Wanita Berkerudung Hitam

1204

WANITA BERKERUDUNG HITAM

Cerpen ditulis dan dikirim oleh Amellya Aldem

Wanita Berkerudung Hitam
Ilustrasi Image – Wanita Berkerudung Hitam

Jam menunjukan pukul empat sore, seorang wanita yang telah menyandang status seorang istri dari pria yang bekerja sebagai pemburu berita kini sedang sibuk menyediakan hidangan makan malam untuk sang suami. Terpancar seyum nan penuh penantian di wajahnya, hari ini dia memasak menu khas betawi salah satu makanan favorit pria yang menjadi imamnya mulai terhitung sebulan yang lalu tersebut. Dan tak hanya menyiapkan hidangan makan malam wanita yang kesehariannya dipanggil None ini juga membersihkan seluruh sisi rumahnya sehingga bersih tanpa ada debu dikarenakan alergi suaminya terhadap debu. None sangat menikmati peranya sebagai seorang istri, terlihat jelas dari sikapnya yang selalu berusaha menjadi yang terbaik di kehidupan rumah tangga yang baru dibangunnya, karena hanya satu harapannya semua ini akan berjalan baik dari awal sampai akhir yang memisahkan mereka, tidak hanya Noni semua pasangan mengharapkan yang sama. Setelah semua pekerjaan rumahnya beres None pun bergegas membersihkan diri dan segera menuju halte yang berada di persimpangan yang tak jauh dari rumahnya. Di perjalan menuju halte para tetangga pun menyapa hangat dan Nonepun membalas dengan senyuman yang penuh kebahagiaan itu.

 
Kegiatan ini dilakukannya setiap hari dan para tetangga serta pedagang sekitar sudah terbiasa dengan keromantisan pasangan baru tersebut. Sesampai di halte None duduk disudut halte dan memesan sepiring rujak buah langganannya yang nangkring di area halte, “ini Non rujak dengan magga muda double nya” ujar si akang rujak, None pun menyantap rujak yang dia pesan setiap menunggu kepulangan sang suami. Waktu pun berjalan sepiring rujak yang disantap pun sudah habis tak bersisa, bus pun sudah terhitung enam kali berhenti di halte tersebut namun sang suami tak kunjung terlihat. None tak henti melihat jam berwarna merah yang terpasang cantik ditangannya yang merupakan hadiah atas calon buah hati yang dikandungnya, akang rujak pun menghampiri None menjeput piring rujaknya dan menerima bayaran sepiring rujak yang dimakan None, “udah gelap gini si mas belum pulang juga ya?” tanya akang rujak, “iya ni kang, ngak biasanya begini” jawab None dengan wajah khawatir. Tak lamapun petir pun bergemuruh yang menandakan akan hujan, None pun bergesas pulang dan memutuskan menunggu suaminya dirumah.

 
Sesampai dirumah None pun dikejutkan dengan sebuah pesan suara dari telpon rumahnya yang mengabarkan kabar duka kepadanya, kakinya yang terbiasa berjalan setiap hari menuju halte menanti kepulangan suaminya ini tak mampu menopang tubuhnya yang lemas tak berdaya, tak lama kemudian sang ibu dan mertuanya pun sampai dirumah mungil yang dihuninya tersebut memeluk erat tubuh None yang kaku tanpa irama, mulutnya tak mampu berkata dan matanya pun seolah tak dapat berkedip. Suatu kenyataan pahit yang harus diterimanya, tepat sebulan pernikahannya dia harus kehilangan suaminya akibat kecelakaan pada saat bekerja. Kini None hanya tinggal berdua dengan calon buah hati yang dikandungnya, sesekali ibu dan mertuanya pun menghampiri namun tak diperbolehkan tinggal bersamanya. Sang ibu harus menerima keputusan putrinya untuk tinggal sendiri dengan pilu hati yang sangat dalam, karena sang ibu percaya putrinya akan bangkit dengan caranya sendiri dan tak akan menyia- nyiakan apa yang berharga bagi dirinya.

 
Semenjak kematian suaminya None pun tetap melakukan kegiatan kesehariannya seperti saat masih ada keberadaan suaminya, mulai memasak, membersihkan rumah dan menunggu di halte setiap sorenya. Penduduk sekitar pun memahami kondisi None dan memberi dukungan moril kepadanya, para tetangga pun memperhatikan None dengan baik dan sang ibu pun selalu menjalin komunikasi dengan para tetangga untuk mengetahui kabar putri malangnya. Namun tak seperti biasanya hari ini None sudah duduk di halte pada pagi hari, jam pun baru menunjukan pukul lima pagi, matahari pun masih enggan memancarkan sinarnya, Noni hanya duduk terdiam membisu di sudut kursi halte, tak lama kemudian jalanan pun sudah dilewati oleh penduduk sekitar yang akan memulai aktifitas, hanya bingung dan terdiam yang mereka lakukan dengan melihat keberadaan None di halte tersebut tak satupun berani mendekati sang calon ibu yang malang, namun tak lama kemudian kondisi bisu ini pun bersuara ketika ada seorang pria yang sedang melakukan lari pagi melewati halte mendekati None “ tumben hari ini pagi sudah di halte?” dengan wajah iba pria ini bertanya. None pun hanya diam seolah tak mendengarkan pertanyaan pria yang ternyata teman satu sekolahnya ketika duduk di bangku SMA, sang pria hanya duduk disebelah None menantikan sepatah kata yang mungkin dilontarkan dan mencoba merasakan kepedihan yang dirasakan wanita cinta pertamanya, tak lama kemudian bibir None pun bergetar dan kepalanya pun mulai terangkat kokoh yang semulanya menunduk dan menatap pria tersebut dan berkata “ selama ini aku hanya menanti kepulangan suamiku namun hari ini aku akan mengantarkan kepergiannya”, kaliamat ini pun diucapkan dengan deraian air mata. 

 

Baca Juga Cerpen lainnya: Kecerobohan Menjadi Petaka

SHARE
Previous articleKecerobohan Menjadi Petaka
Next articleTernyata Bukan Kamu By Eka
Kirim tulisanmu ke lebahmaster.com - suarakan inspirasi dan aspirasimu yang bersifat membangun. jadikan setiap kata dalam tulisanmu penuh manfaat bagi banyak orang. Tulisan Sahabat adalah space khusus untuk memuat tulisan hasil dari aktivitas jurnalistik para sahabat pembaca yang dikirim ke lebahmaster, baik dengan mendaftar terlebih dahulu maupun dikirim ke email: redaksi@lebahmaster.com