Tetesan Keringat Kehidupan

1190

Cerpen Motivasi: Tetesan Keringat Kehidupan By Amico05

Tetesan Keringat Kehidupan

Di suatu daerah di kota kecil yaitu kota Padang Panjang tinggallah keluarga yang memiliki kehidupan yang sederhana, keluarga ini terdiri dari anggota yang berjumlahkan 5 orang, yaitu 1 orang anak perempuan dan 2 orang anak laki – laki. Pak Dedi yang biasa dipanggil Om Deded oleh warga setempat terkenal dengan orang yang giat dan gigih dalam bekerja, selain itu pak Dedi juga sebagai kepala keluarga serta tulang punggung keluarga yang bekerja sebagai Buruh Harian Lepas, ibu Syaf sebagai istri yang bekerja sebagai guru MDA dengan gaji sangat cukup yakni sebesar Rp.250.000,-/Bulan untuk menambah kelansungan biaya untuk menghidupi keluarga, anak pertamanya bernama Mery yang lahir sekitar 20 tahun yang lalu serta anak kedua beliau bernama Ade yang berusia sekitar 19 tahun sedangkan anak ketiga bernama Andre yang lahir pada 16 tahun yang lalu.

 
Didaerah Bancah Laweh pak Dedi hidup dengan salah satu mata pencaharian masyarakat disana yaitu batu kapur, namun semenjak adanya larangan dari pemerintah terhadap pabrik batu kapur tersebut maka semuanya pabrik batu kapur tersebut mati dan masyarakatpun banyak kehilangan pekerjaan, sehingga pada saat itu pak Dedi tidak lagi bekerja sampai – sampai anak dan istrinya hanya dapat makan nasi putih dengan kerupuk palembang begitu mengharukan kehidupan pak Dedi bersama keluarga saat itu. Pak Dedi selalu mencoba untuk menghibur anak dan istrinya agar tidak kecewa, namun pak Dedi tak pernah putus asa, beliau tetap berusaha dan berdoa bagaimana ia bisa mendapatkan pekerjaan yang baru sehingga keluarganya bisa tetap bahagia. Pak Dedi begitu sayang pada keluarga sehingga apapun yang beliau dapatkan baik itu nasi bungkus yang didapat dari hasil keringat beliau, beliau langsung mengantar kerumah dan mengajak anak – anaknya bersama istrinya untuk makan bersama. Betapa bahagia hati pak Dedi melihat keluarganya dapat berkumpul dan tertawa bersama.

 
Kehidupan yang mereka lalui sangatlah luar biasa, Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun selalu mereka jalani dengan semangat yang tinggi. Pak Dedi bekerja hanyalah sekali – kali namanya aja sebagai buruh tentu saja bekerja hanya pada saat ada pekerjaan namun pak Dedi tidak memilih – milih pekerjaan, yang hanya ada dalam pikirannya bagaimana istri dan anak – anaknya dapat makan walaupun itu hanya sesuap nasi. Istrinya yang bekerja sebagai guru MDA pun sudah 5 bulan tidak mendapatkan gaji dari hasil keringat yang beliau berikan. Namun ibu Syaf tetap sabar dan juga terus berusaha dan berdoa seperti suaminya bahkan berkata “Allah tidak akan sia – siakan hambanya yang selalu bersyukur dan berdoa serta meminta pertolongan pada-Nya karna rezeki kita sudah ditentukan sama yang di atas”.

 
Walaupun keadaan keluarga pak Dedi sangatlah sederhana tetapi beliau berusaha untuk menyekolahkan anaknya, sehingga ketiga anaknya tersebut dapat merasakan bagaimana rasanya belajar didalam dunia pendidikan. Anak perempuannya sekarang akan memasuki bangku perkuliahan, namun keadaan serta kondisi keluarga pak Dedi masih seperti itu saja tidak ada peningkatan ekonomi pada keluarganya, hanya kebahagian yang mereka miliki, tapi pak Dedi dan istrinya tidak mau menyerah bagaimanapun anaknya harus melebihi mereka nantinya. Sebelum mendaftar ke salah satu perguruan swasta di kota Bukit Tinggi, masyarakat sekitar malah berkata dalam bahasa Minang “Jan lah dikuliahan anak padusi tu lai beko patah ditangah lagian kondisi keuangan kayak giko pulo” yang mana artinya jangan lah anak perempuan itu dikuliahkan karna takutnya gak sampai tamat sudah berhenti karna kondisi uang yang tidak mencukupi.

 
Dengan mendengarkan kata dari masyarakat tadi pak Dedi dan keluarga menjadi lebih bersemangat untuk membuktikan bahwasanya mereka bisa untuk menyekolahkan anaknya. Apapun pekerja yang diberikan sama orang pak Dedi siap untuk mengerjakannya. Pada akhirnya anak pertamanya mendaftarlah pada perguruan swasta tersebut. Dengan berjalannya waktu akhirnya usaha yang selama ini pak Dedi dan istrinya kerjakan tidak sia – sia, anak perempuannya meraih gelar sarjana. Betapa senang dan bangga hati keluarga pada saat itu ternyata apa yang selama ini orang bilang belum tentu benar selagi kita tetap berusaha dan berdoa.

 
Selang waktu yang terus berjalan keluarga pak Dedi terus berusaha mendapatkan pekerjaan agar istri dan anak – anaknya dapat selalu bahagia dan bersatu. Anak keduapun tamat sekolah SMA dan dia tidak mau untuk melanjutkan keperguruan tinggi karna dia berfikir biarlah adiknya yang sekolah nanti sampai keperguruan tinggi. Dan pada akhirnya tinggallah satu anak bungsu dalam keluarga tersebut yang sekarang masih dalam proses pendidikan. Nasehat serta masukan dari kedua orang tuapun selalu diingat oleh anak – anakya. Sekarang kehidupan ekonomi dari keluarga pak Dedi mulai meningkat bahkan sudah terbangun rumah yang bisa ditempati untuk keluarga serta berlindung dari hujan dan terik panas matahari. Kebahagiaan itu selalu terpancar dari senyuman dan tawa yang mereka berikan.

 

 

Jadi selalulah menjadi orang yang terus berusaha dan jangan sampai putus asa, rezeki kita sudah di atur sama yang maha kuasa”.

Cerpen ini ditulis dan dikirim oleh : Andre Agromico / Amico05

Baca Juga : Cita-Cita yang Tercapai By Fitriani