Waduh, perusahaan Migas Chevron berencana PHK Sekitar 1.500 Karyawan Di Indonesia

1233

Kompas, perusahaan migas – Harga Minyak Dunia mengalami penurunan hingga 29,42 Dolar As per barel, anjloknya harga migas dunia ini mendesak pihak perusahaan Minyak dan gas melakukan berbagai upaya untuk bisa bertahan ditengah gejolak harga minyak dunia yang semakin merosot tersebut.

Perusahaan Chevron Indonesia
Perusahaan Chevron Indonesia – Foto via Liputan6.com

Salah satu upaya Pihak perusahaan untuk mempertahankan dirinya ialah berencana untuk Memutus hubungan kerja dengan para karyawan di Indonesia. Melansir apa yang disampaikan pada siaran kompas tv, menyebutkan kalau Perusahaan minyak dan gas Amerika Serikat , kususnya Chevron Indonesia berencana PHK sekitar 1.500 karyawan di Indonesia. Keputusan mengurangi karyawan adalah bagian dari efisiensi yang dilakukan Chevron Indonesia akibat dari semakin anjloknya harga minyak dunia hingga di bawah $35 per barel. Kabarnya juga keputusan PHK tersebut akan dilakukan kurang lebih setelah dua minggu kedepan. Melihat jumlah karyawan yang akan di PHK tersebut itu sudah menunjukan angka setara dengan seperempat dari Total karyawan Chevron Indonesia. Terkait isu ini pihak pihak manajemen Chevron Indonesia sendiri belum mau memberikan konfirmasi lanjut.

Yanto Sianipar, Senior Vice President, Policy, Government and Public Affairs Chevron Indonesia secara diplomatis menjelaskan, menghadapi perkembangan harga minyak global yang melorot, pihaknya tengah menjalankan sebuah inisiatif yang bisa mendongkrak kinerja bisnis perusahaan. Inisiatif tersebut bersifat jangka pendek, maupun jangka panjang.

Namun, Yanto tidak memberikan perincian langkah inisiatif yang tengah Chevron Indonesia jalankan.

Yang pasti, lewat inisiatif ini, Chevron mengklaim bisa mengidentifikasi model bisnis dan operasional yang lebih fleksibel dan kompetitif.

“Termasuk penyesuaian struktur dan ukuran organisasi yang bakal kami lakukan,” terang Yanto kepada Kontan, Minggu (17/1/2016).
Ia optimistis inisiatif ini bisa memastikan operasi Chevron di Indonesia akan berjalan sesuai rencana. Alhasil, perusahaan ini tetap bisa menghemat, tapi tidak akan mempengaruhi kinerja bisnis mereka di Indonesia.

“Tidak berpengaruh. WP dan B (work plan and budget) kami tetap,” timpalnya.

Asal tahu saja, harga minyak yang merosot membuat cukup banyak lapangan migas yang biaya produksinya sudah di atas harga keekonomian. Terutama untuk proyek migas lepas pantai (offshore).
Kepala Humas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Elan Bintoro menjelaskan, biaya produksi proyek migas lepas pantai saat ini memang cukup mahal yakni rata-rata sudah di atas 30 dollar AS per barrel.

Ia mencontohkan pada Blok West Madura Offshore (WMO), Blok Offshore North West Java (ONWJ), Blok Sinok, dan Blok Premier.

Menanggapi tingginya biaya produksi, Direktur Utama Pertamina Hulu Energi (PHE) R. Gunung Sardjono Hadi bilang, sebagai operator Blok Pantai Utara Jawa Barat (ONWJ) dan Blok lepas pantai Barat Madura (WMO), pihaknya mau tidak mau harus memangkas segala biaya yang tidak langsung berhubungan dengan produksi dan aspek kesehatan, keamanan dan lingkungan atau health, safety, security and environment (HSSE).

“Upaya kami yang lain adalah melakukan renegosiasi dengan provider,” katanya pada Kontan (17/1/2016).
Ia pun memastikan saat ini PHE belum akan mengambil langkah pengurangan pegawai. “Saat ini belum ada kebijakan untuk pengurangan pegawai,” ujar Gunung.

Berbeda lagi dengan strategi ConocoPhillips yang telah melakukan penawaran saham di Blok B Laut Natuna Selatan karena biaya produksi yang cukup tinggi. Sumber: Kompas.com