Tjahjo Kumolo, Menteri yang Tak Pernah Main Golf

819

Tjahjo Kumolo Menteri Tak Pernah Main Golf

Olahraga golf dalam persepsi banyak orang adalah olahraga mahal. Hanya orang kaya, berduit dan pejabat yang mampu main golf. Golf juga, selain dianggap olahraga mahal, juga olahraga ‘lobi’. Banyak kisah, kesepakatan atau deal baik bisnis dan politik lahir di lapangan golf.

Hingga kemudian muncul anekdot, orang miskin tak mungkin bisa main golf. Dan, hanya pejabat dan pengusaha yang bisa ayunkan stik golf. Namun ternyata, tak semua pejabat suka main golf. Bahkan ada pejabat negara yang sama sekali seumur hidupnya tak pernah pegang stik golf.

Pejabat yang tak pernah main golf itu, salah satunya adalah Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo. Minggu malam, 17 Juli 2016, di sebuah restoran di sebelah kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Tjahjo mengundang para wartawan yang diundang untuk meliput agenda kerjanya di Jatinangor untuk makan malam.

Sambil menyantap menu kuliner khas Sunda, Tjahjo bercerita. Kali ini, ceritanya tentang olahraga golf. Katanya, ia sampai sekarang tak pernah main golf. Bahkan, sama sekali belum pernah memegang stik golf. Seorang wartawan yang duduk di seberangnya, seperti tak percaya dengan pengakuan Tjahjo.
” Ah masa sih pak belum pernah main golf? Pejabat kan biasanya suka sekali golf,” kata si wartawan tersebut.

Tjahjo tersenyum mendengar tanggapan si wartawan. Ia pun kembali menegaskan, bahwa dirinya sama sekali tak pernah main golf. Sejak jadi Ketua KNPI, sampai sekarang jadi menteri, tak pernah satu kali pun ia main golf. Tidak hanya itu, dirinya tak pernah menginjak kaki di lapangan golf.

Tentang olahraga golf ia punya cerita menarik. Katanya, suatu waktu ia diminta membuka turnamen golf. Saat itu, dirinya sudah jadi Mendagri. Tentu saja, ia sedikit kaget ketika diminta untuk membuka turnamen golf. Apalagi, panitia turnamen, sempat tanya-tanya pada dirinya tentang olahraga golf.

” Saya ditanya, bapak sudah par berapa? Wah, saya bingung, par apa itu. Wong saya megang stik golf saja tidak pernah,” katanya.

Panitia turnamen yang mengundangnya, kata Tjahjo, sempat tak percaya jika dirinya sama sekali tak pernah main golf, bahkan buta sama sekali tentang olahraga tersebut. Ia pun kemudian menolak undangan itu. Cerita lainnya tentang golf kata Tjahjo, suatu waktu ia menginap di sebuah hotel yang dekat dengan lapangan golf. Manajemen hotel, mengira Tjahjo suka main golf. Maka disiapkanlah perangkat main golf. Dan Tjahjo pun ditawarkan untuk main golf. Tentu saja, Tjahjo kaget. Ia pun menolaknya.

“Saya bukan anti golf, tapi karena memang tak pernah main golf. Pegang stik saja belum pernah, apalagi main golf,” ujarnya.

Namun, kata dia, bukan berarti dirinya tak pernah bersentuhan dengan yang berbau golf. Kata Tjahjo, walau tak pernah pegang stik dan bermain golf, tapi dia sering naik kendaraan mini yang biasa mengantar jemput pemain golf atau biasa disebut golf car.

“Kalau naik kendaraan golf sering saya he.he.he,” ujarnya.

Dalam agenda kerjanya di IPDN, ada kisah menarik lainnya. Senin paginya, Tjahjo memimpin apel pagi di kampus penghasil birokrat tersebut. Apel dihadiri oleh para pejabat eselon I di lingkungan Kemendagri, Rektor dan pejabat di lingkungan IPDN. Sekitar 2900 praja IPDN juga ikut jadi peserta apel. Usai apel, digelar halal bihalal. Satu persatu peserta apel, menyalami Tjahjo dan para pejabat.

Ternyata, seluruh peserta apel pagi ikut acara salaman itu. Termasuk 2900 praja IPDN. Satu persatu mereka mengantri bersalaman dengan Mendagri. Dan acara salaman baru selesai, setelah barisan peserta apel habis.

“Wah ini rekor acara salaman nih, “ ujar Arief M Eddie, Kepala Biro Keprajaan IPDN, mengomentari acara salaman tersebut.

Tak lupa Arief memuji stamina Mendagri yang kuat berdiri menyalami ribuan praja. Menurutnya acara salaman itu sungguh punya makna. Sebab, lewat acara salaman itu, para praja merasa dekat dengan Mendagri.

“Pak menteri itu kan bapak para praja. Ini cara seorang bapak tetap dekat dengan anak-anaknya,” ujarnya.