Ternyata Bukan Kamu By Eka

1032
Ternyata Bukan Kamu
Image Ilustrasi – Ternyata Bukan Kamu

Ternyata bukan Kamu

Cerpen ditulis dan dikirim oleh Eka ganjar astuti

Dari balik selimut tebal ku. Aku masih membayangkan kata-kata yang kau bisikkan di telinga ku, meski jauh, lautan samudra menjadi batas yang tak mungkin dapat ku ukur, kau hangatkan serpihan hati ku dengan alunan merdu suaramu, lagumu, ungkapan hatimu untuk ku.

 
Rasanya seperti mimpi, namun aku sadar ini bukanlah mimpi setelah sekian lama kita terpisah, dan aku disini masih dengan bayangan tentangmu, akhirnya kita dipertemukan lagi secara tak disengaja.. sungguh semuanya seperti mimpi yang menghampiri ku.

 
Hallo , hallo , sayang,,
Oh ia hallo ,, maff sayang ,, engh..

 
Akhirnya suara lembut diujung sana yang menyadarkanku, bahwa ini bukanlah mimpi, aku sangat bahagia dengan hari-hariku. Hari dimana tak satu haripun aku lewati tanpa dia, dia, dan dia oh sang pujangga yang selalu ku puja. Dan tak satu haripun ku lewati tanpa memandang senyumnya meski hanya dari kejauhan dan hanya melalui sosmed ku kabarkan hariku dengan dirinya namun tak mengurangi sedikitpun rasa sayang ku kepadanya.

 
Semua hari ku jalani bersamanya, satu, dua, bulan tak ada satu pertengkaran yang terjadi diantara kita hingga pada suatu malam tepatnya malam tahun baru 2014, awanya tak ada yang perlu diperdebatkan hingga ku lewati malam itu dengan bertemankan suara-suara manjamu dari ujung sana.

 
Namun malam beranjak pagi, masih bersamamu, kutemani perjalanannya bersama sang fajar yang mulai menyapa hingga alunan merdu suara adzan menggema di sunyinya pagi itu. Saat itulah masalah demi masalah timbul dihubungan kita. Semua Dimulai dari password facebook.

 
Dari situlah sikap mu mulai berubah, berubah 360˚, dari yang selalu manja menjadi cuek bebek tak perdulikan ku dengan alasan “sudah banyak yang sayang kamu , yang perhatian kamu yang perduli kamu, apa artinya aku dibanding mereka”!!!, kamu selalu bertanya artinya kamu buat aku ?? sungguh kamu sangat berarti buat aku, dengan alasan kecemburuan itu aku seperti tak berharga di matamu.

 
Pertengkaran itu semakin kau besar-besarkan dan akulah orang yang selalu dipersalahkan dalam kecemburuan yang tak beralasan ini. Hingga pada hari itu kau ucapkan kata-kata yang paling menyakitkan untuk ku, untuk kisah kita, untuk janji yang telah kita rajut bersama. “ Aku ingin Putus “. Seperti bom yang besar yang menghantam jantung ku. Saat itu hanya air mata yang bisa bersaksi atas luka yang ku alami, bersama air matalah aku mampu menceritakan alunan sendu yang tengah melanda relung hati ku.

 
Hari terus berlalu Sungguh tak pernah aku bayangkan hariku akan seperti ini setelah banyak kebahagiaan yang kita lalui bersama, berdua dengan segala janji indah yang telah kita rangkai, kau puja kau sanjung lalu kau jatuhkan aku ke jurang yang sangat dalam hingga aku sulit untuk bangkit dan bangun lagi untuk berjalan meski langkah kaki ini tak kau iringi dengan hangatnya kasihmu.

 
Semua bahagia itu menjadi sangat hampa. Hari demi hari dalam kesendirian ini ku renungi segalanya, ku ingat- ingat dimanakah letak kesalahnku dalam mengalahkan setiap egois ku demi kebahagiaan yang selama ini telah kita bangun.
Sedih,sepi, sendiri hanya ada aku dan diriku dalam bercerita dengan air mata dan ujung pena ini,. Hingga suatu hari ku disadarkan dengan bunyi langkahnya, dan kehangatan uluran tangan yang bersedia mengobati luka hati ini. Ohh my good, bodohnyA aku yang tak pernah sadar dengan kehadirannya sosok lembut yang dalam diam sellalu ada dibelakangku untuk menyambut segala duka ku dan digantikan dengan kebahagiaan bersamanya.

 
Sekeras-kerasnya batu jika ditetesi air setiap hari pasti akan cekung juga”. Mungkin ungkapan itu yang pantas untuk menggambarkan posisi ku saat ini. Meski awalnya aku tak merespons segala keseriusannya, namun kekokohan pendirian ku telah diruntuhkan oleh kegigihan perjuangannya,. Semua yang semula hilang telah dia hadirkan lagi, cinta yang yang dulunya hampir mati kembali dirawatnya, semua terasa seperti gulir-gulir lembut menyejukan hati,. Dan akhinya disinilah kuhentikan langkah ku untuk tetap bersamamu dalam satu titik yang tak pecah oleh garis-garis orbit bintang ini. kamulah yang selama ini kutunggu untuk bisa temani hari-hari besar dihidupku.

 

Baca Cerpen Lainnya: Wanita Berkerudung Hitam

SHARE
Previous articleWanita Berkerudung Hitam
Next articleKampung Tradisi Matrilinial Sijunjung, Sumatera Barat
Kirim tulisanmu ke lebahmaster.com - suarakan inspirasi dan aspirasimu yang bersifat membangun. jadikan setiap kata dalam tulisanmu penuh manfaat bagi banyak orang. Tulisan Sahabat adalah space khusus untuk memuat tulisan hasil dari aktivitas jurnalistik para sahabat pembaca yang dikirim ke lebahmaster, baik dengan mendaftar terlebih dahulu maupun dikirim ke email: redaksi@lebahmaster.com