Ternyata, Jenderal Edi Sudrajat Pernah Menolak Perintah Pak Harto

5003

Kisah Jenderal Edi Sudrajat – Saat Soeharto berkuasa, segala titahnya jadi perintah yang tak boleh dibantah. Bahkan, banyak kisah, tokoh yang bersebrangan dengan Soeharto, kemudian akhirnya dipinggirkan.

Jenderal_TNI_EDI_SUDRAJAT

 

Jenderal M Yusuf, adalah salah satunya. Kemudian Jenderal Moerdani. Padahal, kedua jenderal itu bisa dikatakan pernah jadi ‘tangan kanan’ Pak Harto (panggilan Soeharto-red). Tokoh lain yang kemudian ‘disingkirkan’ adalah Jenderal Hoegeng, Kapolri lurus itu.

Baca: Belum Ada Lagi Kapolri Seperti Hoegeng

Saat Soeharto sedang kuat-kuatnya, bisa dikatakan tak satu pun yang berani membantah titahnya. Apalagi sampai membangkang. Sekali membangkang, alamat karir bakal habis. Terbuang, dan dipinggirkan. Namun ternyata, ada jenderal TNI AD yang berani ‘membangkang’ terhadap perintah Pak Harto. Padahal saat itu, kekuasaan Pak Harto sedang kuat-kuatnya alias dalam kondisi power full.

Baca: Kisah Jenderal M Jusuf, dan Kenaikan Pangkat Dadakan

Siapa jenderal yang berani ‘membangkang’ perintah Pak Harto itu? Ternyata dia adalah Jenderal Edi Sudrajat. Kisah ‘pembangkangan’ jenderal kelahiran tatar Sunda itu saya baca dari buku berjudul, ” TB Silalahi Bercerita tentang Pengalamannya” yang ditulis Atmadji Sumarkidjo.

Dalam bukunya, TB Silalahi berkisah, sesaat setelah ia ditelpon Pak Harto yang memberitahu bahwa ia diangkat jadi Menpan, saat itu juga penguasa Orde Baru itu bertanya, apakah dia masih aktif di tentara atau tidak. Ditanya seperti itu, TB Silalahi langsung menjawab, bahwa ia masih aktif sebagai tentara dengan pangkat Mayor Jenderal.

Lewat telepon, Pak Harto juga bercerita telah mengangkat Jenderal Edi Sudrajat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan merangkap Panglima ABRI. Selanjutnya Pak Harto memerintahkan agar TB Silalahi menghadap Jenderal Edi. Kata Pak Harto, ia akan dinaikan pangkatnya jadi Letnan Jenderal. TB Silalahi masih ingat, ketika itu ia langsung menjawab, “Siap”.

Malam harinya, ia langsung menelpon Jenderal Edi Sudrajat menyampaikan pesan Pak Harto. Awalnya, ia sungkan memberitahu tentang kenaikan pangkatnya jadi Letnan Jenderal. Tapi ternyata Jenderal Edi mengetahui itu. Dan, kata Jenderal Edi ketika itu, dia sudah tahu instruksi Pak Harto soal kenaikan pangkat tersebut.

Esoknya, TB Silalahi menghadap Jenderal Edi. Dalam pertemuan langsung itulah Jenderal Edi kemudian mengungkapkan, bahwa Pak Harto juga menginstruksikan menaikan pangkat Ginandjar Kartasasmita dan Moerdiono. Ketika itu, Ginandjar pangkatnya sama bintang dua di TNI-AU. Pun, Moerdino, bintang dua di TNI AD. Namun keduanya, sejak dari Letnan Satu hingga jadi perwira bintang dua, tak pernah aktif di militer. Kedua selalu bertugas di instansi sipil.

Dan yang mengagetkan, Jenderal Edi menolak menaikan pangkat Ginandjar dan Moerdiono yang ketika itu sudah jadi menteri. Padahal, kenaikan pangkat Ginandjar dan Moerdiono adalah atas titah Pak Harto. Namun TB Silalahi paham bagaimana kerasnya Jenderal Edi. Sekali tidak, akan tetap bilang tidak.

Dalam pertemuan itu, Jenderal Edi mengungkapkan kegalauannya. Jika ia menolak menaikan pangkat Ginandjar dan Moerdiono, lalu untuk TB Silalahi ia naikan pangkatnya, tentu akan memunculkan persepsi negatif. Jenderal Edi, akan dianggap diskriminatif. Dengan terus terang Jenderal Edi mengatakan, TB Silalahi pantas naik pangkat.

Melihat pimpinannya galau, TB Silalahi pun berkata,” Saya juga tidak ambisius dengan kenaikan pangkat.”

Mendengar itu, Jenderal Edi lega. Akhirnya, baik TB Silalahi, Ginandjar maupun Moerdino, tak mendapatkan kenaikan pangkat. Baru beberapa tahun kemudian, saat Kepala Staf TNI-AD dijabat Jenderal Wiranto, TB Silalahi akhirnya naik pangkat jadi Letnan Jenderal.

Sementara Ginandjar dan Moerdiono justru naik pangkat duluan. Keduanya dinaikan pangkat di era Panglima TNI Jenderal Faisal Tanjung. Faisal sendiri adalah kawan satu angkatan dengan TB Silalahi.

Dan soal kenaikan pangkat, TB Silalahi juga punya cerita menarik lainnya. Ketika dirinya tak juga naik pangkat, adik kelasnya, Letnan Jenderal Hendropriyono yang ketika menjabat Inspektur Jenderal Pembangunan, langsung menghubungi Jenderal Wiranto agar menaikan pangkat TB Silalahi. Menurut Hendropriyono, TB Silalahi telah didzalimi.

Akhirnya TB Silalahi pun resmi menyandang bintang tiga dipundak alias jadi Letnan Jenderal. Saat prosesi kenaikan pangkat, Jenderal Edi Sudrajat ikut menghadiri. Ketika itu, Edi masih jadi Menteri Pertahanan dan Keamanan. Dan, ada satu yang tak lazim, kenaikan pangkat dihadiri Menteri Pertahanan. Biasanya, kenaikan pangkat bintang tiga, jarang dihadiri langsung Menteri Pertahanan. (Agus.S)