Ucapan Duka Cita Seorang Adik Pada Kakaknya yang Mengharukan

1829
Ucapan Duka Cita Seorang Adik Pada Kakaknya yang Mengharukan
Ucapan Duka Cita Seorang Adik Pada Kakaknya yang Mengharukan

“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un (Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan pasti akan kembalikepada-Nya),”

kalimat Tayyibah itulah yang diucapkan oleh Muhammad Romahurmuziy, saat mengabarkan berita duka meninggalnya, salah seorang pakar hukum tata negara terkemuka di Indonesia, Fajrul Falaakh. Ya, Romahurmuziy pantas sangat berduka, Fajrul, dosen tata negara dari Universitas Gadjah Mada, (UGM) tak lain adalah kakak kandungnya.

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un. Telah wafat kakak kami tercinta, dosen Fakultas Hukum UGM, anggota Komisi Hukum Nasional, H.M. Fajrul Falaakh, di RS Harapan Kita, jam 13.10 WIB,” kata Romahurmuziy, lewat layanan pesan blackberry messenger.

Bagi Romy, demikian panggilan akrab dari Romahurmuziy, Fajrul tak sekedar kakak, tapi juga kawan diskusi, dan guru tempat bertanya. Pengetahuannya tentang ketatanegaraan, sudah tak diragukan lagi. Fajrul, adalah salah satu pakar yang kerap jadi referensi, ketika membedah persoalan ketatanegaraan.

Mas Rul Insya Allah Njenengan Husnul Khotimah” kata Romy.

Tidak hanya Romy yang merasa kehilangan dengan meninggalnya Fajrul.  Dosen Hukum Tata Negara UIN Syarif Hidayatullah, Ismail Hasani pun, mengaku kaget begitu mendapat kabar Fajrul meninggal. Indonesia, kata dia, telah  kehilangan sosok pemikir progresif yang sederhana. Dimata dia, Fajrul tak  pernah memandang kelas dalam berinteraksi. Fajrul adalah salah satu tokoh pemikir hukum tata negata yang berpikir di luar pakem positivisme hukum dan kekakuan praktik ketatanegaraan.

Pikirannya tercurah pada banyak artikel, hasil penelitian, dan kesaksiannya sebagai ahli di Mahkamah Konstitusi (MK) memberikan kontribusi bagi kemajuan ilmu hukum tata negara. Kita sangat kehilangan,” ujarnya.

Ia pun menceritakan interaksi terakhirnya dengan Fajrul. Saat itu, Fajrul menjadi ahli, ketika Setara Institute, lembaga lain tempat Ismail berkiprah, melakukan  riset 10 tahun MK, pada 2013. ” Makanya saya kaget begitu mendapat kabar, Mas Fajrul meninggal,“katanya.

Rasa kehilangan atas meninggalnya Fajrul, juga dirasakan Wasekjen  Partai Kebangkitan Bangsa, M Hanif Dhakiri. ” Selamat jalan Mas Fajrul,” ucap Hanif.

Dari silsilah keluarga, Fajrul datang dari keluarga pendidik. Ayahnya, KH. Prof. Dr. M. Tolchah Mansoer, SH, merupakan salah seorang  pendiri Ikatan Pelajar NU (IPNU). Tolchah juga pernah  menjadi anggota DPR-GR mewakili Partai NU DIY di zaman Orde Lama. Di PBNU, Tolchah, sempat menjadi Rois Syuriah organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut untuk periode 1984-1986. Di zaman orde baru, Tolchah pernah tercatat sebagai Guru Besar Hukum Islam di IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta.

Bersama Romy sang adik, Fajrul juga tak lain adalah  cucu dari  Menteri Agama ketujuh Indonesia KH. Muhammad Wahib Wahab.  Ibunya, Hj. Umroh Machfudzoh, adalah pendiri Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU), Ketua DPW PPP Yogyakarta periode 1985-1995, dan Ketua Umum PP Wanita Persatuan periode 1993-1998.

Fajrul lahir di Gresik Jawa Timur, 2 April 1959. Pada 1981, Fajrul mendapat gelar sarjana muda hukum dari Fakultas Hukum UGM. Lalu, pada 1983, ia meraih gelar sarjana hukum kenegaraan dari universitas yang sama.  Sementara gelar S2-nya ia raih dari London School of Oriental and African Studies, pada 1990. Dan, pada tahun 1997, Fajrul menggondol gelar  MSc dari London School of Economics and Political Science.

Fajrul pun kemudian berkarier di UGM, menjadi pengajar. Di almamaternya, Fajrul sempat menjadi  Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Hukum UGM periode  2001-2004. Kepakarannya dibidang hukum tata negara, membuat Fajrul kemudian diangkat sebagai anggota Majelis Dewan Kehormatan Pusat Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) sejak 2008. Sampai meninggalnya, Fajrul masih tercatat sebagai anggota Komisi Hukum Nasional RI sejak 2000.

Fajrul juga pernah menjadi salah seorang tim panitia seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi pada tahun 2007. Tidak hanya, Fajrul juga sempat masuk Senayan, menjadi anggota MPR pada tahun 2003-2004. Seperti ayahnya, Fajrul  juga aktif di PBNU. Bahkan ia pernah menjadi salah seorang Ketua PBNU antara  rentang tahun 1994-2004. Di era reformasi, Fajrul menjadi salah satu motor pendukung amandemen UUD 1945, bersama tokoh-tokoh lainnya, seperti  Bambang Widjojanto, Todung Mulya Lubis, Solly Lubis, Mochtar Pabotinggi dan lainnya.