Pernah dengar ungkapan ‘Ngeri-ngeri sedap‘ atau ‘Jadi tuh barang‘? Ya, itu ungkapan yang dipopulerkan oleh Pak Sutan Bhatoegana. Pak Sutan, adalah politisi Partai Demokrat, partai yang sekarang dinakhodai oleh Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Tokoh Indonesia

Di saat Pak Sutan masih aktif jadi anggota parlemen, ungkapan ‘ngeri-ngeri sedap’ atau ‘jadi tuh barang’ sering keluar dari mulutnya. Bahkan kerap dikutip oleh media. Ungkapan itu kian populer, kala Pak Sutan sering tampil di layar kaca, terutama di acara Indonesia Lawyer Club (ILC) yang diasuh Pak Karni Ilyas.

Namun setelah Pak Sutan masuk bui karena kasus korupsi, ungkapan ‘ngeri-ngeri sedap’ dan ‘jadi tuh barang’ pun tak terdengar lagi. Padahal ingat itu, pasti ingat Pak Sutan. Ungkapan itu, jadi ciri khasnya Pak Sutan. Semacam ‘trade mark’ Pak Sutan. Tapi bukan berarti kemudian tak ada lagi ungkapan khas dari para tokoh yang kemudian jadi ‘trade mark’ si pengucapnya. Saya mencatat, ada ungkapan yang sering diucap beberapa tokoh. Ungkapan yang diucap berulang-ulang.

1. Nenek Moyang Lu

Ungkapan ‘Nenek moyang lu’ adalah ungkapan yang sering dilontarkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basukii Tjahaja Purnama atau yang tenar dengan panggilan Ahok. Ya, dalam beberapa kesempatan, ungkapan ‘Nenek moyang lu’ kerap keluar dari mulutnya Pak Ahok, terutama ketika dia agak kesal, atau marah terhadap suatu masalah.

Emangnya Jakarta milik nenek moyang lu“, atau ” Memangnya PLN, perusahaan nenek moyang lu” atau juga ” Memangnya tanah ini warisan nenek moyang lu“, adalah sederet ucapan yang pernah dilontarkan Pak Ahok.

Ungkapan itu pun kemudian seakan jadi ciri khas Pak Ahok, khususnya kala orang nomor satu di ibukota itu sedang marah atau kesal. Ya, ungkapan ‘Nenek moyang lu’ sama seperti ungkapan ‘ngeri-ngeri sedapnya’ Pak Sutan.

2. Harus Berani Menentukan Sikap, Siapa Kawan, Siapa Lawan

Ungkapan lainnya adalah, “Harus berani menentukan sikap, siapa kawan, siapa Lawan.” Ungkapan ini sering diucapkan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Dalam setiap pidato, Pak Tjahjo kerap mengucapkan itu. Saking seringnya mengucapkan itu, kalimat ‘siapa kawan, siapa lawan’ pun seakan melekat pada sosok mantan Sekjen PDIP tersebut. ‘Siapa kawan, siapa lawan’ pun jadi ciri khasnya Pak Tjahjo.

3. Preketek

Menjelang digelarnya pemilihan gubernur di DKI Jakarta, Ahmad Dhani, penyanyi sekaligus bos Republik Cinta Management, ramai diberitakan mau nyalon jadi gubernur. Lawannya siapa lagi kalau bukan Pak Ahok, pemilik ‘paten’ ungkapan ‘nenek moyang lu’.

Nah, dalam hingar bingarnya persaingan menuju DKI-1, Mas Dhani, demikian panggilan akrab pendiri grup musik Dewa 19 ini, sempat melontarkan ungkapan ‘preketek‘. Preketek sendiri adalah ungkapan yang menggambarkan sikap meremehkan orang lain. Atau menggangap tidak penting. Ya, dalam kata lain, ini ungkapan semacam olok-olok. Preketek pun kemudian populer. Dan, ungkapan itu melekat pada sosok Ahmad Dhani. Ingat preketek, pasti ingatan langsung melayang ke suami Mulan Jamela tersebut.