejak sejarah yang mereka telah torehkan untuk mempersatukan semua yang berbeda dalam satu republik, hanya dianggap angin lalu. Saya kira kasus ‘tembok Berlin’ di depan rumah Deni Akung, adalah persoalan serius. Bukan persoalan semata tembok. Tapi ini persoalan besar, karena perbedaan ternyata bukanlah rahmat, tapi dipahami sebagai sebuah ancaman. Dan, yang paling menyesakan, perbedaan itu bukan dipicu oleh soal keyakinan atau ideologi. Tapi, dipicu oleh letak dan posisi rumah.